A. Soenartono Adisoemarto
(Komisi Nasional Plasma Nutfah)

PENDAHULUAN

Rancang Tindak Gobal FAO atau FAO Global Plan of Action untuk Pelestarian dan Pamanfaatan secara Berkelanjutan Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian (SDGTPP) disahkan oleh the International Technical Conference on Plant Genetic Resources (ITC4) di Leipzig, Jerman pada tahun 1996. SDGTPP merupakan dasar hayati bagi keamanan pangan dunia. Berdasarkan nilai kepentingan SDGTPP ini, Konferensi FAO pada tahun 1991 menyetujui laporan pertama State of the World’s Plant Genetic Resources for Food and Agriculture untuk dikembangkan. Laporan ini berisi status terkini (pada waktu itu) pada tingkat global. Dengan pegangan ini FAO dapat merencanakan tindak lanjut mengenai pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Berdasarkan laporan inilah dicetuskan adanya Rancang Tindak Gobal FAO.
Tujuan utama GPA FAO ini terkelompok kedalam 5 bidang prioritas:
Menjamin pelestarian SDGTPP sebagai landasan untuk keamanan pangan;
Mendorong pemanfaatan secara berkelanjutan SDGT, mendorong pembangunan dan mengurangi kelaparan;
Mendorong pembagian keruntungan secara adil dan merata dari hasil pemanfaatan SDGT;
Membantu negara-negara dan lembaga dalam menentukan prioritas kegiatannya; dan
Memperkuat program-program yang sedang berjalan dan meningkatkan kemampuan kelembagaan.

Pertemuan ITC4 di Leipzig juga mensahkan Deklarasi Leipzig yang memuat komitmen para pemerintah yang hadir untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan GPA.
GPA merupakan dokumen kerangka kerja dan katalis untuk melaksanakan kegiatan yang memungkinkan penyediaan pangan secara cukup untuk abad mendatang. Pada tahun 1983 Konferensi FAO membentuk Intergovernmental Commission on Plant Genetic Resources untuk mensahkan International Undertaking on PGR (IU) yang tidak mengikat dengan seperangkat peraturan yang mendorong upaya-upaya pelestarian pada taraf internasional. IU ini kemudian direvisi oleh Komisi sejalan dengan ketetapan-ketetapan pada Convention on Biological Diversity (CBD) atau Konvensi mengenai Keanekaragaman Hayati (KKH). Kedua kesepakatan FAO ini berbeda dalam status sumber daya genetic, yang oleh IU dianggap sebagai warisan umum (manusia) semua orang dan dapat dipertukarkan secara bebas. Dalam revisi berdasarkan ketetapan KKH, SDG merupakan hak kedaulatan negara. Kewenangan untuk menentukan akses terhadap SDG terletak pada pemerintahan nasional.
Konferensi FAO pada tahun 1991 menyetujui diakuinya Hak Petani dan perlu dilaksanakan. Hak Petani ini menjadi pengakuan resmi dan mendorong perlunya pemberian imbalan kepada petani dan masyarakatnya untuk sumbangannya yang tidak kecil kepada pelestarian dan pengembangan SDGT. Walupun demikian, cara-cara pengadaannya dalam bentuk finansial, dan perangkat kelembagaannya, masih belum secara jelas dirumuskan. Komisi sedang memperhitungkan biaya program dan usulan untuk meninjau kembali GPA. Beberapa isu lain yang terkait dengan pelaksanaan GPA juga masih dibahas.

