Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 01 Februari 2008 M / 23 Muharram 1429 H )

Oleh : Prof.DR.H. Bambang Pranowo, MA

Hari ini adalah hari Jum’at enam hari wafatnya presiden ke dua Republik Indonesia H.Muhammad Soeharto. Tentu banyak komentar tentang beliau tetapi sebagai orang beriman kita tentu tidak boleh mengungkit-ungkit hal-hal yang negatif tentang beliau tetapi marilah kita kenang apa yang telah dilakukan oleh beliau yang jasanya sungguh sangat besar bagi perkembangan agama Islam di negeri ini. Kita harus merenungkan kembali tuntunan Rasulullah sebagaimana tercantum dalam shohih Bukhari dalam Kitabul Jana’is

 :لاَ تَشُبُّوْا اْلاَمْوَاتَ فَاِنَّهُمْ قَدْ اَفْضَوا اِلَى مَا قَدَّمُوْا

Janganlah kamu mencerca orang-orang yang sudah meninggal karena sungguh mereka itu telah sampai kepada tujuan mereka” (HR.Bukhari). Sejalan dengan hadits ini, itu kita akan mengenang jasa-jasa beliau yang terkait dengan kehidupan beragama di negeri ini. Barangkali kita masih ingat masa-masa sebelum tahun 1965 ketika itu partai komunis sangat jaya, ketika  itu bangsa kita terkotak-kotak karena memang pada waktu itu konon Pancasila itu bisa diperas menjadi Tri Sila (tiga sila) dan tiga sila itupun bisa diperas lagi menjadi NASAKOM, Nas : Nasionalis, A : Agama, Kom : Komunis. Memang pelaksanaan dari NASAKOM ini menimbulkan dampak yang luar biasa tujuannya adalah untuk menyatukan seluruh elemen bangsa tetapi dalam praktek yang terjadi adalah terpecah-pecah bangsa kita apalagi umat Islam. Nasionalis yang pada waktu itu hanya semangat nasionalis milik partai nasionalis terutama PNI, agama seolah-olah hanyalah milik partai Islam khususnya Nahdatul Ulama, komunis adalah PKI. Karena golongan agama identik dengan partai Islam maka seolah-oleh mereka yang mendukung partai nasionalis bukanlah orang Islam apalagi mereka yang komunis. Umat Islam yang konon 90 % dalam prakteknya kemudian terpecah belah dengan nasionalis dan komunis tadi, apalagi yang terjadi pada tahun 1965 adalah makin merajalelanya kaum komunis yang memang dasarnya adalah anti agama.         

