INDOPOS

Rabu, 02 Jan 2008,


Slogan Kian Tak Manjur, Diajak Rancang Gerakan
Manusia Indonesia kian banyak masuk neraka narkotika dan obat terlarang (narkoba). Selain generasi tua, lebih banyak generasi muda yang terpeleset narkoba. Kini BNN menggarap sekolah dan kampus untuk membangun benteng antinarkoba lewat Anti-Drugs-Campaign Goes to School and Campus.
——-

PERANG terhadap narkoba harus lebih sengit dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Yang paling anyar, BNN menggandeng Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Salah satu alasannya adalah banyak pengguna narkoba di dunia pendidikan, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Riset Universitas Indonesia menunjukkan, angka penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa sejak 2003 sampai 2006 meningkat dari 3,9 persen menjadi 5,3 persen , atau jumlah totalnya 1.037.682 siswa!

Ini lampu kuning, malah hampir merah. Satu generasi kita bisa terpangkas oleh bujuk setan narkoba. “Tentu kita tidak ingin terjadi lost generations. Makanya, harus sejak awal (pencegahan) dilakukan,” jelas Kepala Pusat Dukungan dan Pencegahan Narkoba BNN Brigjen Pol Mudji Waluyo di Jakarta (27/12).

Data penindakan pelaku narkoba milik Direktorat IV/Narkoba Bareskrim Polri pada kurun Januari sampai Juni 2007 ini memang menunjukkan bahwa polisi membekuk 78 orang yang berusia di bawah 15 tahun. Di antara jumlah tersebut, 61 orang adalah pengguna ganja. Lalu, yang berusia 16-19 tahun mencapai 1.526 orang dan 20-24 tahun 4.344 orang.

Inti kampanye program yang diberi tajuk Anti-Drugs Campaign Goes to School and Campus (Kampanye Antinarkoba Masuk Sekolah dan Kampus) itu adalah menyalakan alarm sejak dini. Jangan sampai generasi muda tergiur narkoba.

“Selain proses penegakan hukum, pemberantasan kejahatan narkoba ini harus benar-benar tegas dan tuntas. Kampanye antinarkoba juga harus terus dilakukan. Salah satu upaya pencegahan itu adalah melakukan kampanye antinarkoba yang bisa dipahami oleh masyarakat,” ujar.jenderal kelahiran Tulungagung, Jatim, itu.

Secara umum, program bertema bahasa Inggris itu nanti memanfaatkan unit-unit di sekolah dan kampus. Yakni unit kesehatan sekolah (UKS) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM). Di dalamnya akan dibuat tim yang akan fokus pada kampanye pencegahan narkoba. Juga ada ruang untuk konseling tentang narkoba. “Kegiatannya melibatkan guru dan purek III (pembantu rektor bidang kemahasiswaan) juga,” katanya.

Tahun 2008 ini, program tersebut akan dilakukan di sepuluh provinsi yang rawan peredaran gelap narkoba. Sepuluh provinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Tangah, Jawa Barat, Bali, Jambi, DI Jogjakarta.

“Ini berdasarkan tangkapan polda terhadap kejahatan narkoba,” kata perwira tinggi yang pernah bertugas di Malang itu. Kegiatan tersebut akan dikoordinasikan oleh Badan Narkotika Provinsi (BNP). Secara teknis, kegiatan tersebut dirancang oleh Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) dan Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas.

Kampanye ini penting. Sebab, memang tidak cukup hanya fokus pada strategi menakut?nakuti. Atau hanya slogan “Katakakan Tidak pada Narkoba”. Mudji mengakui, anak muda masa kini sering tidak serius menerima informasi tentang narkoba, bahkan tidak sedikit yang meragukannya.

Karena itu, program kampanye untuk remaja terpelajar tersebut akan diisi pesan menarik. Agar mereka peduli, isinya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi psikologi sasaran. Bahkan, mereka akan diajak terlibat langsung dalam merancang gerakan dan pesan kampanye.

Sebelumnya, BNN membuat memorandum of understanding (MoU) dengan Forum Rektor Indonesia dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia tentang Masyarakat Kampus yang Bebas Narkoba. Bahkan, beberapa kali Mudji Waluyo menyaksikan ikrar bersama maba (mahasiswa baru) di kampus-kampus yang menyatakan perang terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Kasubdit Kegiatan Kesiswaan Ditjen Mandikdasmen Depdiknas Muchlis Catio merentangkan tangan terbuka terhadap upaya BNN untuk masuk ke lingkungan sekolah dan universitas dalam memerangi narkoba. Di lingkungan pendidikan menengah, kata dia, kegiatan-kegiatan sejenis kampanye antinarkoba memang telah ada melalui kegiatan OSIS, UKS, dan PMR.

“Tentu, adanya kegiatan ini akan semakin memperkuat kegiatan-kegiatan siswa maupun mahasiswa yang sudah ada,” ujar Muchlis. Dicontohkan kegiatan di dalam UKS. Selain pelayanan kesehatan, di unit tersebut juga terkandung pendidikan kesehatan. Misalnya tentang HIV/AIDS, sanitasi, dan narkoba. “Juga ada kampanye lingkungan sekolah bersih,” imbuhnya.

Pemanfaatan UKS untuk kampanye oleh BNN itu, lanjut dia, sangatlah tepat. Alasannya, unit tersebut memiliki payung hukum yang kuat. Yakni surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, yaitu Mendiknas, Menkes, Menag, dan Mendagri. “Berfungsi tidaknya UKS juga menjadi bahan penilaian terhadap sekolah,” jelasnya.

Selain itu, kampanye antinarkoba di sekolah didukung oleh mata pelajaran yang diajarkan. Berdasar PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, terdapat lima kelompok mata pelajaran. “Salah satunya adalah mata pelajaran yang termasuk kelompok pendidikan kesehatan dan jasmani,” terang Muchlis. Hal itu masih ditambah dengan keterkaitan dengan mata pelajaran lain, seperti pendidikan agama dan biologi. “Jadi terintegrasi,” sambungnya.

BNN menggandeng banyak kalangan untuk merapatkan barisan perang antinarkoba. Pada 10 November lalu, BNN juga menandatangani MoU dalam rangka pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika dengan Jawa Pos.

Dalam MoU yang diteken Kalakhar BNN Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Direktur Jawa Pos Nany Wijaya itu, Jawa Pos menjadi official media sosialisasi pemberantasan dan pencegahan narkoba yang dilakukan BNN. Acara itu dihadiri Ketua BNN yang juga Kapolri Jenderal Pol Sutanto. “Kekuatan dari kampanye ada pada distribusi informasi,” tandas Mudji.

Secara regional, Indonesia masuk dalam negara-negara anggota ASEAN yang mendeklarasikan ASEAN bebas narkoba pada tahun 2015. (naufal widi a.r./roy)