CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati
Harian Aceh Edisi 19 Februari 2008

“Andaikan saya tidak dipenjara, mungkin tafsir ini tidak ada,” kata Buya Hamka, penulis Tafsir Al-Azhar yang mashur itu.

“Kalau saya menjadi kanselir Jerman pada 1924 dan tidak dipenjara, saya mungkin, tak kan, pernah menulis buku,” kata Adolf Hitler, penulis Mein Kampf, yang dipenjara sejak November 1923.

Saya jadi teringat cerita Duryani. Dia adalah mantan Sekretaris Lembaga Swadaya Masyarakat Wangun Caruban, Cirebon, Jawa Barat. Duryani divonis enam tahun penjara karena korupsi Rp 978 juta dana kredit usaha tani (KUT).
Tiga buku, lembaran kertas, dan pensil menyertai Duryani dalam sel. Di sana ia membuat catatan, yang katanya akan dibukukan. Kalau sudah jadi, buku akan dijuduli Mengendalikan Keluarga dari Balik Terali Besi. Isinya, sejumlah tips agar keluarga tetap utuh dan harmonis meski suami di penjara. Soalnya, banyak istri mengajukan cerai ketika suaminya menjadi narapidana.
Rujukan dia adalah buku kehidupan Bung Hatta dan Buya Hamka dalam penjara. “Buku ini bertujuan mencegah agar perceraian itu tidak terjadi,” kata lelaki beristri tiga itu, suatu ketika. Kini Duryani sudah bebas, tapi saya tak tahu bagaimana nasib karyanya tersebut.
Daryani bukanlah tokoh yang hebat-hebat amat. Tapi ia belajar dari pendahulunya; ‘membunuh waktu’ dengan menulis.
Inilah hikmah orang-orang cerdas di balik terali besi. Keterkungkungan badan, bukan berarti pikiran-pikiran mereka terpenjara. Bui, oleh mereka, dijadikan sebagai tempat perenungan yang dalam.
Seringkali hasil perenungan di dalam penjara itu menjadi ajaran abadi yang diikuti jutaan orang. Mein Kampf dari Hitler, Ma’alim fi al-Thariq (Qutb), History Will Absolve Me (Fidel Castro), Toward the Freedom (Nehru), dan masih banyak lagi, adalah buku-buku yang merangkum ide mereka dan menjadi pegangan pengikut mereka.
Para founding father kita, Bung Karno dan Hatta, juga dikenal aktif menulis walau dalam penjara. Soekarno menulis pembelaan yang kemudian dibukukan dalam ‘Indonesia Menggugat’ di dalam penjara Sukamiskin, Bandung.
Hatta melahirkan karya ‘Krisis Ekonomi dan Kapitalisme’ tatkala ditahan di penjara Glodok tahun 1934 lalu melahirkan buku ‘Alam Pikiran Yunani’ ketika dibuang ke Digul.
Penjara Mesir unggul dalam menghasilkan karya tulis. Tafsir Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb disebut-sebut sebagai the most remarkable works of prison literature ever produced.
Quthb menghasilkan magnum opus itu sebelum akhirnya dia syahid di tiang gantungan Pemerintah Gamal Abdul Nasser tahun 1966. Selain kitab Fi Zhilal, dalam bui ini Quthb juga menghasilkan buku Ma’alim fith Thariq dan risalah kecil Mengapa Saya Dihukum Mati?
Masih banyak lagi karya-karya besar yang lahir dari penjara. Bisa dibayangkan, bila tokoh-tokoh yang dipenjara di Indonesia itu mengabadikan perenungannya di dalam penjara—dalam bentuk tulisan– tentu akan kian berderet karya yang lahir dari dalam bui.
Bukankah sekarang ini banyak pejabat dan mantan pejabat yang dibui dengan tuduhan korupsi. Jadi, mari kita tunggu hasil karya para narapidana itu. Siapa tahu nanti ada buku misalnya berjudul: Koruptor yang Apes, atau Kiat Mengamankan Uang Hasil Korupsi dari Balik Terali Besi. Pasti seru..!