Tanggal 31 Jan 2008
Sumber Harian Terbit

Harian Terbit,

BANJARMASIN – Kalangan pengusaha yang tergabung dalam organisasi Gapensi Kalimantan Selatan (Kalsel), merindukan dunia usaha seperti eranya pemerintahan soeharto.

“Era pemerintahan HM Soeharto, untuk memperoleh pekerjaan relatif agak mudah, karena banyak sekali proyek nasional yang dibiayi APBN berada di daerah,” kata Ketua Umum Gapensi Kalsel H. Aliansyah Effendi, di Banjarmasin, kemarin.

Menurut dia, jasa Soeharto yang tak bisa dipungkiri bagi perkembangan berbagai proyek nasional di daerah adalah terwujudnya jalan trans Kalimantan yang menghubungkan antara Kalsel dengan Kalteng atau antara Kalsel dengan Kaltim.

Trans Kalimantan tersebut begitu panjang bukan saja proyek jalan yang dikerjakan tetapi begitu banyak jumlah jembatan yang harus diselesaikan.

Belum lagi proyek pengairan dan perkantoran serta perumahan yang kala itu terus mengalir ke daerah yang memberikan sedikit “rezki” bagi usahawan lokal.

Keterangan lain menyebutkan Ide awal pembangunan jalan trans Kalimantan tersebut datang dari mendiang Presiden Pertama RI Soekarno yang ketika itu disebut “Proyek Jalan Kalimantan (Projakal)” yang terhenti ka-rena situasi dan kondisi kenegaraan pada 1965.

Saat Soeharto berkuasa pembangunan jalan trans Kalimantan tersebut berlanjut, dan dapat menghubungkan Palangka Raya, ibukota Kalteng dengan Banjarmasin, ibukota Kalsel yang pemungsian prasarana perhubungan itu ditandai dengan peresmian Jembatan Barito tahun 1995.

Jembatan Barito yang merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini atau sekitar satu kilometer lebih itu, merupakan saksi sejarah yang cukup monomental atas jasa dan perjuangan mantan Presiden Soeharto, sehingga hubungan masyarakat antara dua provinsi bertetangga atau bersaudara tersebut, kini berjalan lancar.

Sebelumnya bepergian, dari Banjarmasin ke Palangka Raya atau sebaliknya menggunakan angkutan air, seperti bus air atau naik speedboat dengan waktu berhari-hari sekarang ini hanya beberapa jam saja.

Atas kebijakan Soeharto, maka dana-dana pusat banyak mengalir ke daerah, sehingga usaha kontruksi di daerah begitu berkembang, dan gilirannya kalangan pengusaha juga dapat kebagian mengerjakan berbagai proyek tersebut.

Era Soeharto tersebut, selain proyek pembangunan begitu berkembang, harga-harga bahan bangunan sa-ngat murah, sehingga kalau mengerjakan proyek cukup menguntungkan.

Suasana usaha semasa era HM Soeharto sedemikian sangat dirindukan kembali oleh kalangan usahawan di Kalsel, agar usahawan kembali bisa “bernafas.”

Dibandingkan sekarang dimana berbagai harga terus membumbung naik apalagi bahan-bahan bangunan harganya kian melangit tentu sangat memberatkan kalangan usahawan.

Apalagi sekarang jumlah proyek sedikit, sementara jumlah perusahaan begitu banyak, akhirnya seperti memperebutkan sepotong roti oleh banyak orang. (ant/ntv)