Februari 8, 2008 pada 9:18 am (soeharto)
Selasa , 15 Januari 2008 , 15:15:42 wib

Achmad Subechi
BJ HABIBIE belum pernah bertemu mantan guru besarnya, HM Soeharto, sejak pemimpin klan Cendana itu jatuh 21 Mei 1998. Belum pernah sekalipun bertatap muka. Sepertinya persoalan besar membuat jurang antara sang guru dan bekas muridnya ini. Ada apa?

HABIBIE mengaku masih bingung dengan niat Soeharto mundur dari jabatan presiden. Dia tidak mengerti, dan juga bingung dengan nasibnya jika gurunya itu lengser keprabon. Namun dia tidak berani bertanya langsung.

“Beberapa saat saya diam, dengan harapan mendapat penjelasan mengenai alasan beliau mundur, serta beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran tersebut. Namun ternyata tidak diberikan.”

“Walaupun saya sangat memahami Ketetapan MPR mengenai kedudukan dan kewajiban presiden dan wakil presiden, saya terpaksa bertanya, “Pak Harto, kedudukan saya sebagai wakil presiden bagaimana?”

Pak Harto spontan menjawab, “Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai presiden,” jawab Soeharto. Jawaban itu membuat Habibie terkejut.

Ia bertanya dalam hati. Bukankah kevakuman dalam pimpinan negara dan bangsa tidak boleh terjadi? Jika Soeharto benar-benar mundur, apakah hal itu sudah sesuai dengan UUD ‘45 dan Ketetapan MPR?

“Bagaimana kedudukan saya, sebagai Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar tanpa pengganti? Begitulah, dalam suasana pertemuan yang tidak lazim, serta suasana di lapangan yang tidak menentu dan cukup mengkhawatirkan, muncul berbagai pertanyaan yang amat mengganggu pikiran saya,” kenangnya.

Untuk mengakhiri suasana pembicaraan yang tidak ‘kondusif’ itu, Habibie berusaha mengalihkan perhatian. Ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan.

“Apakah Pak Harto sudah menerima surat pernyataan dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan empat belas menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin?” Soeharto lalu angkat bicara.

Katanya, ia sudah mendengar kabar itu dari anaknya Mbak Tutut. Tetapi ia belum membaca suratnya.

“Kemudian Pak Harto mengulurkan tangannya untuk saya jabat, sebagai isyarat bahwa ia menghendaki diakhirinya pertemuan tersebut. Pak Harto memeluk saya, dan mengatakan agar saya sabar dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pak Harto juga meminta agar saya menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik.”

Sebelum meninggalkan Cendana, Soeharto kembali berpesan. “Laksanakan tugasmu dan
waktu tidak banyak lagi.” Dengan perasaan yang tidak menentu dan pikiran yang dipenuhi tanda tanya, Habibie meninggalkan Cendana.
***
WAKTU terus berjalan. Di dalam mobil –perjalanan menuju ke Kuningan– Habibie menugaskan ajudannya Kol (AL) Djuhana segera menghubungi semua menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin, dan meminta agar mereka hadir pada Sidang Ad Hoc Kabinet Terbatas di kediaman Habibie pukul 22.00.

“Dalam perjalanan dari Cendana ke Kuningan, saya panjatkan doa dengan bahasa yang tulus, dengan getaran hati dan jiwa, ikhlas datang dari hati sanubari saya. Tuhan, berilah Pak Harto kekuatan dan petunjuk mengambil jalan yang benar dalam memimpin bangsa Indonesia sesuai kehendak-Mu. Berilah Pak Harto, kesabaran dan kesehatan yang beliau butuhkan. Ampunilah segala dosa Pak Harto, yang sengaja ataupun tidak sengaja.”

Masih diwarnai ketegangan, Habibie kembali melantunkan doanya. “Oh Tuhan, saya tidak bertanya mengapa, kenapa, dan bagaimana, semua ini dapat terjadi. Karena saya berkeyakinan bahwa semua ada artinya yang sekarang saya belum memahami tetapi kelak saya ketahui. Jikalau saya diperkenankan memohonkan sesuatu, maka berilah saya kekuatan, kesabaran untuk menghadapi semuanya dengan tenang dan menyelesaikan semua persoalan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia dengan baik. Berilah saya petunjuk untuk mengambil jalan yang benar, sesuai kehendakmu. Ampunilah dosa saya.”

