Banda Aceh | Harian Aceh
Kebutuhan batubara untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya tidak akan bermasalah bila investor tambang ini segera mengantisipasi kebutuhan PLTU tersebut yang hanya butuh 1,2 juta ton per tahun.

Pakar Energi Universitas Syiah Kuala, DR. Mahidin, ST,MT menyatakan Nagan Raya memiliki cadangan 1,3 miliar ton batubara. “Potensi batu bara yang terdapat di bumi Aceh sebanyak 1,6 miliar ton, terbesar adalah di Nagan Raya,” kata Mahidin, kepada Harian Aceh, di Banda Aceh, kemarin.
Dia menngingatkan Aceh memiliki sumber energi yang sangat besar yaitu 11.736 Giga Watt atau setara dengan 11.736.000 MW. Nilai energi ini dengan asumsi tingkat efisiensi 50%. “Jenis energi ini dapat ramah lingkungan asal memakai tekonologi yang tepat,” katanya. “Malah limbahnya dapat digunakan kembali untuk bahan baku semen.”
Potensi batubara ini selain di Nagan Raya juga terdapat di Aceh Barat dan di Aceh Jaya. Walaupun sumber energi batu bara termasuk dalam sumber energi tak terbarukan, kata dia, untuk Aceh bahan baku yang tersedia akan bertahan untuk puluhan tahun lamanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara diversifikasi batubara atau mengombinasikan dengan material lain seperti mencampur batubara dengan cungkil sawit.
Ketika ditanya apa yang menjadi kendala dalam pembangunan PLTU batubara, Doktor lulusan Jepang ini mengatakan bahwa faktor teknologi menjadi tantangan utama. Hal ini demi efisiensi dan keselamatan lingkungan.”Dengan memakai teknologi tinggi seperti di Jepang atau negara maju lain maka energi listrik aman dan bisa menjadi murah. Walaupun nilai investasinya menjadi besar,” ujar Kepala Laboratorium Sumber Daya dan Energi Jurusan Teknik Kimia Unsyiah ini.
Banyak kalangan peduli lingkungan yang mengkhawatirkan timbulnya dampak lingkungan yang buruk. ”Dampak lingkungan yang terjadi bisa dimulai dari proses penambangan yaitu limbah cair pencucian batu bara dari kotoran, limbah padat pemisahan batu bara dari kandungan mineral lain. Kemudian ada potensi pencemaran sewaktu proses di PTLU seperti timbulnya emisi udara hitam, munculnya abu terbang” katanya.
Namun dengan menggunakan teknologi yang tepat semua efek ini dapat diminimalisir seperti yang sudah diterapkan di Jepang. Jepang sendiri memakai gas, batubara dan nuklir sebagai sumber energinya. Mereka bahkan sudah memanfaatkan abu terbang dari batubara untuk bahan baku campuran semen atau keramik. Malah batubara yang digunakan berada di bawah kualitas batubara Indonesia, ia melanjutkan.
Selain batu bara, Aceh juga memiliki sumber energi alternatif seperti memanfaatkan air atau populer disebut Hidro, yang sudah diterapkan di Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Potensi hidro sendiri mencapai 80% untuk diterapkan di Aceh,” katanya kembali.
Alternatif lain bisa memakai sumber energi dari angin terutama bagi daerah yang dekat dengan pantai, gelombang atau pasang surut ataupun biomassa.
Pekan lalu, PT PLN (Persero) menandatangani kontrak EPC (Engineering Procurement Construction) atau kontrak pembangunan konstruksi PLTU di Nagan Raya, dengan kapasitas 2×100 MW. Pemenang kontrak pembangunan adalah Sinohydro Corporation, dengan nilai kontrak sebesar Rp795 miliar dan US$161 (Rp1,481 triliun).
Operasionalisasi untuk PLTU Nagan Raya, unit satu diharapkan efektif 24 bulan dari tanggal kontrak, sedangkan unit dua efektif 26 bulan setelah tanggal kontrak.
Dengan dibangunnya PLTU Nagan Raya pada akhir 2010 nanti, akan terjadi penghematan BBM sebesar 578 juta liter per tahun atau setara dengan penggunaan batu bara sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sehingga diperoleh penghematan sekitar Rp3,6 triliun.
Masalahnya, PLN mencemaskan suplai batubara atas rencana pembangunan PLTU 10.000 MW seluruh Indonesia, termasuk 2 x 100 MW di Nagan Raya itu. Soalnya sampai sejauh ini belum ada kepastian siapa yang akan memasok batubara PLTU tersebut. Sejumlah investor memang sudah melakukan investasi batubara, akan tetapi sampai sejauh ini belum ada kepastian apakah mereka nantinya mampu memasok kebutuhan PLTU tersebut atau tidak. Sejumlah perusahaan pertambangan batubara di Aceh ditengarai sudah membangun kontrak dengan PLTU sejenis di luar negeri. Di sisi lain, PLN sendiri belum mendapatkan izin pemerintah untuk melakukan bisnis batubara.t-7