Hari ini dan besok gema takbir dan tahmid mengumandang di jagad raya. Idul Adha telah tiba. Bagi warga Aceh, Idul Adha adalah hari yang sakral. Lebih dari pada itu di hari ini umat Islam Aceh dan seluruh dunia kembali diingatkan agar bersikap ikhlas dan sabar dalam berkorban.
Keihlasan dan kesabaran sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan yang penuh gangguan dan tantangan. Idul Adha adalah sebagai wahana intropeksi dan refleksi diri umat Islam.
Tentang berkorban, rakyat Aceh tampaknya sudah mengamalkan dengan baik. Bahkan pengorbanan lebih luas, berkorban untuk bangsa, berkorban untuk agama telah dilakukan dan dibuktikan rakyat Aceh.
Kini di hari ini, rakyat Aceh dan seluruh umat Islam, kembali memperingati Hari raya Idul Adha atau hari kurban. Peringatan Idul Adha dengan melakukan penyembelihan hewan kurban oleh umat Islam merupakan upaya merunut sejarah Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail dalam mentaati perintah dan ujian dari Allah. Idul Adha yang juga disebut Idul qurban memiliki arti mendekatkan diri dan rasa keikhlasan menerima ujian dari Allah.
Mengingat perintah Allah kepada Nabi Ibrahim itu, umat Islam sudah seharusnya merunut sejarah tersebut dengan melakukan pula penyembelihan hewan kurban seperti ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih puteranya Ismail.
Karena ketaatannya kepada Allah maka Nabi Ismail dengan ikhlas segera mempersilakan ayahnya untuk menyembelihnya. Kemudian Allah menukarnya dengan seekor domba besar sebelum pisau Nabi Ibrahim menyentuh leher puteranya.
Makna terpenting Idul Adha, salah satunya terletak pada upaya meneladani ajaran monoteisme Nabi Ibrahim (AS) yang bersifat transformatif. Dalam
perspektif Islam, pengalaman rasional dan spiritual yang dilalui Ibrahim
mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai suatu kebenaran hakiki.
Ajaran ini meletakkan Allah sebagai sumber kehidupan, moralitas, bahkan
eksistensi itu sendiri. Tanpa Allah, yang ada hanya kekacau-balauan,
kehampaan, bahkan ketiadaan dalam arti sebenarnya. Keyakinan seperti itu
berimplikasi langsung pada keharusan Ibrahim untuk menampakkan eksistensi
itu dalam kehidupan nyata sehingga manusia dan dunia dapat menyaksikan dan
“menikmati” kehadiran Sang Pencipta dalam bentuk kehidupan yang teratur,
harmonis, dan seimbang.
Pengorbanan yang dilakukan Ibrahim merupakan manifestasi dari hal itu. Peristiwa ini memiliki dua dimensi yang bersifat vertikal dan horizontal. Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri (kurban) dan dialog dengan Tuhan dalam rangka menangkap nilai dan sifat-sifat ketuhanan. Proses ini mengondisikan umat manusia melepaskan segala hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sempitnya sehingga dapat “menjumpai” Tuhan. Secara horizontal, hal itu melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Wahyu Tuhan kepada Ibrahim untuk mempersembahkan putranya yang lalu diganti binatang kurban memperlihatkan, tidak satu manusia pun boleh merendahkan manusia lain, menjadikannya sebagai persembahan, atau melecehkannya dalam bentuk apa pun. Sebab, manusia sejak awal dilahirkan setara dan sederajat. Nilai-nilai yang merepresentasikan kesetaraan dan sejenisnya perlu diaktualisasikan ke dalam realitas kehidupan sehingga dunia dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan hakiki.
Khotbah Haji Wada’ Nabi menyatakan tentang keharusan manusia untuk menjaga hak dan kehormatan orang lain, serta memperlakukan manusia lain seperti memperlakukan diri sendiri.
Khotbah Nabi itu merepresentasikan prinsip-prinsip yang harus menjadi intisari perkembangan yang mendasari gerakan Islam dalam kemajuannya yang aktual dan tujuan yang ingin dicapainya. Prinsip itu adalah humanitarianisme, egalitarianisme, keadilan sosial dan ekonomi, kebajikan, serta solidaritas sosial. (*)
EDITORIAL HARIAN ACEH
19 Desember 2007
Ditulis Miftah H. Yusufpati
Redaktur Pelaksana