Sambil memanjatkan doa, Habibie mengaku merasa seperti dihipnotis. Ketika tiba di Kuningan ia disambut oleh salah seorang asisten Wakil Presiden Jimly Asshiddiqie. Lelaki itu mengajaknya menuju ke pendopo.

“Di pendopo, saya tergeletak duduk beberapa menit dan seolah-olah dalam keadaan trance. Kemudian saya masuk melalui ruang makan, di mana istri saya sedang membaca kitab suci Alquran. Di kamar tidur, setelah mengambil wudhu dan melaksanakan shalat, saya mengucapkan doa yang sama seperti di dalam mobil,” kenang Habibie.

Selain berdoa, BJ Habibie berulang kali membaca surah Al-Faatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas. “Sekitar pukul 21.45, istri saya datang ke kamar tidur untuk menyampaikan bahwa di pendopo semua menko dan banyak menteri hadir. Istri saya bertanya, ada apa?”

Di hadapan empat menko dan 14 menteri yang hadir di pendopo, ia menjelaskan bahwa Kabinet Reformasi telah dibentuk Soeharto dengan memerhatikan masukan dari Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar.

Esok harinya, 21 Mei 1998 Kabinet Reformasi akan diumumkan oleh Presiden Soeharto. Pada Jumat tanggal 22 Mei 1998, anggota kabinet akan dilantik di Istana Negara. Hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, Pak Harto akan menerima Pimpinan DPR/MPR di Istana Merdeka danakan menyatakan mundur sebagai presiden.

“Oleh karena beberapa menteri dari Kabinet Pembangunan VII masih dibutuhkan untuk duduk dalam Kabinet Reformasi, maka atas nama Pak Harto, saya mohon agar para menteri yang telah menandatangani pernyataan bersama tersebut dapat mempertimbangkan untuk menarik
kembali pernyataan mereka dan ikut memperkuat Kabinet Reformasi. Penjelasan saya menimbulkan diskusi yang hangat,” tuturnya.(xna)

JAKARTA semakin tegang! Gerakan mahasiswa yang menekan Soeharto agar lengser dari tahtanya tak bisa terbendung. Begitu juga elite politik lainnya yang terus bergerilya menyusun kekuatan untuk mendorong datangnya perubahan.

Sehari menjelang pengunduruan diri Soeharto, Wakil Presiden BJ Habibie meminta ajudannya segera menghubungi Soeharto. Habibie ingin berbicara dengan orang terkuat di negeri ini.

“Namun, sangat saya sayangkan bahwa Pak Harto ketika itu tidak berkenan berbicara dengan saya. Ia hanya menugaskan Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid untuk menyampaikan keputusan bahwa esok harinya pukul 10.00 pagi, Pak Harto akan mundur sebagai Presiden.

“Sesuai UUD ‘45, Pak Harto menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab kepada Wakil Presiden RI di Istana Merdeka. Pengambilan sumpah Wakil Presiden menjadi Presiden akan dilaksanakan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapan para Anggota MA,” kenang Habibie.

Mendengar penjelasan itu BJ Habibie mengaku terkejut. Ia ingin berbicara dengan Soeharto. Ajudan Presiden Soeharto menyanggupi akan mempertemukan Habibie esok paginya sebelum berangkat ke Istana Presiden.

Sejumlah menteri yang telah mengajukan surat pengunduran diri dan ketika itu masih berada di pendopo BJ Habibie, terkejut bukan kepalang.

“Semua terkejut mendengar berita tersebut. Kemudian saya meminta agar para menteri yang hadir, dan juga para Asisten Wakil Presiden yang berada di ruang sebelah pendopo, untuk memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.

Saya minta Jimly Asshiddiqie untuk memimpin doa. Istri saya juga diminta untuk hadir,” jelas Habibie.
***
Malam itu Habibie sedang memantau perkembangan situasi di republik ini dari internet. Tiba-tiba Kol (AL) Djuhana –ajudan Habibie– melaporkan bahwa Panglima ABRI Jenderal Wiranto mohon waktu bertemu.

“Saya belum bersedia menerima siapa pun, karena harus merenungkan keadaan tanah air yang sangat memprihatinkan dan sudah di ambang pintu revolusi,” tutur Habibie.

Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari ruangan yang gelap. “Pak Habibie, sudah hampir pukul 04.00 pagi dan Bapak belum tidur dan belum beristirahat, sementara acara Bapak sudah mulai pukul 07.00 pagi. Mohon Bapak beristirahat sejenak.”

