Haji Muhammad Soeharto telah berpulang kembali ke Rahmatullah, atau wangsul dateng ngarsanipun Gusti Allah, Minggu 27 Januari 2008 Pukul 13.10 WIB setelah beberapa lama menderita sakit. Pak Harto – demikian beliau biasa disapa – seperti juga manusia lainnya mengalami lahir, tumbuh berkembang kemudian meninggal dunia. Begitu lahirnya, begitu pula meninggalnya. Saat bayi lahir, orang-orang di sekitarnya penuh senyum kelegaan, sebaliknya ketika berpulang orang di sekelilingnya hampir dipastikan menangis. Itulah yang kita saksikan, Pak Harto kini bukan hanya ditangisi oleh anak dan cucunya, tetapi juga ditangisi oleh rakyat yang pernah dipimpinnya.

Sebagai wakil keluarga, Mbak Tutut dengan rendah hati memintakan maaf bapaknya atas kesalahan yang mungkin disengaja atau tidak kepada seluruh warga bangsa. Sebuah kewajaran dalam unggah ungguh dan tatakrama bermasyarakat, yang permintaan maaf itu ditujukan pasti bukan untuk mencari simpati tetapi sebuah ketulusan yang ada di setiap manusia. Maaf itu semoga bisa menjadi “sangu” dalam melancarkan perjalanan pulang kembali kepada Allah SWT. Seperti juga Pak Harto, kita pun yang masih hidup pada akhirnya akan ke sana juga. Setiap orang yang meminta maaf dan setiap orang yang memberi maaf pasti akan mendapatkan manfaat seberapa pun kecilnya.

Memberi maaf akan membuat kita lebih lega, dan tidak membebani hati dengan sesuatu yang muspra karena masing-masing tidak akan tahu kapan dan berapa lama masih hidup dan kapan kita dipanggil. Setiap orang pasti punya salah karena begitulah memang kedudukan manusia. Apalagi manusia yang secara kebetulan memiliki posisi sebagai pemimpin. Adalah tidak mungkin setiap pemimpin bisa membuat semua rakyatnya senang, karena keterbatasan yang selalu melekat pada diri manusia. Tetapi orang seperti Pak Karno, atau pun Pak Harto yang memang sudah ditahbis jadi pemimpin tahu benar risiko yang sewaktu-waktu datang menyapa. Dan, keduanya terbukti tegar dalam menerima ujian.

Keduanya tidak menangis ketika harus melepaskan baju kebesarannya, meski pun di saat yang sama ribuan bahkan mungkin jutaan mencercanya. Tetapi cobalah tanya kepada hati nurani, bagaimana seandainya bangsa yang besar ini tidak memiliki pemimpin-pemimpin yang besar dalam arti sesungguhnya seperti kedua beliau. Maaf, bandingkan dengan Jenderal Perves Musharaf yang meneteskan air mata “hanya” karena melepaskan baju kemiliterannya. Ketegaran Pak Harto ketika menghadapi cobaan dalam kehidupannya sungguh sebuah pelajaran berharga kepada bangsa bagaimana seharusnya pemimpin berani mengambil posisi mundur dengan mengatakan, ”ora dadi presiden ya ora patheken!”.

Pak Harto dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus diterima dengan penuh kewajaran dalam konteks kemanusiaan. Sebagai insan yang sama-sama memiliki agama dan kebudayaan tidak ada salahnya kita semua memberikan maaf. Meski maaf sebagai pribadi manusia itu tidak seharusnya memasuki wilayah hukum yang sedang berjalan. Biarlah hukum menentukan posisi berada di mana beliau. Serahkan kepada ahlinya untuk menentukan benar dan salah dan risiko yang harus ditanggung dalam proses peradilan perdata. Karena sebenarnya, ketika memasuki sakit di tahapan antara sadar atau pun tidak, pastilah Pak Harto berada pada posisi yang sangat lemah sampai kepergiannya,.

Setiap manusia Jawa, seperti juga Pak Harto, selalu berusaha untuk menghayati ajaran anteng (tenang, lepas, bebas tak terikat), mantheng (berkonsentrasi kepada Tuhan YME), sugeng (senang, gembira lahir batin), jeneng (tetap, mantap, tidak goyah). dalam mewayu hayuning negara lan bawana. Bahwa dalam jalan sejarahnya lalu ada benar dan salah, tepat dan atau tidak tepat pastilah terjadi pada setiap diri manusia. Kini beliau telah berpulang, wangsul dateng ngarsaning Gusti Allah, dan sebagai manusia beragama kita doakan semoga arwahnya diterima di sisi-Nya. Tuhan pasti tahu benar siapa beliau dan bagaimana pula amalnya selama di dunia. Selamat jalan Pak Harto….

Suara Merdeka, Selasa, 29 Januari 2008