CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Selama penerbangan Banda Aceh- Jakarta, saya hanya membayangkan istri dan ketiga anakku. Mereka pasti akan menyambut bahagia. Sebulan lebih kami dipisahkan oleh pekerjaan. Awalnya, agar menjadi surprise, saya tak mengabari kepulangan itu. Hanya saja, cuaca buruk dan keamanan penerbangan yang tak menjanjikan, membuat saya harus membocorkan kepulangan itu. Jangan sampai kalau ‘ada apa-apa’ –pesawat jatuh, misalnya–mereka tak tahu telah kehilangan diriku.
Jadi, saya harus memberi tahu mereka. Syukur saya selamat sampai rumah. Benar saja, mereka telah menanti kepulanganku. Seperti keluarga lain, peluk dan cium sebagai pelepas kangen, menjadi sambutan yang menyenangkan.
Esoknya, kendati masih penat, dengan menenteng laptop saya mengajak jalan-jalan sekeluarga ke Banten. Tapi saya tidak melihat pancaran kebahagiaan di wajah mereka. Saya kurang memperhatikan itu, sampai kemudian sepulang dari Banten wajah mereka tetap cemberut.
”Ada apa sih? Diajak jalan-jalan bukan pulang dengan senyum, ini malah cemberut. Apa masalahnya?”
Anak perempuan saya tertua, Nilam menjawab, ”Yang kami inginkan bukan pergi berlibur, yang kami inginkan hanya waktu bersama ayah.”
Saya benar-benar terpana dengan jawaban itu. Selama di Banten, saya memang tidak bisa terlepas dari laptop dan telepon selular. Di tengah-tengah anak dan istri yang bermain dengan riang, saya tetap asyik berlaptop dan bertelepon. Mengadakan hubungan bisnis. Saya memang bersama mereka, tapi hati saya ada di tempat lain.
Saya menjadi teringat tentang tulisan China tradisional yang dimuat sebuah jurnal. Konon, dalam tulisan China tradisional, kata “ai” yang berarti cinta terdiri dari 13 goresan. Di tengah-tengah goresan itu ada kata “xin” yang berarti hati. Sebuah pelukisan yang menggambarkan bahwa cinta memerlukan hati. Namun dalam tulisan modern China yang lebih sederhana huruf “ai” tak lagi mengandung kata “xin”. Cinta sudah tidak memerlukan hati.
Hati tempat kita menyimpan segala perasaan terdalam. ”Semuanya bersumber dari hati,” kata orang bijak.
Seorang teman pernah mengatakan pada saya, ketika kita mencinta, itu murni dari hati, dari dalam kita. Bukan dari luar; berapa banyak hartanya, betapa rupanya, dll. Karena berasal dari dalam, maka tak ada alasan masuk akal untuk mencintai. Kita mencintai seseorang, iya, karena kita mencintainya. Itu keluar begitu saja. Tak ada jawaban untuk sebuah pertanyaan, ”Mengapa aku mencintaimu?”
Lalu, saya juga pernah menasihati anak perempuanku: ketika kekasih kita mengajukan berjuta alasan tentang cintanya, ragukanlah cintanya. Mungkin ia berkata. ”Aku mencintaimu karena kau cantik”. Atau ”Kau begitu baik, beda dengan yang lainnya, karena itulah aku mencintaimu”.
Lalu, bagaimana kalau kita tidak lagi cantik atau baik. Masihkah ia mau mencintai kita?
Dari kasus cemberut anak dan istriku tadi, menyadarkan saya. Mungkin saya memang telah kehilangan hati dalam cinta. Persis seperti yang dilukiskan oleh tulisan China modern untuk cinta. Dan ini menjadi bahan introspeksi diri saya.*