Ruangannya sangat gelap, karena tidak ada lampu yang menyala kecuali sinar monitor komputer yang menerangi wajah saya. “Siapa yang berbicara?” “Siap… Kolonel Hasanuddin, ADC Bapak,” jawabnya sambil menyinari wajahnya dengan lampu senter.

“Mengapa Kolonel belum tidur?” “Siap, lagi dinas dan mohon Bapak istirahat sejenak,” jawabnya.

Baru sekitar pukul 06.45, ADC Kolonel (Udara) Iwan Sidi masuk ke ruangan dan melaporkan bahwa Pangab Jenderal Wiranto sudah siap menunggu di ruang tamu. Habibie lalu meminta ajudan agar mempersilakan Jenderal Wiranto menuju ke pendopo.

Pukul 06.50 sampai 07.25 Jenderal Wiranto melaporkan keadaan di lapangan yang tidak menentu dan gerakan-gerakan demo yang terus meningkat. Dalam kesempatan itu Pangab meminta Habibie memberikan pengarahan dan petunjuk.

“Petunjuk saya, rakyat diberikan kebebasan untuk berdemo, tetapi tidak dibenarkan merusak dan atau membakar. Fasilitas pengamanan Pak Harto sekeluarga yang sekarang diberikan agar tetap berfungsi seperti semula dan pelaksana pengamanan bertanggung jawab langsung pada Pangab. Saya tidak benarkan presiden menerima perwira tinggi ABRI, termasuk Kepala Staf Angkatan, kecuali bersama atau atas permintaan Pangab,” pesan Habibie.

Jenderal Wiranto juga melaporkan bahwa ia telah menerima inpres yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto untuk bertindak demi keamanan dan stabilitas negara jikalau keadaan berkembang menjadi chaos.

Bagi Habibie, nama Wiranto sudah tidak asing lagi di telinganya. Sebab, beberapa tahun sebelumnya Habibie pernah bertemu dengan Wiranto di Masjid Istiqlal ketika ia bersama
anggota Kabinet Pembangunan dan Pimpinan Lembaga Tertinggi Negara, duduk di lantai masjid sambil menantikan kedatangan presiden dan wakil presiden untuk melaksanakan shalat Id.

Ketika itu seorang pemuda berpakaian kemeja batik dengan sopan menyapa BJ Habibie dari belakang. Pemuda itu sambil berbisik, meminta BJ Habibie agar diperkenankan membantu Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI).

“Saya bertanya. Siapa Anda dan di mana Anda sekarang?” “Saya Wiranto, Pak.”

“Wiranto siapa?” “Saya Wiranto, dulu ADC Presiden dan sekarang ditugaskan sebagai Kepala Staf Kodam Jaya membantu Pak Hendropriyono.”

“Saya lalu menjawab, Insya Allah, iktikad dan niat Anda akan dikabulkan Allah SWT. Pada waktu itu, saya sangat terkesan dengan kejadian ini,” ungkapnya.

Seusai mengenang masa lalu, BJ Habibie kemudian bersama Wiranto menyiapkan pernyataan sikap ABRI yang akan dibacakan oleh Jenderal Wiranto setelah pengambilan sumpah presiden ke-3 RI oleh Ketua Mahkamah Agung di Istana Merdeka selesai.

“Saya tugaskan Pangab untuk langsung ke Istana Merdeka, sambil saya mempersiapkan diri untuk pergi ke kediaman Pak Harto, dengan harapan mendapatkan penjelasan dan jawaban mengenai mengapa dan kenapa semua ini terjadi.

Tetapi, kemudian saya mendapat berita bahwa Pak Harto ternyata belum bersedia menerima saya, dan saya dipersilakan langsung saja berangkat ke Istana Merdeka. Protokol dan ADC Presiden berharap agar pertemuan empat mata dapat dilaksanakan di Istana Merdeka,” kenang Habibie.

Didampingi Sintong Panjaitan, Ahmad Watik Pratiknya, Fuadi Rasyid, Jimly Asshiddiqie, dan perangkat pengamanan wakil presiden, sekitar pukul 08.30, ia berangkat ke Istana
Merdeka.

Ketika tiba di Istana, ternyata belum ada satupun pejabat yang hadir. Habibie dipersilakan duduk di ruang tamu berhadapan dengan ruangan yang dikenal sebagai Ruangan Jepara.

Beberapa saat kemudian, Ketua Mahkamah Agung Sarwata SH, dan para anggota Mahkamah Agung yang lainnya datang. Tak lama kemudian disusul pimpinan DPR/MPR.

