Aceh bakal kaya raya. Melebihi Saudi Arabia, raja minyak dunia. Benarkah?
Kabar itu kencang menerpa seantero negeri ini menyusul diumumkannya hasil Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) yang menemukan adanya migas di perut bumi kawasan perairan timur laut Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh. Jumlahnya sungguh fantastis; 107,5 hingga 320,79 miliar barel.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pekan lalu lalu mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa tersebut. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu. “Kandungan migas itu luar biasa besar.”
Sebagai perbandingan, kini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.
Angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30 persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu yang mengandung migas. Meski demikian, belum tentu seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak.
Meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi awal keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang merupakan indikasi adanya gas.
Maka wajar adanya jika Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di antaranya, di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.
Hanya saja, kita perlu juga membuat perhitungan realistis. Misalnya, jika porositas diperkecil menjadi 15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal cadangannya masih 53,7 miliar barel. Jadi, tetap saja angka itu masih sangat besar.
Wilayah perairan Indonesia memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi mengandung migas. Hanya saja, masih banyak di antaranya yang belum teridentifikasi.
Hingga kini, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc basin yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan gas sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah. Kebanyakan berada di sebelah barat Sumatera.
Persoalannya sekarang, negeri yang kaya ini, sekali lagi, terkendala masalah pemanfaatan kekayaannya itu. Di sisi lain, Indonesia kini masuk sebagai negeri net importer minyak dan pada tahun ini menghadapi ancaman tingginya harga komoditas tersebut sehingga harus menyubsidi sampai Rp 240 triliun, bila subsidi tak segera dicabut.
Memang untuk menyedot minyak dari bumi tersebut tidaklah murah. Dana untuk mengkaji lebih teliti terhadap kandungan minyak konon USD 7 juta, sedangkan untuk mengetahui angka cadangan migas, perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya pengeboran satu sumur, sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD427 juta. Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya jauh lebih besar.
Karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman lebih dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang belum tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni perusahaan asing.
Kini yang harus segera dilakukan BPPT dan pemerintah adalah koordinasi. Kendati lapangan migas tersebut paling cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan, pemerintah harus bergerak cepat. Jangan sampai potensi ini salah urus. (*)

Tajuk 18 FEBRUARI
18 Februari 2008
Ditulis Miftah H. Yusufpati
Redaktur Pelaksana