Pembagian bantuan langsung tunai (BLT) menjadi masalah. Soalnya dibagi menjelang pemilu legislatif. Partai penguasa mendulang untung.
Ini terjadi di Gorontalo. Karena tidak memilih caleg dari salah satu parpol pada pemilu lalu, warga di tiga desa di Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, dicoret dari daftar penerima bantuan langsung tunai (BLT).
Jelas saja tindakan sewenang-wenang ini mengundang protes warga. Mereka mendatangi Kantor Kecamatan Sumalata untuk melaporkan kasus tersebut. “Kami dicoret sebagai pemerima BLT karena kami enggan memilih caleg tersebut, ” ujar Risno, salah seorang warga Desa Bulontio.
Tak hanya dicoret. BLT yang diterima seluruh warga di Desa Wubudu, Bulontio dan Bulontio Barat juga “disunat” oleh kepala desa masing-masing. Warga juga tak diberi kupon dan hanya menerima BLT melalui pemberitahuan aparat desa.
Ini adalah sepenggal kisah BLT sebagai pendulang suara partai tertentu. Wajar saja, Ketua Umum PDI Perjuangan sewot dengan bagi-bagi duit gaya sinterklas ini. Apalagi pembagian dilakukan menjelang Pemilu legislatif. Bukan hanya itu, pembagiannya pun dirapel untuk dua bulan: Januari – Februari.
Jadi, memang ganjil. Tapi, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, semestinya duit untuk si miskin ini dibagi Januari-Februari, tapi karena masalah teknis, baru Maret bisa diselesaikan.
BLT pada 2008 berlangsung selama enam bulan. Sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah menambah BLT dua bulan sehingga menjadi delapan bulan. “Kita sebenarnya mau konsep satu tahun. Tetapi DPR tidak setuju, DPR hanya setuju delapan bulan. Enam bulan di 2008 dan dua bulan di 2009. Ini diputuskan sebelum krisis,” ujar Wapres Jusuf Kalla.
Sejatinya, BLT merupakan kompensasi buat si miskin menyusul kenaikan harga BBM 2008 lalu. Pada saat itu, harga BBM naik rata-rata 28,7 persen. Kenaikan ini mendorong harga barang kebutuhan pokok juga meroket. Daya beli masyarakat pun melemah. Dampak selanjutnya, investasi merosot, sehingga jumlah pengangguran meningkat. Rakyat miskin semakin membengkak.
Anehnya pula, mengapa tiba-tiba BLT diberikan selagi harga BBM turun di 2009 ini? “Kini beda. Ini untuk memberikan kompensasi karena dampak krisis ekonomi,” katanya.
BLT dinilai bagus untuk transfer tunai pada saat krisis. Dana total untuk BLT yang dikucurkan Maret 2008 adalah Rp3,6 triliun. Dana sebesar itu untuk sekitar 18,5 juta KK. Pembagiannya per KK dapat Rp100 ribu sebulan.
Sejatinya, soal proyek bagi-bagi duit ini pemerintah sekarang memang paling jago. BLT hanyalah salah satu program saja.
Sekadar mengingatkan, untuk menekan angka kemiskinan pemerintah menempuh program tiga klaster:
Klaster pertama, selain program bantuan langsung tunai (BLT), pemerintah juga mengeluatkan bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin), jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), bantuan operasional sekolah (BOS) dan program keluarga harapan (PKH).
Klaster kedua, meliputi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri (PNPM-Mandiri) serta klaster ketiga, yaitu program kredit usaha rakyat (KUR).
Soal BLT, dilakukan pada Juni-Agustus 2008. Ini adalah tahab pertama. Rakyat miskin yang yang kebagian 18,8 juta KK senilai Rp5,7 triliun.
Lalu, penyaluran BLT tahap kedua terjadi September-Desember 2008 kepada 18,8 juta KK senilai Rp7,5 triliun. Angka ini 98,74 persen dari total rumah tangga miskin.
BLT tersebut disalurkan melalui PT Pos.
Menurut laporan Sekretariat Negara (Setneg), BLT berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat miskin. Tingkat konsumsi menjadi meningkat, bahkan, hebohnya lagi, konon 35,1 persen penerima BLT naik kelas dari kategori miskin menjadi tidak miskin. Lalu penerima BLT yang turun dari kategori tidak miskin menjadi miskin cuma 5,3 persen. Selanjutnya 8,1 pesen mereka yang tidak menerima BLT, turun kelas dari kategori tidak miskin menjadi miskin.
Kesimpulannya, tujuan program BLT untuk mempertahankan daya beli masyarakat miskin pada waktu pemerintah menaikkan harga BBM telah dicapai, begitu Setneg.
Sedangkan program raskin pada 2008 diberikan kepada 19,1 juta KK senilai Rp11,66 triliun Uang sebanyak itu dibelikan beras sebanyak 3,34 juta ton. Pada 2009 pembangian raskin dinaikkan menjadi Rp12,98 triliun untuk 3,32 juta ton dan diberikan kepada 18,5 keluarga miskin. Menjelang Pemilu legislatif lalu raskin yang disalurkan mencapai 822 ribu ton.
