Cang panah Edisi Kamis 13 Desember 2007

Haba Miftah H. Yusufpati

Saeful bercerita; sejatinya, kucing telah berasosiasi dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 3.500 tahun yang lalu. Yakni, ketika orang Mesir kuno menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari hasil panen mereka.
Kini, kucing menjadi salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia. Kucing yang garis keturunannya dicatat secara resmi disebut sebagai kucing ras atau galur murni (pure breed), seperti persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini, biasanya dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi. Jumlah kucing ras hanyalah 1% dari seluruh kucing di dunia. Sisanya adalah kucing dengan keturunan campuran seperti kucing liar.
“Bagaimana dengan kucing garong?” tanya saya.
Saeful berlagak berpikir. Dia tampaknya kurang tertarik dengan pertanyaan itu.
“Orang Mesir kuno menganggap, kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati. Dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.”
“Ini cerita di Mesir kuno,” ucap saya.
“Memang ada cerita lain?” Saeful tampak penasaran.
“Di abad pertengahan, di Eropa, kucing sering dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi.”
Merasa ahli dalam dunia perkucingan, Saeful menyerobot: “Tapi gara-gara tahayul seperti inilah yang menyebabkan wabah black death menyebar dengan cepat.”
Black death adalah sejenis penyakit pes. Pada abad ke-14 sempat mewabah di Eropa. Cepatnya penyebaran wabah ini menyebabkan banyak orang waktu itu percaya bahwa setanlah yang menyebabkan penyakit tersebut.
Saya tak mau kalah. “Paus bilang, kucing yang berkeliaran dengan bebas, telah bersekutu dengan setan.”
“Itu salah! Gara-gara pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa pada saat itu. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.”
Saat ini, kata saya, orang masih percaya bahwa kucing hitam adalah pembawa sial.
“Tapi ada yang percaya bahwa kucing hitam justru membawa keberuntungan,” sergah Saeful.
“Kucing juga masih diasosiasikan dengan sihir. Kucing hitam sering diasosiasikan dengan Halloween.”
“Penganut wicca dan neopaganisme yang lain mempercayai bahwa kucing sebenarnya baik, mampu berhubungan dengan dunia lain, dan dapat merasakan adanya roh jahat.”
Debat menjadikan kami ngelantur. Kami berdua akhirnya terdiam.
“Untuk apa kita berdebat soal kucing?”
Kami tertawa.
“Manusia, kucing, anjing dan apa saja, ada yang baik dan ada pula yang buruk,” kata Saeful dengan suara direndah-rendahkan.
“Tapi yang namanya kucing garong, pasti buruk. Mereka harus dibasmi!” kataku tandas.
Saeful terhenyak. “Ooo, ya.”
Seakan dia tersadar sesuatu.
“Kucing garong yang di BRR, di pemerintahan, di legislative, di kepolisian, di tentara, di kehakiman, di kejaksaan memang perlu diusir. Kalau perlu dibunuh. Saya setuju!”
Kalau soal ini kami sama-sama setuju.*