Archive for Februari, 2008

Keharusan Akuntabilitas Dana Kampanye

INDOPOS

Senin, 25 Feb 2008,

Oleh Ali Masykur Musa

Berdasar temuan Lembaga Survey Indonesia (LSI), naik turunnya partai tidak an sich dipengaruhi modal dana yang dimiliki parpol. Tapi, lebih dari itu, kinerja dan citra publik parpol di mata masyarakatlah yang akan lebih menentukan partisipasi pilihan masyarakat atas parpol tersebut. Di satu sisi, masyarakat sudah semakin mengerti tentang literasi politik. Di sisi lain, masyarakat sudah jenuh dengan keuntungan sesaat, tapi berefek panjang karena ketiadaan pendidikan politik dalam pemilu.

Meski demikian, parpol mana pun pasti ingin mendapatkan pendulum suara sebanyak mungkin dalam pemilu. Atas dasar itu, ia tak segan-segan mengucurkan dana besar sebagai langkah memuluskan keinginannya. Kapitalisasi pemilu semacam itu memperbanyak catatan buram sistem kepartaian.

Karena itu, perlu pengaturan dana kampanye dalam pemilu, yang menyangkut dari mana dana pemilu yang diperoleh parpol dan bagaimana mengatur dana pemilu agar tidak terjadi kapitalisasi pemilu.
Baca lebih lanjut…

Bom Waktu BRR

Ada dua berita penting terkait Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, hari ini. Pertama, soal penyerahan aset BRR senilai Rp8 miliar kepada Pemerintah Aceh. Kedua, soal ambruknya sejumlah rumah bantuan BRR yang katanya tahan gempa di Simeuleu pada saat gempa belum lama ini.
Dua peristiwa yang sepintas berbeda akan tetapi menyangkut satu lembaga: BRR. Dua berita ini tentu saja punya korelasi. Mengapa?
Penyerahan aset BRR adalah acara seremonial yang layak dipublish untuk memberikan informasi pada khalayak bahwa lembaga super body ini mulai mewariskan aset-aset-nya kepada pemerintah daerah.
Kedua, tentang ambruknya rumah bantuan BRR, mengungkap bahwa aset-aset BRR ini perlu dipertanyakan kualitasnya. Rumah yang sudah ambruk jelas busuk, menyalahi blue print yang dibuat sendiri, dan yang belum ambruk bisa menjadi bom waktu bila ternyata juga busuk. Baca lebih lanjut…

Gempa dan Sodomi (2)

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Pukul 11.00 waktu Aceh. Hari Jum’at. Saya dan Bang Nash nongkrong di warung kopi, alih-alih menunggu salat Jum’at tiba. Soal gempa masih menjadi pokok bahasan.
Saya bercerita tentang hukuman terhadap kaum Luth yang dijelaskan Al-Qur’an. Allah mengutus beberapa malaikat untuk membinasakan kaum Luth yang berperilaku seks menyimpang. Hukuman yang ditimpakan adalah sambaran petir, membalik tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri lemparan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kaum Luth dan kotanya tinggal kenangan.
“Seluruh kitab suci yang diimani kaum Yahudi, Nasrani dan Islam memang menceritakan peristiwa itu,” kata Bang Nash. “Dan peristiwa itu memang benar-benar pernah terjadi.”
Bang Nash lalu bercerita tentang penelitian arkeologis mendapatkan kota Sodom yang semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth). Letaknya, terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. “Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati,” ucap Bang Nash, yang memang dikenal agak kutu buku ini.
“Lalu ada penelitian ilmiah kontemporer,” lanjutnya. “Hasilnya menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah.” Baca lebih lanjut…

Gempa dan Sodomi (1)

ini-miftah.jpgHaba Miftah H. Yusufpati

“Kenapa gempa bumi terjadi? Salah satu alasan adalah hal-hal yang mendapat legitimasi dari Knesset (parlemen), tentang sodomi.”

