SUARA MERDEKA
30/01/2008 05:36:17 BEGITU Astana Giri Bangun dibuka untuk umum, Selasa (29/12), ratusan peziarah dari berbagai penjuru langsung berdatangan untuk mendoakan arwah mantan Presiden Soeharto. Ada beragam ekspresi dari para peziarah saat bersimpuh di depan makam Pak Harto. Bahkan, ada salah satu peziarah yang sampai jatuh pingsan saat akan meninggalkan kompleks makam.
Dia adalah Najuan (72), warga Semarang yang mengaku pernah bertetangga dengan Pak Harto di Cendana. Dia datang bersama anak dan istrinya. Begitu bersimpuh di depan makam Pak Harto, Najuan tak henti-hentinya menangis saat memanjatkan doa, meski terus ditenangkan oleh sang istri. Puncaknya ketika selesai berdoa dan beranjak dari duduk simpuhnya, tiba-tiba dia pingsan. Petugas makam dan anggota TNI yang semula berjaga tepat di depan pintu Cungkup Argosari langsung memberikan pertolongan.
Para peziarah lain juga banyak yang tak kuasa meneteskan air mata saat bersimpuh di depan makam Pak Harto. Seperti yang dialami Kristin, peziarah dari Ponorogo Jatim. Begitu keluar dari Cungkup Argosari, dirinya langsung terduduk dan menangis sesenggukan.
Selain dikunjungi masyarakat umum, keluarga Cendana kemarin juga datang lagi ke Astana Giri Bangun, yaitu Siti Hardianti Hastuti (mbak Tutut), Siti Hediati Harijadi (mbak Titik), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (mbak Mamiek). Saat keluarga Cendana datang, pintu gerbang Giri Bangun ditutup sementara.
Dengan mata yang masih terlihat sembab, Mbak Tutut dan rombongan datang sekitar pukul 14.45 WIB. Begitu sampai di kompleks Astana Giri Bangun, mereka tidak langsung masuk ke Cungkup Argosari, melainkan menuju ke tempat transit yang jaraknya sekitar 30 meter. Di depan makam Pak Harto yang berdampingan dengan makam Ibu Tien, Mbak Tutut dan rombongan kemudian mengadakan doa bersama untuk arwah Pak Harto.
Sejak usai pemakaman ayahnya, mbak Tutut dan dua adiknya belum kembali ke Jakarta. Hingga saat ini masih tinggal di Ndalem Kalitan Penumping Solo. Setiap malam selama 7 hari, di pendapa Ndalem Kalitan diselenggarakan tahlilan dan pembacaan kalimah thoyyibah untuk mendoakan arwah Soeharto.
Pada Selasa (29/1) tadi malam, sekitar 1.000 orang mengikuti doa bersama di sana. Karena banyaknya yang hadir pendapa tak mampu menampung mereka, sehingga sampai meluber ke luar pendapa. Mbak Tutut juga sempat memberikan ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih kepada jamaah yang datang.
Mbak Tutut yang mengenakan busana dan kerudung serba putih duduk di bawah lukisan besar ayahandanya Soeharto yang dipasang berjejer dengan foto almarhumah ibundanya Ny Tien Soeharto. Di sampingnnya tampak Mbak Titiek dan Mbak Mamiek.
Dalam acara tahlilan yang digelar ketiga kalinya di Ndalem Kalitan itu KH Mohamad Washim Takmir Masjid Nurul Iman kompleks Ndalem mengajak para jamaah yang memadati pendapa Kalitan untuk membacakan Surat Yasin serta doa pengampunan untuk almarhum Pak Harto. (R-1/Hwa/Fie)-n