ini-miftah.jpgHaba Miftah H. Yusufpati

“Kenapa gempa bumi terjadi? Salah satu alasan adalah hal-hal yang mendapat legitimasi dari Knesset (parlemen), tentang sodomi.”

Itu adalah kata anggota parlemen Israel, Benizri dari partai ultra-ortodoks Partai Shas Yahudi. Terdengar menggelikan. Gaptek alias gagap teknologi. Anggota parlemen Yahudi menyalahkan kaum homoseksual menyusul gempa bumi bertubi-tubi melanda Timur Tengah belakangan ini.
“Masuk akal, nggak ya?” itu pertanyaan saya kepada Bang Zul saat ngopi bareng di Lambhuk, persis depan kantor kami.
Agar memperoleh jawaban yang pas, saya menjelaskan secara detail berita itu. Parlemen Israel gencar meliberalisasikan undang-undang mengenai kaum gay. Benizri menentang dan bilang: “Makanya, gempa bertubi-tubi.” Ini adalah berita dari news.com, akhir pekan lalu.
Sepekan terakhir, dua gempa bumi yang berasal dari Libanon mengguncang Israel. Gempa pertama terjadi hanya dua hari setelah jaksa agung memutuskan bahwa pasangan sejenis bisa mengadopsi anak.
Beberapa tahun terakhir, pengadilan Israel telah memutuskan bahwa pemerintah harus mengakui pernikahan kaum sejenis yang dilakukan di luar negeri dan memberikan hak warisan pada pasangan gay.
Dengan takzim Bang Zul mendengarkan. Keningnya tampak berkerut laiknya jeruk purut. Belagak mikir. “Begitulah kitab suci tentang kaum Luth. Taurat, Injil dan Al-Quran menjelaskan soal itu. Wajar saja jika Benizri percaya ada hungannya antara gempa dan legalisasi homoseksual.”
Tak sabar saya menyambar: “Parlemen Aceh, kan, tidak sedang membuat UU tentang pembolehan kaum gay untuk membangun mahligai rumah tangga, nyatanya ada gempa di sini.”
Bang Zul tampaknya menyadari bahwa arah pertanyaan itu bakal ke Aceh. “Kan, bencana tak hanya untuk hukuman kaum gay saja. Bahkan bencana bisa sebagai peringatan, juga ujian,” kata Bang Zul sewot. Ia menyeruput kopinya. Setelah itu ia merendahkan suaranya: “Peringatan agar kita instrospeksi diri atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Bisa juga hukuman karena kita terlalu banyak berbuat dosa: sibuk urusan dunia, melupakan akherat,”
Bang Zul menarik nafas. “Ya, sebagai cobaan, agar iman kita tambah kokoh, bila kita ikhlas menerima cobaan itu.”
Bang Zul mulai berceramah. Biasanya di hari Jum’at, ia menjelmakan dirinya mirip-mirip ustad. Dan dia memang lulusan fakultas dakwah. Penyandang gelar S.Ag, yang kepanjangannya sering diplesetkan; sarjana alam ghaib, padahal yang sesungguhnya Sarjana Agama.
“Secara ilmiah, kan nggak begitu,” kata saya.
“Itu saya tahu. Penyebab gempa karena ada pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan, pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi.”
“Secara ilmiah, Sumatera memang rawan gempa sehingga terjadinya gempa dianggap sebagai hukum alam,” kata Bang Zul. “Masalahnya, daerah rawan gempa, kan banyak. Lalu mengapa gempa itu terjadi di sini duluan. Mengapa gempa itu begitu dahsyat. Mengapa pula harus memakan korban ratusan ribu orang? Ini yang harus menjadi ibrah bagi kita.”
Bak peluru ditembakkan bertubi-tubi, suara Bang Hamdan meluncur membentur. Warung kopi langsung menjadi arena khutbah. “Jadi ini menyangkut masalah keimanan..!” Bang Zul menekankan kata-kata terakhir ini.
Seorang pengemis datang menadahkan tangan. Bang Zul merogoh koceknya. Dia tampak gelisah dalam tatapan mata saya. “Nggak ada uang kecil,” celetuknya.
Pengemis itu pergi sambil menggerutu: “Peugah iman, tapi han ijok. Hana peng ubeut, peng rayeuk jeut sit..!
Kami pun tersenyum kecut.