Tatkala mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ajudan presiden mempersilakan ketua dan para anggota Mahkamah Agung masuk ke ruang Jepara.

“Saya langsung berdiri dan menyampaikan bahwa saya dijanjikan untuk dapat bertemu dengan Presiden Soeharto. Langsung ADC (ajudan) presiden kembali ke ruang Jepara dan hanya sekejap kemudian, ADC kembali hanya mempersilakan ketua bersama para anggota Mahkamah Agung masuk ke ruang Jepara di mana Pak Harto berada.

Saya merasakan diperlakukan tidak wajar dan menahan diri untuk tetap sabar dan tenang. Saya membaca beberapa ayat Alquran yang saya hapal,” jelas Habibie.

Setelah Ketua MA menghadap, ajudan Soeharto mempersilakan pimpinan MPR/DPR masuk ke ruangan Jepara bertemu Soeharto.

“Perasaan saya makin penuh dengan kekecewaan, ketidakadilan, dan penghinaan sehingga kemudian saya memberanikan diri untuk berdiri dan melangkah ke ruang Jepara ingin bertemu langsung dengan Presiden Soeharto. Namun, baru saja saya berada di depan pintu ruang Jepara, tiba-tiba pintu terbuka dan protokol mengumumkan bahwa Presiden Republik Indonesia memasuki ruang upacara. Saya tercengang melihat Pak Harto, melewati saya terus melangkah ke ruang upacara dan melecehkan keberadaan saya di depan semua yang hadir,” jelas Habibie.

Dicuekin Soeharto, hati BJ Habibie tambah sedih. “Betapa sedih dan perih perasaan saya ketika itu. Saya melangkah ke ruang upacara mendampingi Presiden Soeharto, manusia yang saya sangat hormati, cintai, dan kagumi yang ternyata menganggap saya seperti tidak ada.

Saya melangkah sambil memanjatkan doa dan memohon agar Allah SWT memberi Soeharto mengumumkan bahwa dirinya mundur dari kursi kepresidenan, 21 Mei 1998. Atas nama UUD 45, maka Habibie dilantik menjadi presiden. Filosofinya, seorang pemimpin harus berperilaku seperti mata air yang mengalirkan air bersih dan bergizi.

Sehingga semua kehidupan di sekitarnya dapat mekar dan berkembang. Sebaliknya, perilaku seperti mata air yang mengalirkan racun akan mematikan kehidupan sekitarnya.

Setelah menyampaikan pesan kepada bangsa Indonesia melalui TVRI, BJ Habibie menyusun kabinet. Setelah itu ia kembali masuk ke ruangan kerja di kediaman pribadinya di Patra Kuningan untuk memantau perkembangan situasi lewat internet.

“Melalui internet dan televisi, saya kembali memantau dan mendengar komentar dalam dan luar negeri mengenai perkembangan di Indonesia. Sementara itu, terus berkembang berita di dalam dan luar negeri bahwa saya tidak mampu bertahan lebih dari 100 jam.

Yang sedikit optimistis meramalkan bahwa saya tidak akan bertahan lebih dari 100 hari. Ada pula yang mempertanyakan, apakah kabinet dapat terbentuk? Apa konsep Habibie dalam menghadapi semua masalah yang serba kompleks dalam keadaan yang tidak stabil dan tidak menentu?

Saya dijadikan manusia yang tidak memiliki kredibilitas, karena berbagai pernyataan yang bernada menghina dan mengolok, menyinggung perasaan siapa saja yang mengenal dan berkawan dengan saya.”

Esok paginya, satu jam sebelum Habibie berangkat ke Istana Merdeka untuk mengumumkan nama anggota Kabinet Reformasi Pembangunan, nama Menhankam/Pangab akan ia berikan berikan kepada tim khusus yang mendapat tugas menyusun pidato pengantar pengumuman para anggota Kabinet Reformasi.

Jumat, 22 Mei 1998 pukul 06.10 WIB, Habibie menelepon Jenderal Wiranto dan menyampaikan bahwa ia telah memutuskan untuk memintanya tetap menjadi Menhankam/Pangab dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.

Sekitar pukul 07.30, Sintong Panjaitan masuk ke ruangan kerja BJ Habibie untuk memohon agar saya menerima Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR bersama Kas Kostrad Mayjen Kivlan Zen yang membawa surat dari Pangkostrad dan dari Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.