Itu adalah kata anggota parlemen Israel, Benizri dari partai ultra-ortodoks Partai Shas Yahudi. Terdengar menggelikan. Gaptek alias gagap teknologi. Anggota parlemen Yahudi menyalahkan kaum homoseksual menyusul gempa bumi bertubi-tubi melanda Timur Tengah belakangan ini.
“Masuk akal, nggak ya?” itu pertanyaan saya kepada Bang Zul saat ngopi bareng di Lambhuk, persis depan kantor kami.
Agar memperoleh jawaban yang pas, saya menjelaskan secara detail berita itu. Parlemen Israel gencar meliberalisasikan undang-undang mengenai kaum gay. Benizri menentang dan bilang: “Makanya, gempa bertubi-tubi.” Ini adalah berita dari news.com, akhir pekan lalu.
Sepekan terakhir, dua gempa bumi yang berasal dari Libanon mengguncang Israel. Gempa pertama terjadi hanya dua hari setelah jaksa agung memutuskan bahwa pasangan sejenis bisa mengadopsi anak.
Baca lebih lanjut…

Happy Ending Drama Penculikan

Seorang toke sawit diculik dan penculiknya meminta tebusan Rp5 miliar. Terjadi tawar menawar antara penculik dan keluarga korban sampai kemudian disepakati uang sebusan senilai Rp200 juta. Ini adalah kejadian sesungguhnya di sini, Aceh. Heriyanto, 30, warga Desa Alue Awe, Kecamatan Geurudong Pase, Kabupaten Aceh Utara itu diculik sejumlah orang bersenjata sejak Jumat, pekan lalu.
Drama ini berakhir happy ending. Penculik happy karena dapat uang tebusan, Heriyanto juga happy karena bisa keluar dari sarang penyamun. Memang, tidak seperti cerita dalam film-film laga versi Hollywood yang selalu mengalahkan para pencoleng itu. Cerita ini dimenangkan sang penculik.
Inilah episode lanjutan masa konflik dulu. Dan kasus ini bukanlah satu-satunya. Deretan kasus serupa sering terjadi. Aksi culik menculik ini dalam sepekan saja sudah ada dua kasus. Selain Heriyanto, penculikan juga terjadi pada diri Jamaluddin Daud,38, Mukim GAM Sawang, warga Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rabu (13/2) lalu. Beruntung Jamaluddin, yang hanya luka karena pemukulan saat disekap sang penculik. Ia berhasil lolos dari sekapan setelah memanfaatkan kelengahan sang penculik.
Kasus pertama murni perampokan dan soal uang. Sedangkan kasus kedua diduga bermotif balas dendam. Kasus kedua ini terjadi menyusul terbunuhnya Badruddin selepas keluar penjara bulan lalu. Badruddin ‘dihabisi’ dengan timah panas oleh orang tak dikenal. Kelompok Badruddin inilah yang dicurigai menculik Jamaluddin karena ia disangka sebagai orang yang dianggap tahu tentang siapa pembunuh Badruddin.
Ini cerita nyata Bung. Bukan film fiksi yang sering kita tonton di layar kaca bikinan Hollywood atau Bolywood. Kisah nyata ini belakangan sering terjadi di Aceh, terutama di wilayah Pase yakni Lhokseumawe dan Bireuen yang sejak masa konflik dianggap daerah paling ganas dan panas. Dua kasus tadi hanyalah contoh saja dari deretan kasus culik menculik di tanah rencong ini. Baca lebih lanjut…

Lebih Dekat dengan Gubernur Sumbar H Gamawan Fauzi SH MM

INDOPOS

Minggu, 16 Des 2007,

Tutup Pintu bagi Pejabat Korupsi
Sederhana, bersahabat, dan murah senyum. Itulah kesan yang langsung tertangkap saat berbincang dengan Gamawan Fauzi, gubernur Sumatera Barat (Sumbar). Dia adalah gubernur yang dipilih langsung rakyat Ranah Minang pada Juni 2005.

Mantan bupati Solok dua periode itu dinilai berhasil menata sistem birokrasi bagi terciptanya pemerintahan yang baik dan bersih di Solok. Gamawan berhasil menekan kerugian daerah akibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkaran birokrasi pemerintahan semasa menjabat bupati. Resep tersebut juga dia terapkan dalam menakhodai Sumbar.
Baca lebih lanjut…

Lebih Dekat dengan Kepala BPH Migas Tubagus Haryono

INDOPOS

Minggu, 10 Feb 2008,

Bertahap, Tak Akan Ada Lagi BBM Bersubsidi
Dalam sepekan ini, berita tentang rencana pembatasan konsumsi premium-solar menghangat. Rencana tersebut langsung memantik beragam reaksi karena terkait langsung dengan puluhan juta pemilik kendaraan bermotor, khususnya di Jawa dan Bali.

Salah satu institusi pemerintah yang membidani dan menggodok kebijakan itu adalah Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas Bumi (Migas). Bagaimana persiapan dan mekanisme pelaksanaan pembatasan tersebut? Berikut petikan perbincangan wartawan Jawa Pos Ahmad Baidhowi dan Iwan Ungsi dengan Kepala BPH Migas Tubagus Haryono di Jakarta kemarin (9/2). Baca lebih lanjut…