bapak-pembangunan-hm-soeharto.jpg

bapak-pembangunan-hm-soeharto.jpgSekitar pukul 13.30 WIB, salah satu mantan penguasa terbesar Indonesia; Moehammad Soeharto yang lahir pada tahun 1921 di Kemusuk, Yogyakarta dinyatakan telah meninggal dunia pada 27 Januari 2008. Sebagai orang yang berkuasa selama 32 tahun, penguasa terlama kedua di dunia setelah Fidel Castro ini banyak meninggalkan kesan di benak rakyat Indonesia, baik dan buruk tentunya.

banner-blog.jpg

Ia dikenal sebagai Bapak Pembangunan negeri ini. Teori Developmentalisme-nya mendasari tindakan pembangunannya. Sewaktu orde Soekarno runtuh negara berada dalam situasi ekonomi yang sangat gawat. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia per kapita yang saat itu sekitar $300, inflasi mencapai tiga digit pada periode 1962-1966. Pabrik-pabrik beroperasi hanya dengan kapasitas sekitar 20%, sektor-sektor publik kelebihan staf 30 hingga 40 persen, sementara utang dan defisit negara meroket.


Lebih dari itu, saat produksi beras tidak bertambah selama lima tahun, jumlah penduduk pun meningkat hingga 10 juta (McCawley: 1981), pada saat Indonesia dihadapkan pada kondisi seperti itu Soeharto mengambil alih tampuk pimpinan. Soeharto langsung melakukan terobosan dengan memperbaharui keanggotaan Indonesia yang pada masa Soekarno diputus. Ia lewat tim ekonominya kemudian meretrukturisasi kebijakan ekonomi dalam negeri dan juga ekspor-impornya.

Ia dianggap sebagai pahlawan oleh masyarakat Indonesia karena dianggap telah menyelamatkan Indonesia dari kehancuran dan huru hara yang terjadi pada 1966. Setelah dipegang Soeharto, Indonesia mulai membangun, beberapa rencana strategis ditelurkan lewat apa yang ia sebut dengan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Di awal pemerintahannya ia banyak dipengaruhi oleh para ekonom berhaluan nasionalistik. Sentralisme ekonomi atau juga yang dikenal dengan proteksionisme menjadi pilihan dari kebijakan ekonomi yang diambil, ideologi ini dominan hingga akhir 1970-an.

Pada bidang investasi asing langsung (FDI) yang pada 1968 hanya $3 juta, pada 1971 meningkat hingga $302 juta (Hill: 1988). Hal-hal yang dianggap bersinggungan dengan kepentingan publik dipegang oleh pemerintah. Bonanza minyak membuat Indonesia berada dalam “kemakmuran”.

Secara fisik, banyak gedung-gedung pencakar langit didirikan, ekonomi makro terus digalakkan, pengontrolan kelahiran yang di masa Soekarno menjadi masalah relatif dapat diselesaikan oleh Soeharto dengan program Keluarga Berencana (KB)-nya.

Awal 1980-an, kaum sentralisme mendapatkan saingannya dengan kaum ekonom lulusan Berkeley berhaluan liberalisme yang sudah tidak lagi memegang populisme kebijakan. Mereka lebih condong pada Teori Ekonomi Klasik yang mempercayakan ketahanan ekonominya pada kekuatan pasar. Liberalisme ekonomi menjadi kampanye yang diusung.

Soeharto sendiri saat itu menjadi sangat percaya pada tim ekonomi lulusan barat yang biasa disebut Geng Berkeley. Tahun 1980-an, Indonesia berhasil berswasembada beras, Indonesia disegani di Asia.

Sementara itu, kesempatan bisnis yang lebih besar telah menggiring anak-anak Soeharto memasuki dunia ini. Saat itu Bambang Trihatmojo, anak kedua Soeharto, memiliki 65 perusahaan, Tommy Soerharto yang saat itu baru berusia 20-an tahun sudah memegang 33 perusahaan, Mbak Tutut juga ikut serta memegang saham BCA sampai 32%, teman Soeharto seperti Bob Hasan mempunyai 110 perusahaan dan menjadi raja “perusak” hutan, Liem Sioe Liong pada 1989 tercatat menguasai 350 perusahaan. Sebuah kroniisme yang menjadi kontra produktif dengan pembangunan ekonomi yang sukses dibangun oleh Soeharto.

