CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

“Apa itu petrus?”
“Petrus singkatan dari penembak misterius.”
Istilah ini berhubungan dengan suatu masa. Saat itu hampir setiap hari, antara tahun 1983 dan 1984, ditemukan mayat bertato dengan luka tembak. Mereka ada di pasar, sawah, dan juga jalan raya. Ada yang bilang korban mencapai angka 10.000 orang.
Misterius tentu berarti penembaknya tidak diketahui.
Tapi Pak Harto, mantan presiden, bilang: “Kejadian itu dikatakan misterius juga tidak.”
“Kenapa mereka ditembak?”
Mereka ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan.
Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius.
Soeharto dalam biografinya menyatakan, kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. Istilah Soeharto: treatment. “Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu.”
Lantas, Soeharto memaparkan lagi: “Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”
“Kata berita, di Bireuen dan daerah lain ada Petrus?”
“Di Ambon juga pernah terjadi. Heboh!”
“Apa alasan ada petrus?”
“Jawabnya sama saja dengan jawaban Pak Harto. Kenapa mesti tanya lagi?”
Ooo…