Salahuddin Wahid
Pengasuh Pesantren Tebuireng

Kita berduka atas wafatnya Pak Harto. Kita sebagai manusia perlu memaafkan beliau dan mendoakan agar beliau khusnul khotimah. Tidak bisa dibantah bahwa beliau adalah tokoh besar bangsa yang penuh kontroversi. Menurut kamus Inggris-Indonesia John Echols dan Hassan Shadily, controversy adalah perdebatan, percekcokan. Artinya keberadaan, eksistensi, atau pengakuan terhadap Pak Harto sebagai salah satu presiden terbaik RI juga masih diperdebatkan.

Hubungan Pak Harto dengan umat Islam juga penuh kontroversi. Kita tentu ingat bahwa saat Pak Harto menunjukkan perubahan sikap terhadap umat Islam, dari yang terkesan memusuhi –paling minimal tidak bersahabat– menjadi akomodatif, cukup banyak yang berpendapat bahwa perubahan itu bersifat amat politis, karena Pak Harto membutuhkan dukungan umat Islam karena TNI terutama AD sudah mengurangi dukungannya. Apakah benar demikian?

Awal Orde Baru
Pada Pemilu 1971, Pak Harto dan birokrasi pemerintah termasuk ABRI mendukung sepenuhnya Golkar yang menjadi kekuatan politik pendukung pemerintah. Dukungan itu dilakukan dengan cara kasar. Banyak aktivis NU dan ormas Islam lain yang mengalami tindakan kekerasan dari aparat keamanan. Cara yang lebih halus ialah dengan membentuk GUPPI untuk menarik sebagian tokoh dan warga NU ke dalam Golkar.

Menurut saya, semua langkah itu dilakukan oleh Pak Harto dalam tujuan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Sebagai ahli strategi perang, maka politik juga dianggap sebagai peperangan sehingga dilakukan dengan cara yang mungkin tidak terpikirkan oleh para politisi. Kemenangan peperangan oleh Pak Harto diukur dengan keberhasilan mempertahankan Pancasila (tentunya dalam penafsiran beliau). Pemilu, penyederhanaan partai menjadi tiga, dan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi orpol dan ormas, adalah medan pertempuran (battle) dari peperangan (war) mempertahankan Pancasila. NU, Parmusi, PSII, dan Perti waktu itu masih memperjuangkan Piagam Jakarta, yang bagi Pak Harto dianggap membahayakan Pancasila. Maka, partai-partai Islam harus dikalahkan dengan segala cara, termasuk cara militer. Saya tentu tidak setuju dengan cara itu, tetapi harus diakui bahwa cara itu ternyata efektif.

Pak Harto tidak anti-Islam sebagai agama, tetapi menentang partai Islam. Walau demikian, tidak semua gagasan partai Islam ditolaknya. Kita perlu mengingat kembali proses lahirnya UU Perkawinan (UU No 1/1974), UU pertama yang memuat ketentuan syariat Islam secara tidak langsung. Tanpa persetujuan Pak Harto, UU itu tidak akan lahir. Saat itu Rais Aam Syuriyah PBNU, KH Bisri Syansuri, meyakinkan bahwa RUU yang diajukan pemerintah itu bertentangan dengan syariat Islam. Pak Harto dapat menangkap sepenuhnya argumentasi para kiai. Prestasi itu adalah karya agung pertama Pak Harto dalam mempertemukan Islam dengan Indonesia. Bung Karno pada akhir 1950-an tidak mampu untuk menggolkan RUU Perkawinan.

Setelah NU yang diikuti sejumlah ormas Islam lain menerima Pancasila sebagai asas organisasi, sikap Pak Harto terhadap ormas Islam termasuk NU secara berangsur berubah menjadi akomodatif. Peristiwa Tanjung Priok konon juga membantu perubahan itu. Kepercayaan beliau terhadap Benny Moerdani mulai berkurang. Ada kabar bahwa berkurang dan hilangnya kepercayaan terhadap Benny juga diakibatkan oleh keberanian Benny mengingatkan Pak Harto tentang kegiatan bisnis putra-putri Pak Harto.

Mendukung ICMI
Menjelang akhir 1980-an banyak yang mengatakan bahwa sebagian jenderal ABRI secara politis mulai kritis terhadap Pak Harto. Pada 1989, RUU Peradilan Agama disahkan menjadi UU, yang tentunya juga tidak akan terjadi tanpa persetujuan Pak Harto. Ini adalah karya agung kedua Pak Harto dalam upaya konvergensi Islam dan Indonesia. Kini kita melihat bahwa Peradilan Agama telah berdiri sejajar dengan peradilan lainnya.