Di sisi lain, sejak tahun 1970-an, demi alasan stabilitas bangsa dan pembangunan, Soeharto mengambil keputusan kontroversial dengan menyederhanakan partai politik menjadi dua; PPP dan PDI dan satu golongan karya, tahun 1980-an Soeharto memberlakukan asas tunggal pancasila dalam semua lini di Indonesia yang banyak memperoleh penentangan berbagai ormas di Indonesia, setiap perlawanan dihadapi dengan senyum yang penuh dengan hawa misterius (minimal demikianlah menurut para oposan saat itu), PKI menjadi common economy yang ampuh sebagai senjata politik untuk menjatuhkan lawan politiknya sekaligus untuk menjalankan program pembangunan yang dikumandangkannya, Soeharto menjadi presiden yang sangat disegani, ditakuti, dicinta sekaligus dibenci oleh sebagian yang lain.

Ia memang banyak membangun fasilitas umum tapi tidak sedikit yang digusur paksa, ia banyak membuat sebagian rakyat Indonesia menjadi kaya tapi juga membuat sebagian yang lainnya semakin terjerembab dalam jurang kemiskinan, ia banyak membuat orang menjadi tertawa tapi sekaligus menjadikan yang lain menangis merasa tak punya asa hidup.

Pada tahun 1997, saat terjadi krisis ekonomi di Asia, Indonesia juga terkena imbasnya, bahkan krisis ekonomi ini menjadi multi krisis mencakup krisis politik, demonstrasi marak dilakukan oleh Mahasiswa dan rakyat di seluruh Indonesia, gedung DPR/MPR RI di duduki, rakyat mulai menjadi beringas dan menjarahi toko-toko, suasana menjadi sangat mencekam walau tak semencekam era 1966-an.

Saat itu orang-orang yang awalnya gigih berada di barisan Soeharto, berbalik meminta Soeharto mundur, dan setelah membentuk tim Sembilan yang di dalamnya ada Nur Cholis Madjid, Gus Dur, Cak Nur dan lain-lain akhirnya Soeharto memutuskan untuk mundur.

Kesalahan Soeharto dalam pandangan beberapa pengamat diantaranya adalah: ia terlalu percaya pada orang-orang di sekelilingnya. Padahal banyak dari mereka yang hanya menjilat Pak Harto demi kepentingan mereka, kesayangan pada anak-anak secara membuta membuat banyak dari mereka merasa seperti menjadi anak raja yang bebas berlaku apa saja.

Korupsi merebak bukan hanya di tingkatan pusat, melainkan juga menjalar hingga struktur paling bawah. Tentang hal ini ada seorang pengamat yang mengatakan, “Jika hanya Soeharto yang korupsi, bangsa ini akan tetap tegak. Tapi korupsi ditengarai terjadi pada semua tingkatan sehingga membuat bangsa ini lumpuh.” Dan yang tak kalah penting seperti dikemukakan Yudhohusodo; kesalahan Pak Harto adalah ia tidak tahu cara turun yang terhormat setelah ia tahu bagaimana cara naik.

Tapi apapun yang telah ia lakukan, itulah Haji Moehammad Soeharto, anak petani desa Kemusuk yang jadi Presiden Negara terbesar di Asia Tenggara. Semangatnya bisa kita teladani, kesalahannya bisa kita jadikan pelajaran bagi kita agar tidak terjerembab dalam lubang yang sama. Keberhasilannya dapat kita jadikan hikmah untuk melangkah lebih baik lagi. Selamat jalan, Pak Harto …. (Ihsan Maulana)

Nama : HM. Soeharto
Tempat/ Tanggal Lahir : Kemusuk, Argomulyo, Godean Yogyakarta, 08 Juni 1921
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jalan Cendana 8, Menteng Jakarta Pusat

Keluarga

Orangtua : Kertosoediro (Alm) dan Sukirah (Alm)
Istri : Siti Hartinah (Alm)

Anak

* Siti Hardijanti Hastuti
* Sigit Harjojudanto
* Bambang Trihatmodjo
* Siti Hediati Harijadi
* Hutomo Mandala Putra
* Siti Hutami Endang Adiningsih

Riwayat Pendidikan

* SD di Tiwir, Yogyakarta, Wuryantoro dan Solo (1929-1934)
* SMP dan Sekolah Agama, Wonogiri dan Yogyakarta (1935-1939)
* Masuk KNIL dan Mengikuti Pendidikan Dasar Militer di Gombong, Jateng (1 Juni 1940).
* Sekolah Kader di Gombong (2 Desember 1940)
* Masuk Kepolisian Jepang Keibuho (Mei 1943)
* SSKAD, Bandung (1959-1960)