Kita ingat bagaimana lembaga kesenian partai komunis yaitu LEKRA dimana-mana menunjukkan teater/ketoprak/wayang yang sifatnya anti kepada agama bahkan suatu tempat di Jawa Tengah mereka berani mementaskan ketoprak dengan lakon “Matine Gusti Allah”. Di depan Pasturan Muntilan pusat agama Katholik mereka menggelar ketoprak dengan lakon “Sri Paus Gandrung”, dan di Jawa Timur teman-teman kita, adik-adik kita yaitu Pelajar Islam Indonesia yang sedang mengadakan traning di Kanigoro diobrak-abrik oleh kaum komunis dan al-Qur’an diinjak-injak pada waktu itu, puncaknya terjadinya peristiwa G30S/PKI yang kita tahu jendral kita dibunuh secara kejam oleh kaum pendukung G30S/PKI itu.           Siapakah yang kemudian berhasil menumpas kaum komunis itu tidak ada lain adalah TNI dibawah pimpinan almarhum H.Muhammad Soeharto. Tanpa kepemimpinan beliau yang tegas barangkali PKI yang pada waktu itu dikenal sebagai partai komunis terbesar di luar Rusia dan Cina itu sungguh akan sulit dihancurkan. Namun berkat kepemimpinan Pak Harto, partai komunis kemudian bisa dilumpuhkan dan kemudian kita tahu tema dari Pak Harto memerintah pada waktu itu adalah melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar ’45 secara murni dan konsekwen, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah orang yang tidak beragama atau tidak taat kepada agamanya akan merasa dituduh atau dianggap komunis, oleh karena itu Departemen Agama pada waktu itu kemudian menyelenggarakan apa yang disebut P2A (Proyek Pembinaan Agama) yang membina agama sampai ke desa-desa yang semula kantong-kantong pendukung partai komunis kemudian memperoleh pembinaan agama.                Sebelum tahun 1965 agama terutama Islam hanya untuk partai-partai Islam, desa yang disitu yang mendukung PNI ataupun PKI seolah-olah tidak lagi aktif menjalankan ajaran-ajaran Islam tetapi berkat tema melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen maka dengan sendirinya desa-desa yang semula tidak ada masjidnya kemudian membangun masjid secara beramai-ramai dan agama kemudian menyinarkan syiarnya kembali di desa-desa yang semula sepi dari syi’ar agama. Kita juga mencatat orang-orang di desa gontok-gontokan karena perbedaan partai dan kemudian ditetapkanlah apa yang disebut dengan kebijakan floating mass/politik masa mengambang. Kepengurusan partai hanya dibolehkan sampai tingkat dua / kabupaten dan apa yang terjadi selama 20 tahun orde lama pada waktu itu desa-desa terkotak-kotak berdasarkan partai politik tetapi dengan kebijakan floating mass maka kemudian masyarakat disatukan kembali dan akibatnya agama berkembang kembali di desa-desa. Dulu tidak terbayangkan sebuah desa yang mayoritas pengikutnya PNI sulit dibayangkan mengadakan Maulid Nabi, Isro’ Mi’raj atau Nuzulul Qur’an apalagi desa-desa yang mayoritasnya PKI tetapi berkat floating mass/kebijakan masa mengambang berkat tema pelaksaan Pancasila secara murni dan konsekwen kemudian desa-desa yang semula tidak ada kegiatan agama kemudian ada kegiatan keagamaan dan  akibatnya agama semakin semarak.          Ditambah lagi dengan adanya Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang tugas utamanya adalah membangun masjid di daerah-daerah yang sampai saat ini sudah sampai berhasil 966 masjid yang direncanakan tahun 2009 ini berjumlah 999 sesuai dengan Asmaul Husna maka masjid-masjidpun bertebaran dimana-mana. Kita masih ingat tahun ’70-an pejabat militer pejabat Korem, komandan Kodim kok rajin ke masjid itu termasuk aneh, jendral kok naik haji termasuk langkah aneh, tetapi berkat pembangunan spiritual yang bertemakan Pancasila tadi kemudian agama menjadi semarak pelaksanaan ibadah kemudian marak syiar Islam meningkat dimana-mana.          Seorang pakar sejarah Dr.Landcasser dari Australia 30 tahun yang lalu datang ke Indonesia mampir ke kantor LIPI (lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bertepatan dengan bulan Ramadhan kemudian apa yang dia lihat di meja-meja daripada karyawan ini, di bulan Ramadhan tetap ada kopi, ada teh, ada susu pada waktu itu 30 tahun yang lalu kantor suasananya masih sangat jauh dari agama, 30 tahun kemudian Dr.Landcasser datang lagi ke kantor LIPI kebetulan di bulan Ramadhan lagi dia geleng-geleng kepala tidak ada satupun meja yang disitu ada teh, susu atau kopi sekalipun yang bukan muslim mereka menghormati kepada yang berpuasa dan tidak ada kopi/teh di meja masing-masing, apa ini artinya? Artinya agama semakin diamalkan, Islam semakin marak, santrinisasi di kalangan birokrasi berlangsung sehingga di kantor-kantor kemudian ada masjid, tidak ada kantor yang tidak ada masjid sekarang ini sehingga ibadah sholat Jum’at kemudian menjadi wahana pembinaan pegawai-pegawai agar lebih dekat kepada Islam.          Itu adalah sekelumit yang bisa kita sebutkan dari jasa-jasa mantan presiden Soeharto, kita tentu tidak bisa melupakan jasa-jasa ini karena tidak terbayangkan. Bahwa sekarang ini kondisi kehidupan umat beragama khususnya Islam syiarnya semakin hari semakin meningkat tantangannya tentulah adalah bagaimana Islam yang sudah syiarnya meningkat ini semakin dilaksanakan secara aktual sehingga agama tidak lagi hanya ritual namun demikian kita tentu sangat bersyukur bahwa karena wahana untuk itupun semakin meningkat. Bisa dibayangkan madrasah yang ada di Cijantung milik Kopassus itu 20 tahun yang lalu siswanya 20 % saja yang berasal dari Kopassus kurang lebih 80 % berasal dari luar. Sekarang ini terbalik 80 % siswa madrasah di Cijantung itu adalah putra/i TNI kita dan 20 % yang dari luar inilah hal-hal yang patut kita syukuri dan kita kenang sebagai jasa pak Harto yang telah menciptakan iklim dimana Islam yang dulu seperti dipinggirkan kalau orang mengatakan santri seolah-olah orang yang kampungan yang sarungan yang terbelakang tetapi berkat santri birokrasi berkat pembangunan selama 32 tahun menciptakan kondisi kesejahteraan yang terus meningkat maka dikalangan santri itupun kemudian terjadi stabilitas vertikal yang sekarang ini di kantor-kantor manapun dan di instansi manapun kita menyaksikan maraknya pelaksanaan ibadah-ibadah ajaran Islam.     Kebetulan kami di Departemen Pertahanan kalau ada seorang Kolonel naik menjadi Jenderal tetapi sang Jendral ini beragama Islam belum haji maka sekarang ini rasanya belum genap rasanya, ada yang kurang kenapa saya sudah Jenderal kok belum haji ini adalah situasi yang tercipta berkat kepemimpinan dari almarhun pak Harto.

          Oleh karena itu dalam khutbah yang singkat ini mari kita kenang jasa beliau itu mudah-mudahan jasa-jasa beliau yang telah meletakkan dasar-dasar perkembangan agama Islam di negeri ini dapat menjadi tonggak untuk kemajuan Islam lebih lanjut dan mudah-mudahan amal beliau diterima oleh Allah SWT mudah-mudahan dosanya diampuni dan perjuangannya bisa diteruskan agar izzul islam wal muslimin di negeri ini terus tegak dan terus semarak.