“Saya bertanya apakah perlu saya terima sendiri? Saya banyak pekerjaan dan bahan masukan yang harus saya baca dan nilai menumpuk. Saya meminta Jenderal Sintong (Letjen (Purn) Sintong Panjaitan) menerima surat-surat tersebut atas nama saya.

Namun, hanya beberapa menit kemudian, Sintong Panjaitan kembali ke ruang kerja saya dan menyarankan untuk menerima surat tersebut, namun saya tidak boleh melewati tanda yang sudah diberikan di pintu masuk.

Saya beranjak dari depan komputer berjalan didampingi Sintong Panjaitan ke pintu yang sudah ditentukan.

Di depan pintu tersebut, saya menerima kedua jenderal yang menyampaikan surat-surat yang segera saya baca. Setelah saya selesai membaca, kedua jenderal mengucapkan, mohon petunjuk.”

Dalam surat itu, Jenderal Besar Nasution menyarankan agar KSAD Jenderal Subagio Hadi Siswoyo diangkat menjadi Pangab dan Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto menjadi KSAD.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Habibie meninggalkan Patra Kuningan menuju Istana Merdeka didampingi Sintong Panjaitan, Ahmad Watik Pratiknya, Jimly Asshiddiqie, Gunawan Hadisusilo, dan Fuadi Rasyid.

“Saya memasuki Istana Merdeka dari pintu gerbang depan sebelah barat. Di depan tangga, Pangab Wiranto menantikan kedatangan saya dan memohon untuk diperkenankan melaporkan keadaan di lapangan, tetapi hanya empat mata.

Saya katakan bahwa saya tidak memiliki banyak waktu, karena sudah terlambat satu jam dan ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa saya tidak berhasil membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan. Saya persilakan Wiranto mengikuti saya ke ruang kerja Presiden di Istana Merdeka.”

Di ruang kerja Presiden, Pangab melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak menuju Jakarta dan ada konsentrasi pasukan di kediaman BJ Habibie di Kuningan. Begitu juga di Istana Merdeka.

Jenderal Wiranto mohon petunjuk. Dari laporan tersebut, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab. Habibie lalu melihat jarum jam yang ada di tangannya.

Kepada Wiranto ia memberikan perintah agar sebelum matahari terbit, Pangkostrad sudah harus diganti. Kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke kesatuan masing-masing.

Jenderal Wiranto bertanya, “Sebelum matahari terbenam?” “Saya ulangi, sebelum matahari terbenam!”

Jenderal Wiranto bertanya lagi, “Siapa yang akan mengganti?” Saya menjawab ringkas, “Terserah Pangab.”

Sebelum Pangab meninggalkan ruang kerja presiden, ia berpesan agar Ny Ainun yang ketika itu masih di Kuningan segera dibawa ke Wisma Negara.

Begitu juga Insana, istri Ilham, dengan Nadia dan Pasha (cucu Habibie), diterbangkan dengan helikopter dari Bandung ke Jakarta untuk bergabung.

Ilham yang sebentar lagi mendarat di Bandara Sukarno Hatta akan dibawa ke Wisma Negara. Sedangkan Thareq dan Widia istrinya sedang dalam perjalanan.

“Semua keluarga saya sementara akan bergabung di Wisma Negara. Saya bertanya, untuk berapa lama kami harus tinggal di Wisma Negara? Tergantung perkembangan keadaan, jawab Pangab.” Setelah itu Habibie mengumumkan nama-nama anggota Kabinet Reformasi Pembangunan.
***
Waktu terus berjalan. Pangab Jenderal TNI Wiranto menelepon BJ Habibie. Isinya, Wiranto mengusulkan Panglima Divisi Siliwangi dari Jawa Barat sebagai Pangkostrad.

Memerhatikan Instruksi Presiden agar pergantian Pangkostrad harus dilaksanakan sebelum matahari terbenam dan karena masalah teknis pelantikan Panglima Divisi Siliwangi barubisa dilaksanakan keesokan harinya, maka Pangkostrad sementara akan dijabat oleh Asisten Operasi Pangab Letjen Johny Lumintang.

Kepada Letjen Johny Lumintang akan diperintahkan untuk segera mengembalikan semua pasukan ke basis masing-masing sebelum matahari terbenam.

“Saya menyetujui usul Pangab untuk melantik Panglima Divisi Siliwangi, Mayjen Djamari Chaniago sebagai Pangkostrad esok harinya pada tanggal 23 Mei 1998. Usul untuk menugaskan Letjen Johny Lumintang agar menjadi Pangkostrad sementara juga dapat saya terima,” ujarnya.

