Seorang toke sawit diculik dan penculiknya meminta tebusan Rp5 miliar. Terjadi tawar menawar antara penculik dan keluarga korban sampai kemudian disepakati uang sebusan senilai Rp200 juta. Ini adalah kejadian sesungguhnya di sini, Aceh. Heriyanto, 30, warga Desa Alue Awe, Kecamatan Geurudong Pase, Kabupaten Aceh Utara itu diculik sejumlah orang bersenjata sejak Jumat, pekan lalu.
Drama ini berakhir happy ending. Penculik happy karena dapat uang tebusan, Heriyanto juga happy karena bisa keluar dari sarang penyamun. Memang, tidak seperti cerita dalam film-film laga versi Hollywood yang selalu mengalahkan para pencoleng itu. Cerita ini dimenangkan sang penculik.
Inilah episode lanjutan masa konflik dulu. Dan kasus ini bukanlah satu-satunya. Deretan kasus serupa sering terjadi. Aksi culik menculik ini dalam sepekan saja sudah ada dua kasus. Selain Heriyanto, penculikan juga terjadi pada diri Jamaluddin Daud,38, Mukim GAM Sawang, warga Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rabu (13/2) lalu. Beruntung Jamaluddin, yang hanya luka karena pemukulan saat disekap sang penculik. Ia berhasil lolos dari sekapan setelah memanfaatkan kelengahan sang penculik.
Kasus pertama murni perampokan dan soal uang. Sedangkan kasus kedua diduga bermotif balas dendam. Kasus kedua ini terjadi menyusul terbunuhnya Badruddin selepas keluar penjara bulan lalu. Badruddin ‘dihabisi’ dengan timah panas oleh orang tak dikenal. Kelompok Badruddin inilah yang dicurigai menculik Jamaluddin karena ia disangka sebagai orang yang dianggap tahu tentang siapa pembunuh Badruddin.
Ini cerita nyata Bung. Bukan film fiksi yang sering kita tonton di layar kaca bikinan Hollywood atau Bolywood. Kisah nyata ini belakangan sering terjadi di Aceh, terutama di wilayah Pase yakni Lhokseumawe dan Bireuen yang sejak masa konflik dianggap daerah paling ganas dan panas. Dua kasus tadi hanyalah contoh saja dari deretan kasus culik menculik di tanah rencong ini.
Damai pasca Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, baru dinikmati sebagian warga Aceh. Wajar bila warga berteriak: “Beri kami rasa aman.” Dan aparat sungguh belum mampu sepenuhnya memberikan seteguk air rasa aman itu. Bahkan seringkali kita mendengar kasus-kasus pelanggaran justru dilakukan aparat.
Pada kasus Heriyanto, boleh jadi petugas agak dipermalukan. Bagaimana mungkin, begundal-begundal macam itu bisa memeras warga negara pembayar pajak sampai ratusan juta. Akibatnya, drama ini tambah seru. Polres Lhokseumawe menangkap belasan warga, Jumar (22/2). Mereka yang apes itu adalah warga asal desa Panggoi dan Loskala, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Mereka diambil pada dinihari yang dingin. Salah seorang di antaranya merupakan eks Panglima Sagoe Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Kisah selanjutnya, anak istri belasan orang itu mendatangi kantor Polres dengan mencucurkan air mata. Di antara mereka, ada yang sedang menikahkan anaknya dan terpaksa tidak ikut berpesta pernikahan itu, tapi menunggu sang suami dan anaknya yang ditahan di situ.
Sekali lagi. Sungguh ini kisah nyata. Kini mari kita menunggu babak selanjutnya. Bila benar penangkapan belasan orang dari dua desa ini berkaitan dengan penculikan Heriyanto, maka kita tentu khawatir jangan-jangan mereka akan dijadikan korban dalam rangka pembuatan skenario penyelamatan muka. Kita sungguh berharap tak ada lagi yang begitu. Dan memang, kita hanya bisa berharap, tak ada lagi tragedi, tak ada lagi rekayasa, tak ada lagi sandiwara di antara kita. Dan tak ada lagi orang-orang yang dikorbankan. Nauzu billahi min dzalik (*)