Cang panah

Haba Miftah H. Yusufpati

Alhamdulillah, pada bulan ini saya panen keponakan. Adik perempuanku melahirkan bayi mungil perempuan. Ini adalah keponakan yang ke-27 dari delapan saudara kandungku. “Kak, tolong kasih nama yang bagus,” pintanya.

Kalau soal nama saya banyak punya stok. Lalu aku berikan dia sebuah nama. Ada tiga kata. Esoknya, dia protes, nama yang saya sodorkan dikatakan tak nyunah (sesuai sunah Nabi). Bahkan dibilang tak islami (tak sesuai nilai-nilai Islam). Saya terbengong-bengong.

Karena tak puas, adik iparku – suami adikku—pergi ke toko buku. Ia membeli buku tentang nama-nama yang islami. “Bagus,” saya bilang.

Tiga hari kemudian, terpampanglah nama, ditulis dengan indah ditempel di dinding rumahnya: ‘Bilqis Zahratun Shifa’. Saya tersenyum. Rupanya, inilah yang disebut nama islami itu.

Seingatku Bilqis adalah nama Ratu Ethiopia yang membuat Nabi Sulaiman bertekuk lutut. Zahratun mungkin yang dimaksud adalah bunga. Shifa tentu adalah obat. Kalau dirangkai mungin maknanya dalam bahasa Indonesia begini: Ratu Bunga Pengobat. “Ah, kacau,” pikirku.

“Nama ini mengandung falsafah, Kak,” kata adikku.

“Maksudnya?”

“Ini berarti anakku adalah seorang ratu sebagai pengobat hati. Dia adalah bunga pengobat hati. Yang memberikan kesenangan saat kita susah.”

Saya melongo dan mengangguk-angguk. “Ini nama mirip Bunga Citra Lestari,” kataku dalam hati, teringat artis seksi itu.

“Jadi ini penuh doa,” kata adikku lagi.

Saya pun mengerti. Memang, ada satu kecenderungan di sebagian kalangan, yang barbau Arab artinya islami. Nama Asad seakan lebih mendekati Islam dibandingkan misalnya Singa. Padahal maknanya itu sama saja: Singa.

Begitu juga nama Habibah seakan lebih afdhol dibandingkan Kekasihku atau Cintaku. Memang agaknya aneh membuat nama, kok, Cintaku atau Kekasihku. Tapi kalau Habibah sudah pasti cantik.

Lalu, lebih bagus nama Bahir, ketimbang Elok, Fuhaid atau Fahd daripada Harimau, Hamdun ketimbang Puji, Husni daripada Indah, Robih daripada Beruntung atau Bejo (bhs Jawa).

Nama Robih dan Bejo cukup banyak. Tapi nama Beruntung jelas agak aneh. Apalagi nama ‘Kunci’ pasti nggak bermutu. Jelas lebih indah, enak didengar dan perlu dikenal bila nama itu dibahasa- arabkan menjadi ‘Miftah’.

Nah, soal protes ribut-ribut soal konser musik Peterpan dan Nidji di Lhokseumawe, juga mendapat tanggapan serius anak-anak muda yang nongkrong di café de Nangroe, dekat kantor saya.

Lantaran itu pula, saya menjadi teringat dengan nama-nama itu. “Memangnya kita ini hanya mau mendengar lagu qasidah saja, apa?” ujar anak berseragam SMU menunjukkan sikap tak senang.

Saya mencuri dengar omongan itu. Boleh jadi memang tak ada larangan untuk musik qasidah karena dianggap lebih islami. Sedangkan lagu-lagu pop itu nggak islami. Lagu ‘Habibie’ dengan nada meleking itu lebih islami ketimbang misalnya lagu ‘Bento’ milik Iwan Fals yang penuh kritik sosial itu.

Inilah yang membuat saya agak kurang mengerti. “Mungkin masalahnya, jingkrak-jingkrakannya itu, lho, yang dilarang,” kata remaja lainnya, membuyarkan lamunanku.

Kembali soal nama Arab. Ada cerita nyleneh di daerah Kajen (satu daerah di Pati), pusat pesantren di Jawa Tengah. Di sana ada tukang cukur namanya Pak Syaeton. Dia bercerita pada saya bahwa nama itu pemberian orang tuanya yang sangat berkeinginan memiliki nama anak kearab-araban, seperti yang lain di pesantren daerah itu.

“Ketimbang Bejo Mas, mending Syaeton. Kan, lebih islami,” katanya.

“Pak, itu, kan artinya Setan, musuh kita!” “Ya, nggak apa-apa yang penting ada disebut-sebut dalam Al Qur’an. Daripada Bejo. Nggak ada itu.” Oohhh…!