Sedangkan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) berupa Askeskin mencapai Rp4,584 triliun, sepanjang 2007. Pada 2009, dialokasikan Rp4,6 triliun peserta kepada 76,4 juta orang.
Lalu program BOS. Program ini diarahkan pada pencapaian sasaran wajib belajar sampai SMP untuk seluruh anak Indonesia. Selain itu, BOS juga diarahkan untuk menaikkan posisi Indonesia dalam Human Depelovment Index (HDI), yang saat ini berada di posisi 109 dari 179 negara.
Pada 2008, BOS yang disalurkan Rp11,9 triliun untuk 42 juta murid sekolah SD/MI/setara dan SMP/MTs/setara, serta Rp358,3 miliar untuk BOS buku. Dana BOS rata-rata per-siswa tingkat SD sebesar Rp254.000/murid/tahun, sedangkan untuk SMP sebesar Rp354.000/murid/tahun.
Pada tahun 2009, dana BOS per siswa tingkat SD/SDLB di kota sebesar Rp400.000/murid/tahun, SD/SDLB di kabupaten sebesar Rp397.000/murid/tahun, SMP/SMPLB/SMPT di kota sebesar Rp575.000/murid/tahun dan SMP/SMPLB/SMPT di kabupaten sebesar Rp570.000/murid/tahun. Saat ini BOS telah dilaksanakan dengan pencairan dana sebesar Rp2,39 triliun.
Sedangkan program PKH tahun 2009 telah ditetapkan sasarannya sebanyak 720 ribu rumah tangga sangat miskin. Pembayaran Tahap I direncanakan pada April-Mei 2009.
PKH akan menjadi tulang punggung program bantuan dan perlindungan sosial, dalam rangka menjalankan amanah Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional.
Nah, dari proyek bagi-bagi duit ini pamor pemerintah memang menjadi moncer. Jadi harap maklum bila akhirnya nama Susilo Bambang Yudhoyono tetap diminati untuk maju sebagai presiden lagi. Nah, siapa berani melawan BLT? Miftah H. Yusufpati
Prabowo berani melawan BLT..hihi…
Mega juga, JK-Wiranto duluan
Menurut ku BLT memang sangat dipolitisasi.
Lagian benarkah segala data yang dimunculkan sebagai efek dari DPT?
Source datanya dari mana?Independenkah?Metode penghitungan? kalo semua pemerintah yang melakukan kok rasa-rasanya seperti memuji pekerjaan sendiri..hihi..
Jadi jelas dampak utama BLT adalah politik agar Demokrat dan SBY menang..
Terus dulu itu BLT ide besar pak JK, saya hafal kebiasaan pak JK menanggapi kesusahan orang dengan uang cash…jadi BLT sudah bukan ide SBY dan Demokrat, tapi dipakai sebagai alat memenangkan..kasihan…Tetapi tetaplah..Lanjutkan! atau pilih yang baru saja?
BLT, Jakarta dibawah SBY semakin Gila, dan Makna “Kemerdekaan” Tu!
By Sydney Jones, pengamat Amerika bebas tinggal di tanah Indonesia
Beberapa masa lepas diadai seminar dan peluncuran buku berhubungan terorisme di UI di pinggir ibu negara Jakarta. Sampai di sebuah cafe di Jakarta malam hari, saya tertawa keras sangat sambil minum alkohol bersama satu ekolega saya yang juga merangkap mata mata. Event seminar tu diliput banyak media dan pastinya berhasil kembali membodohi bangsa ni lagi lagi. Sementara tu presiden SBY yang baru resmi dimenangi oleh KPU (Komisi Undi Indon), sebagai antheknya, ditugasi oleh Amerika Syarikat selalu berdusta. Kalau SBY malam lepas berkata dengan penuh percaya diri karena dikompor pegawai pegawai sekelilingnya supaya nak berkata lagi lagi bersuta bagi membangun Indonesia. Macam SBY, saya pun banyak berdusta atas nama penelitian di dalam event tu. Tetapi disini saya nak berkata bahawa awak awak sebagai stakeholders negeri ni tidak kritis, dan tidak menengok, macam mana SBY nak membuat kesejahteraan bagi awak awak, apabila dia hanya pandai berbagi bagi wang, dipeluk terlena oleh “penjahat-penjahat”, “oportunis-oportunis” di sekelilingnya. Bagi suatu kekuasaan disini, seorang presiden bangga sangat dan ekadar tahu bahawa perkataan “amanat rakyat” yalah sekadar perkataan, dan perkataan “kepercayaan” pun juga perkataan, yang boleh keluar dari mulut sesuka. SBY menengok ni semua bukan sebagai menjadi pelayan rakyat ataupun sehingga melayani rakyat dengan mensejahterai dan membangun fisikal berhaluan pro rakyat. Misal membangun pelbagai