BIDANG KEGIATAN PRIORITAS
Rancang tindak ini distruktur kedalam empat bidang prioritas :
1. Pelestarian in situ dan pembangunan/pengembangan;
2. Pelestarian ex situ;
3. Pemanfaatan sumber daya genetik tanaman;
4. Pembinaan kelembagaan dan kemampuan.
Masing-masing bidang diisi dengan proyek-proyek yang berkaitan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan utama GPA, yaitu keberhasilan dalam mengurangi kelaparan dan menjaga tetap lestarinya SDGTPP dengan cara pemanfaatan yang berkelanjutan.
Dalam rincian pelaksanaannya, keempat bidang prioritas ini dijabarkan menjadi 20 proyek:
Melakukan survai dan inventarisasi SDGTPP
Mendukung pengelolaan dan perbaikan SDGTPP
Membantu petani dalam keadaan bencana untuk memulihkan sistem pertaniannya
Mendorong pelestarian in situ kerabat liar tanaman pertanian untuk produksi pangan
Mempertahankan koleksi ex situ yang ada
Menangkarkan asesi ex situ yang terancam
Memberikan dukungan terhadap pengumpulan terencana dengan sasaran SDGTPP
Memperluas kegiatan pelestarian ex situ
Memperluas karakterisasi, evaluasi dan jumlah koleksi inti untuk memfasilitasi pemanfaatan
Meningkatkan pemajuan genetik dan upaya perluasan landasan
Mendorong pertanian berkelanjutan melalui diversifikasi/penganekaragaman produksi tanaman pertanian dan perluasan keanekaragaman dalam tanaman pertanian
Mendorong pengembangan dan komersialisasi tanaman pertanian dan spesies yang kurang dimanfaatkan
Membantu produksi benih dan penyebarannya
Mengembangkan pasar baru untuk varietas lokal/setempat dan produk yang kaya keanekaragaman
Mengembangkan program nasional yang andal
Mendorong terbentuknya jaringan kerja untuk SDGTPP
Membangun/mendirikan sistem informasi yang komprehensif untuk SDGTPP
Mengembangkan sistem pemantauan dan pemeritahuan dini mengenai hilangnya SDGTPP
Memperluas dan meningkatkan pendidikan dan pelatihan
Mendorong kesadaran masyarakat mengenai nilai pelestarian dan pemanfaatan SDGTPP

Pelaksanakan program kegiatan dalam bidang pelestarian in situ dan pembangunan/pengembangan, beberapa segi kegiatan di daerah SDGTPP perlu mendapat perhatian, dan perlu kiranya dikelompokkan kedalam dua kategori:
a. yang tersebar merata;
b. yang khas daerah.
Langkah-langkah yang dilakukan perlu diproyeksikan kepada program prioritas berikutnya, yaitu pelestarian ex situ. Pelestarian secara ex situ ini berkaitan dengan pengembangan cara pemanfaatan secara berkelanjutan termasuk penempatan koleksi SDGTPP dengan pengelolaannya lebih lanjut. Oleh karena itu, inventarisasi yang akan dilakukan harus diproyeksikan ke arah perencanaan dan perancangan yang sesuai.
Dalam bidang pelestarian, kegiatan juga mencakup:
1. Dukungan terhadap pengelolaan dan perbaikan SDGTPP;
2. Bantuan kepada petani dalam keadaan bencana untuk memulihkan sistem pertaniannya;
3. Dorongan terhadap pelestarian in situ kerabat liar tanaman pertanian untuk produksi pangan.
Untuk menentukan prioritas unit atau komponen SDGTPP, kiranya fokus Perjanjian mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian dapat dijadikan orientasinya. Dalam hal pangan yang telah diprioritaskan jenis-jenisnya tertera dalam datar berikut.