Akhir 1990 Pak Harto merestui berdirinya ICMI yang nantinya menjadi ormas Islam pendukung Pak Harto. Selanjutnya Pak Harto mendukung berdirinya Bank Muamalat Indonesia sebagai bank syariah pertama di Indonesia, walaupun saat itu UU Perbankan belum mengatur adanya bank syariah. Tanpa dukungan Pak Harto, sulit bagi bank syariah untuk tumbuh seperti sekarang. Ini adalah karya agung ketiga Pak Harto bagi Islam di Indonesia. Kehidupan pribadi Pak Harto mulai pekat dengan nuansa Islam. Tahun 1991 beliau beribadah haji dengan keluarga. Kita juga perlu mencatat karya agung keempat Pak Harto bagi umat Islam yaitu upaya mendirikan begitu banyak masjid di seluruh Indonesia melalui YAMP. Beliau juga mendirikan Masjid At-Tiin.

Kabinet yang dibentuk pada 1993 dipenuhi oleh tokoh-tokoh ICMI dan jenderal yang dekat dengan (sebagian kelompok) Islam. Bagi kelompok non-Islam (agama) dan kelompok non-Islam (politik), kedekatan Pak Harto dengan ICMI bukanlah karena beliau ingin memajukan Islam tetapi lebih karena butuh dukungan umat Islam. Gus Dur adalah tokoh yang amat kritis terhadap Pak Harto sejak 1991 sehingga timbul friksi dengan Pak Harto. Banyak warga dan tokoh NU yang tidak mendukung Pak Harto secara politis pada saat itu, walaupun senang melihat Pak Harto secara pribadi menjadi Muslim yang taat. Cukup banyak juga tokoh NU yang mendukung ICMI, walaupun tidak mau tampil secara terbuka karena sungkan terhadap Gus Dur. Pak Harto memahami fragmentasi di dalam NU itu. Karena itu, Pak Harto tidak anti-NU, walaupun tidak menyukai Gus Dur.

Awal 1997, Republika memuat tulisan Pak Amien Rais yang mengkritik keras kebijakan Pak Harto di Freeport. Tulisan itu berujung pada mundurnya Pak Amien sebagai ketua Dewan Pakar ICMI. Sejak itu Pak Amien meningkatkan kritiknya yang menggulirkan gerakan reformasi yang berujung pada lengsernya Pak Harto.

Pascawafat
Setelah Pak Harto lengser, muncul empat presiden dan ternyata keadaan tidak membaik dalam masalah ekonomi. Memang, peraturan perundang-undangan di bidang politik sudah jauh lebih baik, tetapi perilaku para politisi tidak lebih baik. Sebagian rakyat merindukan kepemimpinan Pak Harto. Survei Lembaga Kajian dan Survey Nusantara (LaKSNu) menunjukkan bahwa 64 persen responden berpendapat era Orde Baru lebih baik daripada saat ini terutama di bidang ekonomi. Sebanyak 34,7 persen responden menyatakan bahwa Pak Harto adalah presiden terbaik RI dan Bung Karno terbaik kedua (28,4 persen).

Kalau kita lihat secara kasar, dalam menilai Pak Harto, terdapat tiga kelompok. Pertama, yang mendapat perlakuan amat buruk dari rezim Orde Baru seperti keluarga mantan tapol dan rakyat di Aceh serta Papua. Kedua, yang menjadi pengikut Pak Harto. Ketiga, yang tidak masuk keduanya. Yang memilih Pak Harto sebagai presiden terbaik adalah para pengikut Pak Harto seperti anggota Partai Golkar, PNS, dan TNI AD. Yang memilih Bung Karno sebagai presiden terbaik adalah para pengikut BK.

Yang menganggap bahwa era Orde Baru lebih baik daripada Era Reformasi adalah para pengikut Pak Harto, ditambah mereka yang bukan pengikut tetapi merasakan bahwa kondisi kehidupan era Orde Baru lebih baik. Yang menganggap era Orde Baru lebih jelek daripada Era Reformasi, adalah mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM dan sebagian besar mahasiswa. Mereka tidak mau memaafkan Pak Harto. Sisanya adalah mereka yang bisa melihat apa yang baik dari era Pak Harto dan apa yang tidak baik. Ada yang menganggap kebaikannya lebih banyak, ada yang menganggapnya lebih sedikit dan ada yang menganggapnya seimbang.

Saat beliau wafat, banyak warga di berbagai kota dan daerah yang menunjukkan simpati dengan berbagai cara. Umat Islam di banyak tempat mengadakan shalat ghaib dan menyelenggarakan tahlil bersama. Umat agama lain mungkin demikian juga. Tokoh-tokoh luar negeri juga berdatangan. Setiap koran menghabiskan belasan halaman pada edisi 28 Januari 2008 untuk memberitakan wafatnya Pak Harto. TV menyiarkan secara langsung berita kematian pada 27 Januari dan upacara sejak keberangkatan dari Jalan Cendana hingga pemakaman di Astana Giribangun. Rakyat yang memberi penghormatan terakhir kepada Pak Harto berkilometer panjangnya. Tidak ada pemakaman yang diliput sehebat pemakaman Pak Harto.