Tanggal

31 Jan 2008

Sumber

Harian Terbit

JAKARTA – Mantan Menteri Lingkugan Hidup dan penasehat ekonomi pemerintahan Presiden Soeharto, Prof Dr Emil Salim, mengatakan Soeharto dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dia besarkan.

“Soeharto itu sangat percaya kepada para pembantunya (baik penasehat maupun menteri), hingga tanpa disadarinya dia mendapatkan masukan yang tidak jujur dan menyesatkan.”

Jadi, lanjutnya, kalau ada masalah dalam kebijakannya tak lepas dari beberapa anak buahnya yang gemar menomorsatukan istilah ABS (Asal Bapak Senang).

“Padahal, beliau belum tentu senang dengan laporan menterinya. Laporan ABS yang membuat kebijakan beliau di akhir jabatannya cenderung fokus ke industrialisasi/liberalisasi,” ujar Emil Salim di Jakarta, kemarin.

Menurut Emil, setelah tahun 1985-an atau usai prestasi swasembada beras, mulai banyak masukan dari menteri dan berbagai pihak perlunya memajukan industri. “Dari hal ini banyak interest [kepentingan] yang membuat Pak Harto tak punya pilihan untuk men-‘drive’ fokus pembangunan ekonomi pedesaan ke industri. Tapi saya paham beliau tak terlalu happy karena saya tahu hatinya selalu ada di desa dan pertanian,” paparnya.

Emil menegaskan, banyak pihak seharusnya jujur dan jernih menilai Pak Harto semasa hidupnya. Yang paling banyak disorot, kata dia, tentu soal korupsi yang didakwa dilakukannya bersama kerabat serta masuknya modal asing ke Indonesia.

“Harusnya jernih dan jujur. Di lima tahun terakhir era Pak Harto banyak menteri, pembantunya yang berbeda jauh usia sehingga timbul gap. Jadi lahir semacam sikap ABS-lah. Akhir-akhir itu, saya melihat mengapa Pak Harto tidak mendapatkan kebenaran penuh terhadap apa yang terjadi dari menterinya,” jelasnya.

Menurut Prof Emil, di masa-masa akhir sebagai Presiden, Pak Harto kurang mendapatkan masukan yang jujur dan baik sehingga berpengaruh pada kebijakannya. “Juga ada beberapa pembantu yang meninggalkan beliau karena berorientasi pendek,” katanya.

Soal kebijakannya yang salah, lanjut Emil, Pak Harto pernah menegur menterinya yakni soal devaluasi rupiah ketika situasi makro dunia tak terlalu bagus tahun 92-an.

Dia memaparkan dalam pidato nota keuangannya ke DPR, Pak Harto menegaskan bahwa pemerintah tak akan lakukan devaluasi rupiah, namun terjadi goncangan pada ekonomi. Kemudian, lanjut Emil, dirinya mengusulkan harus ada devaluasi namun tak didukung menteri lainnya dengan alasan sudah berjanji pada DPR untuk tak devaluasi.

“Lalu kami menghadap dan beliau marah. Menurut Pak Harto, seharusnya sebagai menteri, kami mengingatkan bukan karena dirinya sebagai presiden berjanji pada DPR lalu negara dan rakyat jadi korban. Begitulah Pak Harto, sangat ingin diingatkan kalau dia keliru.”

Apa yang diungkapkan Emil Salim ini dibenarkan pengamat politik CSIS, J Kristiadi. Dikatakan, pembusukan memang dilakukan oleh beberapa menteri dan orang-orang dekat Soeharto sebelum ia mengundurkan diri dari jabatan Presiden tahun 1998.

Namun, Kristiadi menolak memberi tahu rinci siapa yang melakukan pembusukan itu. “Jadi gak etis kalau sebutkan satu-satu karena pada akhirnya ketika kita melihat serangkaian kasus pasca lengsernya Soeharto, pembusukan itu menjadi orientasi jangka pendek oknum yang juga terorganisir untuk mengambil ancang-ancang melihat kondisi global yang juga melemah,” ujar Kristiadi.

Ia mengakui banyak pihak yang mengambil keuntungan di tengah kebijakan Soeharto yang dijalankan juga secara otoriter. “Otoriter gak bisa disalahkan karena ia memang militer. Ironisnya, lebih banyak orang-orang yang mendapatkan manfaat dari Soeharto daripada “menyelamatkannya” ketika ia dipaksa mundur oleh publik lewat DPR,” kata dia.(fen/ntv)