JAKARTA – Ketua BPK Anwar Nasution jualah yang mengorek kasus aliran dana tersebut. Doa yang melaporkan kasus aliran dana BI ini ke DPR.

Anwar yang pernah menjabat sebagai Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, yang melaporkan masalah itu ke KPK.

Padahal, Anwar juga tak jauh-jauh dari kasus ini. Dia ikut menandatangani berita acara rapat dewan gubernur yang mengeluarkan perintah bantuan dana ke pejabat BI, para lawyer, dan anggota DPR.

Seorang anggota parlemen mengatakan, peluang Anwar di pemilihan ini sebenarnya kecil. Sebab, karakter Anwar kelewat blakblakan, dan itu tidak cocok dengan selera Presiden.

Lalu, siapa lagi calon yang lain? Tentu saja ada. Seorang pejabat bank sentral mengatakan, dari dalam BI akan tampil Hartadi Agus Sarwono. Ia diibaratkan cadangan jika Burhanuddin tak lolos ke DPR. Hartadi juga dinilai memperoleh dukungan dari kalangan perbankan. Berapa nilainya? Ehm, tentu saja itu tak pernah jelas. Kini, Hartadi adalah Deputi Gubernur BI.

Ada juga nama Miranda Swaray Goeltom, Deputi Senior Gubernur BI. Syahdan, Miranda adalah kontak favorit IMF dan Bank Dunia di BI. Miranda juga dekat dengan Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum PDIP–partai dengan anggota terbesar di DPR. Kalangan bankir juga disebut-sebut mau mendukung Miranda untuk mendapat kepercayaan dari Presiden dan DPR.

Dari luar lingkaran Kebon Sirih, calon lainnya yang mungkin muncul adalah Agus Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri. Agus adalah Ketua Asosiasi Perbankan yang punya karir lengkap sebagai bankir. Namun, Agus dinilai “terlalu rasional” sehingga kurang akrab dengan para politisi di parlemen dan pemerintahan.

Yang menarik, Fraksi Partai Keadilan DPR dikabarkan akan mendukung Sri Mulyani Indrawati, yang kini menjadi Menteri Keuangan. Ini juga sempat muncul. Namun, di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang kurang sehat akhir-akhir ini, tampaknya Presiden akan mempertahankan Sri Mulyani di posisinya sekarang.

Namun, para ekonom senior yang dekat dengan IMF disebut-sebut amat sayang kepada Sri Mulyani. IMF memang sangat menentukan merah birunya perekonomian Indonesia selama empat dekade, sejak awal masa Orde Baru. Sri Mulyani juga mantan pejabat IMF.

Nah, kabarnya, ekonom senior dan patronnya di Amerika sana ingin Sri Mulyani selamat dari ancaman reputasi buruk gara-gara ada kemungkinan muncul resesi dunia tahun ini. Makanya, kader yang satu ini akan diupayakan untuk pindah ke posisi yang lebih aman: menjadi Gubernur BI.

Dengan begitu, gengsi Sri Mulyani bisa tetap terjaga. Kelak, ia bisa diandalkan lagi untuk memimpin sektor perekonomian di negeri ini. Toh, umurnya masih terbilang muda.

Sekarang, tinggal Presiden yang memutuskan.

Berikut curiculum vitae kandidat yang santer disebut-sebut sebagai BI-1:

Aulia Pohan
Lahir : Palembang, 11 September 1945
Pendidikan : MA dalam Ekonomi Studi Pembangunan di Boston University, Amerika Serikat
Karir awal di BI : Urusan Pengawasan dan Pembinaan Bank-Bank (1971)
Jabatan terakhir di BI : Deputi Gubernur Bank Indonesia (1999-2003)
Jabatan Saat ini : –
Hartadi Agus Sarwono
Lahir : Jakarta, 10 Agustus 1952
Pendidikan : Doktor ekonomi dari University of Oregon Amerika Serikat
Karir awal di BI : 1980
Jabatan terakhir di BI : Deputi Gubernur Bank Indonesia (2003-sekarang)

Sri Mulyani Indrawati
Lahir : Bandar Lampung, 26 Agustus 1962
Pendidikan : PhD of Economics di University of Illinois Amerika Serikat. ?
Karir : Dosen FEUI, Kepala LPEM FEUI, Direktur Eksekutif IMF. Menneg Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas, Menteri Keuangan
Karir di BI : –