Minggu, 20 Jan 2008,

Kolom Leak Koestiya
Ada sejenis pertunjukan yang harus kita yakini kurang baik mutunya, dari waktu ke waktu terus diulang, namun kita semua gagal memperbaikinya. Sebenarnya, ia cuma semacam adegan pendek, tapi sungguh aduhai memikatnya. Sebab, dari di situlah watak dan karakter asli kita jadi jelas terlihat: tak mau tahu artinya urutan, takut keduluan, suka main serobot, dan tidak toleran. Meski setelah menyerobot, tak jelas juga apa yang harus dilakukan. Semangat untuk sekadar menyerobot itu ternyata telah begitu menggiurkan. Sebagai kelakuan bersama, sungguh itu adalah sebuah adegan buruk rupa. Celakanya, kita terus mempertontonkannya tanpa kesan demam panggung dan rasa ragu sedikit pun. Pendek kata, kita telah terbiasa. “Kelakuan!” kata kita. Istilah kebudayaannya, ya, ini budaya kita! Kebudayaan tak mau menunggu dengan cara yang semestinya.

Jadi, di negeri yang konon secara kultural mewarisi sopan santun dan tepa salira tinggi, tapi sehari-hari yang kita dapati adalah antrean dalam bentuk bergerombol, bukan berjejer. Panggung adegan itu bisa ada di berbagai tempat. Depan loket penjualan tiket pertunjukan, pintu masuk ruang keberangkatan bandara, depan kasir swalayan, perempatan lampu merah, palang perlintasan kereta, dan lainnya.

Sampai seberapa parah kelakuan kita saat harus menunggu? Cobalah simak ilustrasi berikut sebagai deskripsinya. Seminggu lalu, sebuah kecelakaan terjadi tak jauh dari tempat tinggal saya. Sepasang suami istri yang baru seminggu menikah berboncengan sepeda motor hendak berangkat kerja. Di tengah jalan, mereka harus berhenti sesaat karena berpapasan dengan kereta api express yang relnya melintangi jalan raya. Karena melihat celah palang kereta cukup untuk dilewati, pengendara itu main terobos saja. Entah karena dorongan untuk tiba di tempat kerja tepat pada waktunya atau alasan lain, yang terjadi berikutnya adalah sebuah adegan maut. Sepeda motor tersenggol lokomotif kereta api, istri yang duduk di boncengan terpelanting. Kepala wanita yang mestinya sedang menikmati masa indah bulan madu itu pecah. Sementara sang suami, kakinya patah. Begitu singkat adegan itu, tapi dramatis.

Sejak Pak Harto masuk RSPP, kita telah dua minggu dibuat seperti sedang menunggu. Kebiasaan kita saat harus menunggu, yang menonjol adalah semangat berebut untuk saling mendahului. “Besok selepas subuh Pak Harto pasti mati,” kata kita di warung kopi seolah lebih tahu daripada Yang Maha Pemilik Hidup. “Hari Kamis,” kata yang lain. Koran dan televisi juga saling tidak mau ketinggalan. Dalam hal pemberitaan, mereka berlomba untuk saling tampil one step ahead. Selangkah ke depan dari sakitnya Pak Harto diartikan mati.

Sebuah harian yang terbit di ibu kota dengan enteng menulis judul besar-besar: Pak Harto telah meninggal, ayamnya berkokok semalaman. Beberapa stasiun televisi pun buru-buru menyewa rumah para penduduk di sekitar Astana Giribangun dan memboyong perangkat siarannya ke Karanganyar seolah-olah Pak Harto betul-betul mati minggu kemarin. “Liputan dari tepi liang lahat adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu,” pikirnya. O’oo kamu ketahuan… tertipu!

Seminggu terakhir, media massa memang telah mengerem nafsunya dari sikap yang cenderung terlalu itu. Surut dari ekspos seputar kuburan, lalu berangsur kembali pada porsi pemberitaan yang biasa-biasa saja.

“Memang, saya pun mendengar orang bicara bahwa belum juga saya mati, saya sudah membuat kuburan. Padahal, yang sebenarnya, kami buat kuburan itu untuk yang sudah meninggal, di antaranya ayah kami. Selain itu, pikiran saya menyebutkan, apa salahnya, toh akhirnya kita akan meninggal juga. Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain,” kata Pak Harto kepada G. Dwipayana, 20 tahun lalu. Tapi, kenapa kita sekarang jadi merasa repot dan sulit sendiri? Kru televisi mengemas kembali peralatan live-nya. Bahkan, bupati Karanganyar telah memperbaiki aspal jalan Solo-Matesih dengan cara kilat. Tebing rawan longsor dikepras dan ruas-ruas jalan berlubang disulap hingga mulus seketika. Dalam benak, pada hari-hari kemarin itu, jalan-jalan menuju makam bakal begitu sesak karena dilewati jenazah Pak Harto dan ribuan pelayat yang berjalan iring-iringan.

Meski tak lagi kentara, hingga hari ini pun sebenarnya semua media, baik cetak maupun elektronik, masih dalam kondisi siaga satu. Mereka berjaga menyiapkan stop press, siaran live, dan armada peliput lengkap dengan perangkatnya. Malam Minggu lalu, saya tak bisa pergi nonton midnight. Malam Minggu kemarin, ajakan nonton kembali saya tolak lewat SMS: sorry, not tonight, honey. Lagi piket, menunggu kesembuhan Pak Harto…

Saudaraku, sesungguhnya sekarang pun kita semua sedang berada di ruang tunggu yang sama. Yang tak pernah tahu, apakah Pak Harto ataukah kita dulu yang bakal mendapat panggilan dari-Nya. Tak perlu saling mendahului, semua pasti dapat giliran. Mari kita menunggu segala sesuatu dengan cara yang semestinya. (leak@jawapos.com)