Kamis, 24/01/2008 09:10 WIB

BISNIS INDONESIA

oleh : Hendri T. Asworo

Jalan Cendana No. 8. Rumah mantan Presiden Soeharto. Malam itu hari ke-13 sang empunya dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Di kediaman Sang Jenderal Besar itu tak ada kegiatan yang berarti. Sekitar 10 jurnalis TV duduk di trotoar dan sesekali berdiri menanti sunyi.

Sejurus saya mendekat ke tukang kopi keliling untuk mencari kehangatan dengan memesan secangkir kopi. “Sudah sepi Mas, beda dengan Jumat malam lalu [11 Januari]. Puluhan, mungkin bisa ratusan wartawan di sini,” celetuk Nazaruddin Hidayat, 57, penjaja kopi.

Yang dia maksud ramai adalah ketika Soeharto kritis, sepekan lalu. Menurut dia, petugas keamanan juga banyak dan jalan sempat ditutup. “Tapi saya tetap bisa masuk, karena rata-rata sudah kenal dan mereka juga butuh minum kopi,” jelasnya sembari tersenyum. Sudah tiga tahun Nazaruddin berjualan di seputar Jl. Cendana dan sekitarnya. Bermodal sepeda onthel dan termos air yang ditaruh di jok belakang, tiap pagi pukul 06.00 dia mangkal di jalan itu. Siang dia pulang, dan malamnya keliling lagi sampai jam 24.00. Tak sedikit warga di lingkungan itu yang suka menikmati kopinya, termasuk penjaga rumah Soeharto. “Para petugas Pak Harto sering minum kopi,” ujarnya.

Dia mengaku terkadang melihat Soeharto berjemur di depan rumah. “Dua kali dalam seminggu, sebelum Pak Harto sakit, saya melihat beliau berjemur di halaman rumahnya, terkadang ditemani Mbak Tutut dan anaknya yang lain,” paparnya.

Semenjak Soeharto sakit, aktivitas rumahnya ramai. Terutama para jurnalis yang selalu standby bergiliran. Nazaruddin pun pulangnya semakin larut. Bahkan sampai pukul 04.00 dini hari untuk ‘menjamu’ mereka. Untung rumahnya tidak jauh, yaitu di Jl. Subang depan Masjid Sunda Kelapa.

Penjualan kopi Nazaruddin selama hampir dua pekan terakhir terdongkrak. Dari biasanya tiga termos, kini sedikitnya tujuh termos habis dalam semalam. Bahkan bisa mencapai 12 termos waktu Soeharto kritis, Jumat malam, pekan lalu.

“Siangnya tujuh termos, malamnya 12 termos. Istri saya hilir-mudik ngirim air. Sampai capek. Tapi lumayan buat ongkos anak sekolah,” kata bapak dua putri ini. Anak Nazaruddin yang pertama lulus SMU dan satunya masih kelas enam SD.

Bila satu termos bisa dijual 11 gelas kopi, dengan harga Rp2.000 per gelas, maka dalam semalam penghasilan Nazaruddin mencapai Rp154.000 hingga Rp264.000 jika sampai habis 12 termos. Itu belum termasuk penjualan rokok, minuman air mineral dan makanan kecil.

Dukun pijat

Sejam berselang saya ngobrol dengan Nazaruddin, datang Yoso Hadi Saputro, seorang dukun pijat. Dia mengajak berkenalan. Sembari jabat tangan dia berseloroh, “Mas ini [maksudnya saya] tidak bisa makan pedas dan makan juga tidak suka berkuah, tapi ada yang perlu dibenahi,” ujarnya.

Saya kaget. Pasalnya, apa yang dia sampaikan relatif benar. Meski saya masih terbengong heran, dia terus nyerocos menyampaikan bagaimana kondisi badan saya. Dari mulai ujung kaki sampai kepala. Apa pantangan makan dan apa yang harus dimakan.

Kemudian saya langsung tertarik untuk dipijat. Selain dia bisa menebak kesehatan saya, pijatan pertama di antara ibu jari dan jari telunjuk terasa enak. “Baik saya mau dipijit, berapa ongkosnya Pak?” timpal saya.

Yoso menjawab,” Rp25.000 saja, yah sekitar satu jamlah dipijitnya, dijamin habis itu badan terasa enak,” ujarnya.

Ternyata Yoso lebih dulu mengenal daerah seputaran Cendana daripada Nazaruddin. Dia mengaku sejak Soeharto masih menjadi presiden sudah hilir-mudik di daerah itu mencari sesuap nasi dengan memijat.

Namun, beberapa bulan terakhir dia jarang ke Cendana, karena sepi. Setelah penyakit Soeharto kambuh lagi baru dia berkunjung ke daerah itu. “Saya pikir pasti ramai dan banyak wartawan mangkal. Mereka pasti capek dan ingin dipijit.”

Nasib yang sama dengan Nazaruddin juga dialami Yoso. Pada malam Soeharto kritis dan beberapa hari setelahnya dia banyak menerima pelanggan. Dalam semalam bisa 13 orang yang minta dipijit.

Asas ada kesempatan dalam kesempitan pun dipakai Yoso. Dia menaikkan tarif dari semula Rp20.000 per orang menjadi Rp25.000 per orang. Sehingga dalam semalam dia bisa mendapat duit sekitar Rp250.000.

“Ya kalau sampai pagi bisa lumayan. Kadang saya sampai jam empat. Kadang sudah pagi. Tapi saya kalau pagi harus pulang,” kata lelaki dua anak asal Semarang yang juga kerja paruh waktu di sebuah restoran di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat ini.

Bagi Nazaruddin dan Yoso, sakitnya Soeharto adalah momentum tersendiri untuk mengais rezeki. Kendati mereka juga tidak berharap Sang Jenderal Besar sakit terus. (redaksi@bisnis.co.id)