Tiga tahun sudah bencana itu berlalu. Tak kurang dari 250 ribu jiwa penduduk hilang dan meninggal dunia di 13 kabupaten/kota pesisir pantai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 lalu, akibat tsunami. Anak-anak menjadi yatim, orang tua ditinggal anaknya. Suami ditinggal istri atau istri ditinggal suami. Mereka yang selamat ditinggal orang-orang-orang terkasih.
Roda kehidupan terus berputar dan kini, tiga tahun tsunami, apa yang sebenarnya membekas pada diri kita?
Masih ada di antara kita yang meratapi peristiwa tersebut atau setidaknya belum bisa menghilangkan kesedihan yang mendalam, atau bahkan belum bisa menerima takdir yang menimpa dirinya. Sebagian lagi sudah merasa terobati, dengan sabar dan berpasrah (tawakal) kepada Allah karena menyadari bahwa Allah jua yang mematikan dan menghidupkan kita.
Ada empat macam sikap orang dalam menghadapi musibah; bersyukur, ada yang ridha, ada juga yang sabar dan ada yang berkeluh kesah ( jazi’ ). Orang yang jazi’, artinya, marah kepada ketentuan (qadha’) Rabbul ‘alamin.
Adanya musibah ini kita memang patut bersyuskur. Ini adalah tingkat paling tinggi. Mengapa? Pertama, karena toh kita selamat dari maut tersebut selain juga masih banyak orang justru terkena musibah lebih besar dari kita. Kedua, kita berharap dengan musibah itu, dosa-dosa kita akan terhapus. Sebab musibah itu akan dapat meningkatkan derajat kita di sisi Allah bila kita bersabar. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang berkeluh kesah dengan musibah itu.
Tentang berbagai bentuk pensikapan orang terhadap musibah itulah yang kini membentuk wajah Aceh baru. Di satu kutub kita menyaksikan orang-orang yang zuhud, di sisi lain, kita juga melihat sikap orang-orang di antara kita sangat mencintai dunia. Mereka ini justru mengail di air keruh. Hidup bermewah-mewah di tengah penderitaan saudaranya.
Kita yang tiba-tiba terjebak dalam kubangan musibah dan derita, tiba-tiba di antara kita muncul orang-orang yang memacu ambisi, mengejar kemewahan yang tiba-tiba pula. Celakanya lagi, tsunami dianggap sebagai peruntungan materi bukan peruntungan bathin. Sungguh sebuah ironi yang patut kita sesalkan. Uang yang mengalir deras ke daerah ini telah membuat sebagian kita lupa. Lupa akan banyak hal.
Tapi kita tentu masih ingat; sejak tsunami dan beberapa bulan berselang, masjid-masjid dan meunasah-meunasah penuh oleh jamaah. Doa dipanjatkan dengan kekhusukan. Kepasrahan total yang sungguh menyentuh hati. Wajah Aceh, wajah umat Islam, yang berpasrah diri terpotret dengan indah. Bibir-bibir yang memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Illahi Robbi begitu syahdu.
Tapi kini, tiga tahun sudah. Kita menyaksikan mulai berkurangnya jamaah masjid, meunasah mulai sepi lagi. Lalu, kemana doa itu? Kemana kepasrahan dan kezuhudan itu?
Kadang kita patut bertanya, adakah ini juga sebagai musibah susulan? Sungguh kita patut cemas, bila musibah disusul dengan musibah baru yang lebih dahsyat. Syirik, tamak dan kesombongan adalah musibah yang lebih dahsyat dari tsunami itu sendiri!

EDITORIAL HARIAN ACEH
25 Desember 2008
Ditulis Miftah H. Yusufpati
Redaktur Pelaksana