fasiliti termasuk banyak jalan raya dengan haluan pro rakyat, iaitu dengan selalu ada trotoar 3 m di sisi setiap jalan untuk pejalan kaki dan bersepeda. Tetapi tengoklah semua jalan dibangun asal asalan dan hanya boleh dilalu mobil sahaja dan tidak ada trotoar trotoar tu yang nyaman bagi bersepeda ataupun berjalan kaki, macam nilah stereotaip membangun di Indon. Sebab bagi penguasa di Indon yang tidak pernah ditantang sungguh sungguh oleh rakyat Indon yang bodoh bodoh tu, bagi penguasa, “dunia Indonesia tetaplah panggung sandiwara. Jadi macam mana rakyat yang jumlahnya besar sangat ni tidak mampu hentikan arogansi ni? Saya macam SBY pun turut bersandiwara. Obama pun telah pandai sndiwara, belajar dari SBY. Saya nak berkata kepada awak awak polis Indon senang berbohong dan ini direstui SBY. Saya dan CIA dah sedar bahawa polis senang membuat rekaan, entah sehingga ila mana, dan sekadar untuk perolehi dana percuma dalam jumlah besar bagi misi anti terorism seluruh dunia kerajaan Amerika Syarikat, dan ini semakin menjadikan Polis Indon berbohong terus rerusan dengan siasat siasat lain lain selepas semua kesalahan ataupun kejahatan kemanusiaan atas bangsa sendiri tu tercium banyak orang. Jakarta berbohong kepada Amerika Syarikat, dengan operasi operasi berbohong, menjenayah dan memmbunuhi penduduk sendiri tidak bersalah termasuk di sebuah rumah di Temanggung, Jawa Tengah. Semua ni kejahatan berat terhadap kemanusiaan oleh Negara di bawah SBY. Malang sangat, organisasi HAM tempatan dan juga internasional tidak kritis. Beberapa agen intelijen dan keamanan Barat dah tahu ni semua. Bila ditengok mendalam, sesungguhnya polis Indon dibawah SBY dah banyak melanggar HAM berat, atas nama UU. UU tu dibuat bertentangan HAM Uiversal dan mungkin juga dengan Konstitusi sendiri. Lebih teruk lagi, SBY berkata operasi tu tak melanggar HAM. Sedang berlaku “kemesraan” SBY dan Polis tu, untuk menindas lagi lagi rakyat Indonesia yang majoriti bodoh sangat. Bila macam ni situasinya, yalah terserah gerakan rakyat Indonesia sendiri bagi memasalahi ni semua. Tetapi banyak tokoh pesaing disini adalah penakut dan pengecut. Dan inilah kolonizing abadi oleh manusia bangsa sendiri yang dikendalikan sistem penjajah baru kami. Terbukti bukan? Masa lepas Indonesia dikolonaiz Belanda beratus ratus tahun, bukan? Dan sehingga hari ini diambilalih dikolonaiz SBY dkk, rakyat tak berkutik sama sekali. Apa yang berbeza? Tak. Sandiwara dan sikap oportunisme kami sebagai kaki tangan kaki tangan Amerika Syarikat, nak jalan terus. Pun sandiwara SBY. Rakyat telah kami buat tidur lagi dan lagi dan tak nak sedar dan tak nak bangkiti. Mereka tak ada kecerdasan sama sekali dan bahkan ikut membela penguasa. Maka tiada kemerdekaan sejati, melainkan hanyalah kemerdekaan “atas nama”. Ini lucu sangat kerana walaupun Indonesia mengklaim merdeka bahkan dah bermasa 64 tahun, masih kalah dengan Malaysia. Dan itulah yang membuat saya dan seorang kolega saya merayakan pesta malam tu. Tengoklah, Malaysia merdeka belakangan, baharu 52 tahun! Tetapi mereka dipimpin oleh pemimpin pemimpin sejati yang pro rakyat. Tak guna berharap Amerika Syarikat nak bantu macam masa gerakan reformasi lepas, dan tu tak nak pernah berlaku lagi. Washington tak lagi pernah campur tangan langsung lagi sebab rakyat Indonesia dah lemah sangat, sementara kami pun takut dengan Tiongkok dan Rusia. Jadi awak awak seagai mahasiswa dan sebagai stakeholders sesungguhnya di masa yang akan datang mustilah bangkit sendiri, berani menentang, melawan dan menjatuhkan presiden anthek kami tu. Kami dah pesankan ini, hai penakut dan pengecut. Sesungguhnya nyata sangat penipuan tu bukan? Dia mengklaim menang dari undi 8 Juli lepas yang sebenarnya tidak sah bukan? Undi tu tidak sah sebab dimenangi dari daftar undi tetap DPT undi presiden yang didasari dari undi parlimen sebelumnya, yang pun tak sah.