JAKARTA – Pelbagai manuver menjelang fit and proper test Gubernur BI mulai bermunculan. Peluang Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah dipastikan sangat tipis.

Makanya, beberapa nama calon lain mulai terdengar. Besan Presiden dikabarkan akan ikut persaingan. Tapi, Presiden bukan orang yang berani menghadapi kontroversi.

Calon lainnya muncul dari kalangan internal BI. Nama Anwar Nasution dan Sri Mulyani juga mencuat. Restu IMF disebut-sebut. Sungguh ini akan menjadi persaingan yang amat ramai.

Yang pasti, jangan pernah mengabaikan dugaan kasus korupsi yang terjadi di BI. Sungguh, kasus itu sangat penting karena bisa membuktikan betapa bobroknya sistem pengawasan perbankan di Tanah Air.

Aulia Pohan tersenyum lebar. Badannya sedikit membungkuk ketika menyerahkan tiga buku karyanya sendiri kepada Kristiani Herawati, sang ibu negara. Kilatan cahaya kamera langsung menghujani mereka.

Kehadiran ibu negara pada acara peluncuran tiga buku yang ditulis Aulia, Kamis silam, mungkin tak kelewat istimewa. Maklum, mereka besanan. Menjadi luar biasa tatkala 17 Februari ini DPR akan menggelar fit and proper test calon Gubernur Bank Indonesia periode 2008-2013. Aulia dikabarkan merupakan salah satu calon yang akan dimajukan dalam uji layak pantas tersebut.

Betul, Presiden sendiri belum menyerahkan tiga nama calon Gubernur BI kepada DPR. Tapi, seperti yang biasa ketika terjadi pemilihan orang untuk mengisi posisi penting di negeri ini, spekulasi sudah merebak duluan. Apalagi, Gubernur BI saat ini, Burhanuddin Abdullah, terkena masalah hukum.

Burhanuddin dinyatakan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan gratifikasi, bersama dua pejabat BI lainnya, Rusli Simanjuntak dan Oei Hoey Tiong. Bahkan, Burhanuddin kini sudah dicekal oleh KPK.

Masalah yang menimpa pria asal Garut itu sontak membuat peluangnya untuk kembali duduk di takhta tertinggi di Kebon Sirih nyaris sirna. Terlalu riskan rasanya bagi Presiden untuk mengajukan lagi nama Burhanuddin. Kalaupun diajukan, dia akan terlihat amat lemah ketika menjalani uji layak pantas.
Jadi, lupakanlah Burhanuddin.

Lagi pula, memang perlu bagi KPK untuk mengusut tuntas kasus dugaan korupsi itu. Bank sentral terlalu penting untuk diisi orang-orang yang bermasalah.
Apalagi, uang yang dipakai korupsi itu, diduga, berasal dari “palakan” BI kepada bank-bank yang tengah mereka awasi. Itu menurut keterangan Gayus Lumbuun, Wakil Ketua Badan kehormatan DPR. Keterlaluan, memang.

Nah, setelah kans Burhanuddin menipis, melambunglah nama Aulia Pohan. Pria kelahiran Palembang ini menghabiskan seluruh karirnya di bank sentral, dengan jabatan terakhir sebagai deputi gubernur (2003).

Setelah itu, Aulia seolah hilang dari peredaran. Kemudian, dia berbesanan dengan Susilo Bambang Yudhoyono, sang kepala negara. Status sebagai besan Presiden itulah yang membuat nama Aulia kembali diperhitungkan.

Aulia sendiri agak jeri dengan fit and proper test yang digelar DPR. Justru, karena ia adalah besan Presiden. Status itu merupakan kekuatan sekaligus kelemahan baginya. Sebagai besan, ia akan dengan mudah dituding melakukan nepotisme ketika maju sebagai calon bos Kebon Sirih.

Presiden Yudhoyono juga bukan orang yang berani menghadapi kontroversi. Sedikit banyak, dia juga punya kaitan dengan masalah hukum yang menimpa Burhanuddin sekarang. Aulia Pohan ikut meneken surat agar Yayasan Pendidikan Perbankan Indonesia (YPPI), yang berada di bawah naungan BI, menyediakan dana Rp100 miliar untuk disebar BI ke para kuasa hukum pimpinan BI, pimpinan BI sendiri, dan sejumlah anggota DPR.

Kepentingan BI dengan DPR adalah untuk memastikan bahwa amendemen UU BI tidak membuat BI kehilangan fungsi sebagai pengawas perbankan. Fungsi yang sebenarnya sudah gagal diemban BI, sehingga menyebabkan krisis dahsyat sepuluh tahun silam.

Bahkan hingga kini, fungsi pengawasan itu masih kedodoran. BI memberikan izin bagi sebuah konglomerasi untuk memiliki bank. Dulu, konglomerasi itu adalah pemilik bank yang melanggar batas maksimum pemberian kredit (BMPK).
Lantas, ya itu tadi, BI ditengarai meminta “upeti” kepada bank-bank yang berada dalam pengawasannya untuk kemudian duit upetinya dipakai korupsi.
Aulia sendiri sudah dua kali dipanggil KPK untuk menjelaskan masalah itu–kendati ia belum dinyatakan sebagai tersangka. Ia juga keberatan jika dibilang sedang tebar pesona untuk menjadi BI-1.

“Ntar saya dibilang KKN. Berminat, sih, tidak. Cuma, kalau lillahi ta’ala orang ngasih (kepercayaan menjadi Gubernur BI), saya mau,” katanya.

Jelas sudah, Aulia mau. Dan ternyata, ia juga punya saingan kuat. Orang itu adalah Anwar Nasution, yang kini menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Anwar selalu memasang tampang galak bila ditanya tentang kemungkinan menjadi calon Gubernur BI.

Dia merasa jabatannya sekarang sebagai Ketua BPK lebih tinggi dari Gubernur BI. Anwar tadinya adalah Deputi Senior Gubernur BI. Sebelum masuk ke BI, Anwar pernah melontarkan ucapan bahwa BI adalah sarang penyamun. (Trust//rhs)