KIAT DAERAH
Sebetulnya, untuk pelaksanaan GPA ini di daerah-daerah di Indonesia, tidak harus terbatas pada komoditi yang terdaftar pada Lampiran Perjanjian. Berbagai SDGTPP daerah, baik yang persebarannya merata di seluruh negeri, maupun yang menunjukkan kekhasan, perlu mendapat perlakuan yang sama karena komoditi-komoditi ini dapat menunjang terciptanya keamanan pangan, baik untuk tingkatan nasional maupun tingkatan internasional. Masih banyak peluang pencakupan komoditi yang tidak terdaftar dalam Lampiran Perjanjian, tetapi yang secara nasional atau daerah memainkan peran yang menentukan dalam penyediaan pangan bagi masyarakat.
Geografi Indonesia memungkinkan dimanfaatkannya berbagai sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian lebih daripada sekadar jenis-jenis yang tercantum dalam daftar lampiran Perjanjian. Banyak kelompok komoditi tanaman yang secara khas menjadi ciri atau kekhususan suatu daerah, misalnya talas, ubi jalar, dan beberapa sayuran dataran tinggi. Beberapa komoditi telah dikhususkan untuk dikelola dalam cakupan pengkajian BPTP yang tersebar di daerah-daerah. Kegiatan pelestarian ex situ dan pengembangan pemanfaatannya telah berlangsung di masing-masing balai dengan fungsi dan peran yang telah menjadi misinya. Keberadaan balai-balai tersebut merupakan suatu langkah maju yang dapat dikembangkan oleh daerah-daerah yang bersangkutan untuk melaksanakan misi dan tujuan GPA.
Pengembangan program nasional yang andal dalam pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian memerlukan pengembangan kelembagaan yang sesuai dan terkoordinasi. Koordinasi ini penting karena pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan banyak pemangku kepentingan yang masing-masing mempunyai misinya. Untuk pelaksanaannya diperlukan suatu jaringan kerja dan sistem pertukaran informasi dan kerja sama antar pemangku kepantingan, serta pemantauan terhadap perkembangan sumber daya genetik tanaman yang dikelola, bukan saja di dalam suatu daerah, tetapi juga antardaerah. Tidak kalah pentingnya adalah peran serta masyarakat dalam melaksanakan program yang direncanakan dalam GPA.
Untuk merealisasi kiat daerah beberapa pemangku kepentingan perlu dikoordinasi untuk penggalangan sinerginya, dan koordinasi ini akan meliputi arah kegiatan balai-balai pengkajian dan teknologi pertanian yang terdapat di daerah, dengan penyesuaian misi dan programnya berdasarkan prioritas GPA. Keberadaan Komisi Nasional Plasama Nutfah dan Komisi-komisi Daearah Plasma Nutfah merupakan suatu perangkat yang tangguh dalam menyelenggarakan kolaborasi dan kerja sama antarpemangku kepeantingan dan antar- daerah. Dengan koordinasi yang efektif, pelaksanaan kegiatan seperti yang dirumuskan dalam GPA akan dapat mencapai tujuan seperti yang direncanakan. Kepemimpinan pemerintah darah akan menentukan keberhasilan penggalangan kelompok kerja pemangku
kepentingan untuk mewujudkan pelaksanaan GPA. Dengan tegas pula arah pengembangan program dapat ditentukan dengan mengacu kepada program dan target yang telah dikembangkan secara internasional dan global, yaitu di antaranya “2010 Biodiversity Targets”, “Millennium Development Goals”, dan “Perjanjian mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian” (ITPGRFA).

TARGET 2010
Konferensi Para Pihak (COP-Conference of the Parties CBD) ke-7 di Kuala Lumur, Malaysia, telah memutuskan dalam Decision VII/30 (Ayat 1), untuk mengembangkan suatu kerangka kerja dalam mendorong dievaluasinya hasil yang dicapai dan kemajuan dalam melaksanakan Rencana Strategi dan Sasaran Keanekaragaman Hayati 2010. Bidang yang dicakup dalam kerangka kerja meliputi:
Pengurangan laju hilangnya komponen keaneakragaman hayati, termasuk;
i. biom, habitat dan ekosistem;
ii. spesies dan populasi;
iii. keanekaragaman genetik.
mendorong pemanfaatan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati;
memberikan perhatian terhadap ancaman terhadap keanekaragaman hayati, termasuk yang ditimbulkan oleh masuknya spesies asing yang invasif, perubahan iklim, pencemaran, dan perubahan habitat;
mempertahankan integritas ekosistem, dalam menyediakan barang dan jasa yang diberikan oleh keanekaragaman hayati dalam ekosistem, untuk menunjang kesejahteraan manusia;
melindungi pengetahuan tradisional;
menjamin pembagian keuntungan secara adil dan merata yang diperoleh dari pemanfaatan sumber daya genetik;
memobilisasi sumber daya finansial dan sumber daya teknologi, khususnya untuk negara-negara berkembang dalam melaksanakan Konvensi dan Rencana Strategi
Untuk masing-masing bidang, tujuan dan sasarannya beserta indikatornya telah ditentukan.

MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS
MDG telah diterima pada tahun 2001 oleh semua negara sebagai landasan untuk membangun dunia yang lebih baik dalam abad ke-21. MDG mewakili kemitraan global yang telah tumbuh dari komitmen-komitmen dan sasaran yang telah dibakukan pada Konferensi Puncak tahun 2002 (WSSD). MDG mendorong dilaksanakannya kegiatan dalam bidang-bidang pengurangan kemiskinan, peningkatan pendidikan, kesehatan ibu, kesamaan hak jenis kelamin, dan mengatasi kematian anak-anak, AIDS dan penyakit lain (malaria). Dalam waktu 5 tahun – 2015 – MDG diharapkan dapat mencapai tujuannya bila semua sektor bekerja sama dalam porsi mereka masing-masing. Negara miskin telah sanggup menyelenggarakan pemerintahan yang lebih baik, dan melakukan investasi pada masyarakatnya melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan. Negara kaya berjanji untuk mendukung negara miskin, melalui bantuan, penghapusan hutang, dan perdagangan yang lebih adil.
Pelaksanaan rencana tersebut di atas memerlukan koordinasi global yang berupa:
melakukan kampanye dan pengerahan untuk MDG melalui advokasi;
berbagi strategi terbaik untuk memenuhi persyaratan MDG dalam hal praktek inovatif, kebijakan dan perbaikan kelembagaan, cara pelaksanaan kebijakan, dan evaluasi pilihan keuangan;
memantau dan melaporkan kemajuan pelaksanaan MDG;
mendukung pemerintah dalam mewujudkan MDG pada lingkungan dan tantangan setempat.