Setelah pembicaraan dengan Pangab selesai, ADC melaporkan kepada BJ Habibie bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto minta waktu untuk bertemu.

“Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. Pak Harto yang telah memimpin negara dan bangsa selama 32 tahun, tentunya memiliki pengaruh dan prasarana yang besar dan kuat.

Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu dengan saya?

Menurut peraturan yang berlaku, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa senjata. Mereka sebelumnya diperiksa dengan alat-alat yang canggih. Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad.”

Bagaimana dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo juga akan diperiksa? Apakah pengawal presiden berani? Apa akibatnya jikalau Habibie tidak menerima Pangkostrad? Bukankah Pangkostrad memiliki hak untuk didengar pendapatnya?

Dialog adalah dasar untuk lebih saling mengerti dan pengertian adalah hasil dari dialog? Pengertian adalah awal dari toleransi. Toleransi adalah salah satu elemen dari perdamaian dan ketenteraman. Bukankah ini maksud tujuan reformasi? Perdamaian dan ketenteraman di bumi Indonesia?

Segudang pertanyaan itu terus berputar di kepala BJ Habibie. Akhirnya pertemuan antara Prabowo dan BJ Habibie terjadi. Pada saat Prabowo masuk ke ruangan BJ Habibie, ia melihat menantu Soeharto itu tak membawa senjata.

“Saya merasa puas,” kata Habibie. Saat berdialog dengan Habibie, Prabowo menggunakan bahasa Inggris. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo ketika itu.

Habibie lalu menjawab, “Tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti.” “Mengapa?” tanya Prabowo.

“Saya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka,” jelas Habibie. Mendengar penjelasan itu Prabowo memberikan klarifikasi. “Saya bermaksud untuk mengamankan presiden,” kata Prabowo.

“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab Habibie. “Presiden apa Anda? Anda naif?” tanya Prabowo dengan nada marah.

“Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie. Suasananya semakin tegang. Prabowo lalu mengajukan permohonan.

“Atas nama ayah saya Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” pinta Prabowo.

Habibie kemudian balik menjawab dengan nada tegas, “Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!”

Karena tetap ditolak, Prabowo kembali menawar. “Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya!” Habibie kembali tegas.

“Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja.”

“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya! jawab Prabowo. Lagi-lagi Habibie menunjukkan sikap kerasnya. “Ini tidak mungkin Prabowo!”

Pada saat itulah pintu ruangan terbuka. Sintong Panjaitan masuk dan mengatakan, “Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan.”

Saat diingatkan, Habibie malah meminta waktu kepada Sintong untuk meneruskan dialognya dengan Prabowo.

Kesempatan itu lalu dimanfaatkan Prabowo untuk meminta agar ia dapat berbicara melalui telepon dengan Pangab. “Saya tugaskan kepada salah satu ADC Presiden yang berada di ruangan untuk segera menghubungi Pangab.

Setelah menelepon ke Markas Besar ABRI, ADC Presiden menyampaikan bahwa Pangab tidak dapat dihubungi.

“Untuk kedua kalinya pintu terbuka dan Sintong Panjaitan mempersilakan Prabowo meninggalkan ruangan dengan alasan Gubernur Bank Indonesia sudah tiba dengan staf, bersama Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita. kekuatan, kesabaran, dan petunjuk untuk mengambil jalan yang benar,” tuturnya.

Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua Prabowo. Kemudian, saya didampingi anak saya, Thareq, meninggalkan ruang tamu untuk menengok istri, anak, dan cucu,” kenang Habibie.

Di mata Habibie, Prabowo Subianto adalah putra tertua dari keluarga yang sangat terhormat, sangat intelektual, dan sangat kritis. Bahkan, ayah kandungnya adalah salah satu idola Habibie sejak masih di SMA.

“Dedikasi Prabowo, begitu pula orang tua dan saudara-saudaranya terhadap bangsa dan negara, tidak perlu diragukan. Saya percaya bahwa itikad dan niat Prabowo untuk melindugi saya adalah tulus, jujur, dan tepat. Masalahnya itikad dan niat yang baik dan tepat itu dilaksanakannya tanpa sepengetahuan dan koordinasi dengan Pangab.

Kesimpulan ini saya ambil ketika Pangab melaporkan mengenai gerakan pasukan Kostrad. Dari laporan tersebut secara implisit dinyatakan bahwa tindakan Pangkostrad, tidak sepengetahuan dan dikoordinasikan dengan Pangab,” jelas Habibie.(xna)