Karier

* Menjadi Shodanco (Komandan Peleton) PETA di Yogyakarta (8 Oktober 1943)
* Menjadi Cudanco (Komandan Kompi) PETA setelah Mengikuti Pendidikan (1944)
* Kembali ke Yogya dan Membentuk Barisan Keamanan Rakyat (Agustus 1945)
* Dan Yon Brigade (1945 – 1950)
* Komandan Brigade Pragola Sub Teritorium IV Jawa Tengah (1953)
* Komandan Resimen Infanteri 15 (1953)
* Kepala Staf Teritorium IV Divisi Diponegoro (1956)
* Deputi I Kasad (1960)
* Ketua Komite Ad Hoc Retooling TNI – AD (1960)
* Atase Militer RI di Beograd, Paris dan Bonn (1961)
* Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat (1962)
* Panglima Kostrad (1963 – 1965)
* Pimpinan Sementara TNI – AD (1965)
* Panglima TNI – AD (1966)
* Ketua Presidium Kabinet Ampera (1966)
* Pejabat Presiden RI (1967)
* Presiden RI Hasil SU MPR (TAP MPRS No. XLIV/MPRS/1968 Masa Jabatan Pertama)
* Merangkap Jabatan Menteri Pertahanan dan Keamanan (6 Juni 1968)
* Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI (TAP MPR No. IX/1973 Masa Jabatan ke-Dua)
* Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI (TAP MPR No. X/1978 Masa Jabatan ke-Tiga)
* Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI oleh SU MPR (TAP MPR No. VI/MPR 1983 Masa
Jabatan ke-Empat)
* Terpilih Kembali sebagai Presiden RI pada 10 Maret 1988 Masa Jabatan ke-Lima.
* Ketua Gerakan KTT Non Blok (GNB) (1992-1995)
* Terpilih Kembali sebagai Presiden RI oleh SU MPR pada 11 Maret 1993 Masa Jabatan ke-Enam.
* Ketua Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bogor
* Terpilih Kembali sebagai Presiden RI untuk masa bakti 1998-2003 Masa Jabatan ke-Tujuh (namun mengundurkan diri pada 21 Mei 1998).

Penghargaan

– Bintang RI Klas I
– Bintang Mahaputra Klas I
– Bintang Jasa Klas I
– Bintang Dharma
– Bintang Sakti
– Bintang Gerilya
– Bintang Sewindu APRI
– Bintang Kartika Eka Paksi Klas I
– Bintang Jalasena Klas I
– Bintang Garuda
– Bintang Swa Buana Paksi Klas I
– Bintang Bhayangkara Klas I
– Satya Lencana Teladan
– Satya Lencana Kesetiaan
– Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
– Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
– G.O.M. I
– G.O.M. II
– G.O.M. III
– G.O.M. IV
– Satya Lencana Satya Dharma
– Satya Lencana Wira Dharma
– Satya Lencana Penegak
– Bintang Yuda Dharma Klas I
– The Raja of The Order of Sikatuna (Filipina)
– Grand Collier of The Order of Sheba (Ethiopia)
– Grand Collier de L’Order National de L’independence (Kamboja)
– The Most Auspicious Order of The Rajamitrabhorn (Thailand)
– Darjah Utama Seri Mahkota Negara (DMN) (Malaysia)
– Order Van de Nederlandse Leeuw (Belanda)
– Sounderstute des Grosskreuzes (Special order of the Grand Cross), Jerman
– Grand Cordone (Italia)
– Grand Gordon Order de Leopold (Belgia)
– Grand Croiix de Legion 1 honneur (Prancis)
– Groos Stern des Ehren Zeichens Feur Verdienste um die Republik Qesterreich (Austria)
– Tanda penghargaan Yugoslavia
– Satya Lencana Pahlavi (Iran)
– Grand Cordon of the Supreme Order of the Chrysanthemum (Jepang)
– Bapak Pembangunan RI
– Bintang Kehormatan Moogunghwa dari gerakan kepanduan Korea Selatan (1 Juli 1986)
– Penghargaan Medali Emas FAO (21 Juli 1986)
– Penghargaan Kependudukan PBB (United Nations Population Award – UNPA) (8 Juni 1989)
– Medali emas Uniesco Avicenna (Pendidikan) (19 Juni 1993).