INTERNATIONAL TREATY ON PLANT GENETIC RESOURCES FOR FOOD AND AGRICULTURE
Perjanjian mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian –-the International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture – telah diresmikan dan disahkan oleh FAO pada tanggal 3 November 2001, dalam sidang the 31st Meeting of the United Nations Food and Agriculture Organisation’s Conference di Roma, Italia. Perjanjian ini tidak terwujud begitu saja, tetapi melalui proses panjang dan perdebatan yang cukup sengit. Untuk dapat memahami dan mendalami kehadiran Traktat ini, perlu dipahami juga aspek-aspek materi yang dicakup di dalamnya dan latar belakang perkembangannya. Berikut ini adalah dua bagian utama latar belakang perkembangan pemikiran, yaitu: (1) sumber daya genetik dan perkembangan pengelolaannya, serta (2) intisari Perjanjian mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian (PSDGTPP).
Indonesia dilimpahi kekayaan alam berupa keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sumber daya genetik, yang merupakan wujud keanekaragaman hayati, ialah material genetik, yaitu bahan dari tumbuhan, binatang, jasad renik atau asal lain, yang mengandung unit-unit fungsional pewarisan sifat (hereditas). Dalam prakteknya, kepentingan dan penggunaan sumber daya ini untuk kepentingan manusia selalu mencakup pula informasi yang berkenaan dengan ekspresi genetik untuk menambahkan nilai pemanfaatannya. Nilai pemanfaatan ini terkandung di dalam sifat-sifat yang terdapat pada proses-proses yang berlangsung di dalam makhluk hidup. Berdasarkan kandungan ini, sumber daya genetik mempunyai nilai manfaat, baik secara nyata maupun secara potensial. Salah satu kelompok komponen dalam sumber daya genetik ini ialah sumber daya genetik tanaman, dan lebih khusus lagi ialah sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian (SDGTPP). Sumber daya ini digunakan sebagai bahan-bahan pangan, pakan, serat, pakaian, perlindungan (papan), dan kebutuhan dasar manusia lainnya yang harus selalu tersedia. Oleh karena itu, pengelolaan, akses, dan penanganan selanjutnya harus menjadi kepedulian manusia.
Pada awal tahun 1970-an diluncurkan program Integrated Rural Development (IRD) dengan menerapkan masukan lengkap yang berupa benih, bahan kimia, irigasi, mekanisasi, kredit, dan disertai penyuluhan. Akan tetapi dalam program pengembangan ini, sumber daya genetik dan keanekaragaman hayati tidak menjadi simpul penting. Akibatnya ialah terjadinya penggeseran varietas tua atau lama oleh varietas baru. Demikian terus-menerus, sehingga, keanekaragaman sumber daya genetik menjadi menyusut dan terancam kelestariannya. Secara umum telah diidentifikasi bahwa penyebab hilangnya keanekaragaman genetik ialah meluasnya pertanian modern yang komersial. Introduksi varietas baru telah menggeser keanekaragaman varietas tradisional. Kesadaran akan adanya erosi genetik berkembang dengan diketahuinya lingkaran yang harus diwaspadai
Kekhawatiran makin banyaknya SDGTPP yang hilang juga mendorong berbagai negara untuk mengembangkan pusat penelitian, termasuk koleksi komoditi-komoditi tertentu. Koleksi yang dikembangkan di negara-negara ini menyimpan aksesi yang cukup besar, sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadinya penguasaan akses secara sepihak dan bahkan monopoli. Pengembangan sumber daya genetik untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul dan terjadinya ancaman kepunahan berbagai varietas dan kerabat liarnya cenderung mendorong terjadinya pengendalian terhadap sumber daya genetik yang mendekati monopoli.
Pada tahun 1983, FAO melalui Resolusi 8/83 dalam Sidang ke-22 Konferensi FAO, Roma, 5-23 November, mengeluarkan suatu perangkat peraturan internasional tak mengikat untuk mendorong upaya pelestarian dan sekaligus menghambat laju erosi keanekaragaman genetik tanaman pertanian, yang dikenal sebagai The International Undertaking on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (IUPGRFA). IU ini cukup memadai dengan kedaulatan terhadap SDGTPP, tetapi sistem yang dikembangkan pada dasarnya berupa akses terbuka/bebas, yang menimbulkan kontroversi kepemilikan dan pemanfaatan. Pada tahun 1991 FAO mengeluarkan Resolusi 3/91 mengenai pengakuan terhadap kedaulatan bangsa atas sumber daya genetiknya. Resolusi ini telah membuka jalan untuk dikembangkannya penyempurnaan terhadap IUPGRFA. Sementara IUPGRFA berjalan, PBB menyelenggarakan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro, Brasil pada tahun 1992. Hasilnya antara lain berupa Agenda 21; Rio Declaration (Deklarasi Rio), United Nations Convention on Biological Diversity (CBD), dan putusan-putusan lain. Timbullah keinginan dari FAO untuk melakukan pendekatan dalam memfasilitasi akses terhadap sumber daya genetik dan pembagian keuntungan secara adil dan merata. Berdasarkan pemikiran ini FAO menggagaskan dilakukannya revisi terhadap IUPGRFA. Melalui berbagai diskusi dan perdebatan akhirnya Perjanjian mengenai Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian disahkan pada tahun 2001.

