CANG PANAH

Basah-basah kadang enak. Ada mimpi basah. Mandi basah. Ikan basah. Lahan basah. Terakhir yang jadi perhatian adalah kursi basah. Soal lahan basah dan kursi basah ini tentu saja hanyalah kiasan belaka.
Makna lahan basah aslinya wetland yakni lahan yang selalu tergenang air. Merupakan sumberdaya alam yang begitu besar nilainya bagi masyarakat, kontribusi bagi keanekaragaman hayati, lumbung pangan, penopang ekosistem lainnya, dan pengatur iklim makro.
Lain lagi makna sebenarnya tentang kursi basah. Singkat saja, kursi yang terguyur air, tentulah basah.
Hanya saja, kita tidak sedang membicarakan tentang yang basah-basah macam itu. Apalagi soal mimpi basah yang seringkali dialami anak muda atau mandi basah, pada mereka yang sudah menikah.
Kita di sini bicara tentang lahan basah dan kursi basah bukan dalam arti letter lux atawa apa adanya.
“Maksudnya tentu jabatan yang banyak duitnya,” celetuk Bang Bur.
“Seperti itu kira-kira.”
“Wajar menjadi rebutan.”
Hanya satu pesan Bang Bur: “Boleh saja berebut lahan basah. Tapi jangan coba-coba bermain api.”
“Kok, di tempat basah ada api?”
“Begitulah. Air di tungku bisa mendidih, bila di bawahnya ada api.”
“Itu semua orang tahu..”
“Setelah itu tertangkap basah,” kata Bang Bur.
“Kalau ini basah yang nggak enak.”
“Biasanya urusan yang basah-basah itu. karena enak, ada maharnya. Nikah, malam pengantin, pagi mandi basah. Sebelum nikah pakai mahar. Menduduki kursi basah tentu juga pakai mahar.”
“Itu dulu, Bang.”
“Ya, semoga saja. Sebab kalau sudah tertangkap basah bakal masuk penjara, tidur di lantai bisa terserang paru-paru basah.”
Ternyata basah tak semua mengenakkan.
Basah.. basah .. basah…