indopos

Minggu, 20 Jan 2008,

Kesibukan sebagai menteri, rupanya, tak cukup menyita waktu bagi Men PP Meutia Hatta. Buktinya, dia baru saja mendapat beban baru memimpin salah satu partai politik. Dia ditahbiskan sebagai ketua umum antarwaktu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Meutia menggantikan ketua sebelumnya, almarhum Jenderal (pur) Edi Sudrajat. Bagaimana visinya sebagai pimpinan partai?

Menurut Meutia, keberadaannya dalam struktur partai menjadi peluang untuk meneruskan perjuangan selama ini. Yaitu, mengampanyekan pemberdayaan perempuan di bidang politik. “Selain peluang, ini akan menjadi tantangan besar bagi saya,” ujarnya.

Dorongan agar memberi ruang yang cukup dalam partai politik bagi kaum perempuan tidak akan lagi hanya disuarakan dari luar. “Saya pastikan PKPI akan membuka ruang yang luas bagi perempuan,” katanya.

Hingga saat ini saja, menurut Meutia, partainya telah memiliki sekitar 34 persen perempuan di struktur kepengurusan tingkat dewan pimpinan pusat (DPP). UU Parpol yang baru selesai dibahas di DPR hanya mensyaratkan 30 persen keterlibatan perempuan dalam kepengurusan tingkat pusat.

“Pemenuhan kuantitas juga akan kami barengi kualitas. Jadi, tidak sekadar memenuhi kewajiban,” katanya.

Beberapa kader perempuan akan ditempatkan di sejumlah posisi strategis kepengurusan partai. “Pokoknya, saya akan mendorong semua laki-laki partai bisa menerima kaum perempuan,” tandasnya.

Dia juga berusaha mengubah secara perlahan kultur dan kebiasaan di partai yang selama ini memang lebih didominasi kaum laki-laki. Pertemuan hingga larut malam disertai asap rokok yang memenuhi ruangan merupakan pemandangan biasa dalam rapat-rapat partai.

“Saya juga lagi mencoba agar orang (pengurus PKPI, Red) jangan merokok, sebab saya nggak tahan,” ujarnya sembari tersenyum. Namun, dia menyadari bahwa upaya tersebut tidak akan mudah direalisasikan.

Menurut Meutia, secara sempit tantangan terberat dirinya adalah menghadapi kenyataan banyak aktivis partai yang juga perokok. “Biasanya sih saya yang menyingkir. Tapi, masak harus menyingkir terus,” paparnya. Kali ini dengan tertawa lepas.

Penetapan Meutia Hatta sebagai ketua umum antarwaktu DPP PKPI dilakukan dalam Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) IV di Jakarta, yang berakhir Minggu (13/1) lalu.

Istri ekonom Sri Edi Swasono itu akan memimpin partai yang tidak lolos electoral threshold (ET) pada Pemilu 2004 lalu tersebut hingga 2010.

Bagaimana tugas-tugas Anda sebagai menteri? Meutia berusaha meyakinkan bahwa tanggung jawabnya di PKPI tidak akan mengganggu kewajiban sebagai pembantu presiden. Selain Meutia, saat ini beberapa menteri di Kabinet Indonesia Bersatu juga menjadi ketua umum parpol.

Menurut Meutia, SBY telah mengizinkan dirinya memimpin PKPI. “Saya sudah memberi tahu beliau (SBY, Red). Beliau mengingatkan agar tetap bekerja dengan baik dan jangan sampai tugas sebagai menteri terbengkalai,” paparnya.

Saat itu, Meutia berjanji kepada SBY untuk tetap menjalankan tugas sebagai menteri dengan baik. “Sebab, menjadi menteri memang tugas negara,” ujarnya. (dyn/ib)

Data Pribadi

Nama: Meutia Farida Hatta Swasono

Lahir : Yogyakarta, 21 Maret 1947

Jabatan : Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, Kabinet Indonesia Bersatu

Suami : Prof. Dr Sri Edi Swasono

Anak: Tan Sri Zulfikar
Pendidikan: S-3, Antropologi Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia

Pengalaman kerja:
1. Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, 23 Desember 2003-sekarang
2. Ketua Jurusan D-3 Pariwisata Fisip UI, Jakarta, hingga sekarang
3. Ketua Umum Yayasan Hatta, 2002-2005
4. Ketua Umum Forum Konsultasi Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing, Departemen Sosial RI, 1995-sekarang
5. Peneliti tetap pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian UI, 1990-sekarang
6. Pengajar di jurusan Antropologi Fisip UI, 1984-sekarang

Jabatan Politik: Ketua Umum Antar Waktu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 2008-2010.