MENUJU INDONESIA HIJAU DAN PROFIL KEANEKARAGAMAN HAYATI DAERAH
Kesadaran akan makin meningkatnya kerusakan dan ancaman terhadap lingkungan hidup manusia, mendorong Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan suatu program dengan tema “Menuju Indoneisa Hijau”. Program ini dipicu oleh kiat Indonesia dalam memenuhi komitmennya mengenai ketetapan-ketetapan dalam Konvensi mengenai Keanekaragaman Hayati, khususnya satu tujuan yang berujung tiga, yaitu pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatan komponennya secara berkelanjutan, dan pembagian keuntungan hasil yang diperoleh dari pemanfaatan tersebut. Dalam program MIH ini, tekanan adalah pada kepedulian pemerintah daerah, khususnya tingkat dua (kabupaten) untuk menjaga, merawat dan mengembangkan keanekaragaman hayati di daerahnya. Program MIH merupakan ajakan simpatik pemerintah, melalui KLH, kepada pemerintah daerah untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, yang terlihat dari penilaian terhadap sasaran yang akan dicapai. Dalam sasaran ini peningkatan tutupan vegetasi dan menurunnya kemerosotan keanekaragaman hayati mendapat porsi yang paling tinggi.
KLH juga mengembangkan suatu program yang disebut Profil Keanekaragaman Hayati Daerah. Program ini dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran keanekaragaman hayati di daerah, termasuk spesies, ekosistem dan sumber daya genetik pada taraf di bawah spesies. Dengan dapat diketahuinya profil keanekaragaman hayati daerah, maka beberapa keuntungan dapat diperoleh, di antaranya peta keberadaan komponen-komponen keanekaragaman hayati di daerah, yang akan membantu pemanfaatan dan pengelolaannya, untuk menopang kelangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat, dengan selalu memantau perkembangan atau perubahan lain, sehingga keberadaannya akan dapat selalu dilestarikan dan pemanfaatannya selalu dapat berkelanjutan.

KEBERHASILAN PELAKSANAAN GPA
Kiat daerah menggalang kelompok kerja pemangku kepentingan merupakan dasar yang kokoh untuk memberhasilkan tujuan GPA. Dengan kerja sama dan koordinasinya dan pemenuhan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing sesuai kedudukan dan fungsinya, ramuan pemangku kepentingan ini akan mampu mengembangkan program dengan orientasi proyek-proyek GPA yang diproyeksikan pada program WSSD, yaitu Target Keanekaragaman Hayati 2010, MDG, dan PSDGTPP. Oleh karena itu, daerah perlu menyikapi pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian berdasarkan SDGTPP yang terdapat di daerahnya. Hasil kegiatan perlu didokumentasikan sehingga kemajuan dapat dipantau. Dengan demikian perencanaan untuk kegiatan selanjutnya dapat dirumuskan dan disusun.
Kesatuan gerak dan sinergisme perlu dikembangkan untuk meningkatkan pelaksanaan GPA, termasuk pengembangan kelembagaannya. Koordinasi dalam kelompok kerja antarpemangku kepentingan yang terkait memerlukan koordinator, yang harus ditentukan dalam rencana kerja kelompok kerja ini. Masing-masing pemangku kepentingan sudah mempunyai tugas pokok organisasinya, dengan demikian siapa melakukan apa telah dapat diidentifikasi. Hasil dari kegiatannya pun sudah dapat dikelola sedemikian sehingga dapat dimanfaatkan sedcara efisien. Pengembangan program jangka pendek dan jangka panjang perlu segera direncanakan oleh kelompok kerja dan dilaksanakan masing-masing sesuai perspektif dan porsinya.

BACAAN LEBIH LANJUT
Agar dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap, beberapa bahan bacaan disarankan untuk dikaji lebih lanjut. Yang penting di antaranya adalah:
Agenda 21. Merupakan rencana menyeluruh mengenai kegiatan yang perlu dilaksanakan secara global, nasional dan lokal oleh organisasi-organisasi Sistem PBB, pemerintah, dan Kelompok Utama di setiap bidang yang menyangkut dampak kegiatan manusia pada lingkungan.
Convention on Biological Diversity. Perjanjian internasional yang disahkan pada Pertemuan Puncak di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Konvensi ini mempunyai tiga tujuan utama, yaitu pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatannya secara berkelanjutan, dan pembagian keuntungan secara adil dan merata yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya genetik. Konvensi ini dianggap sebagai dokumen kunci dalam pembangunan berkelanjutan.
Global Plan of Action, termasuk Dekclarasi Leipzig. Disahkan oleh the International Technical Conference on Plant Genetic Resources. Leipzig, Jerman, 17-23 Juni 1996.
The International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture. Perjanjian ini memakan waktu selama 7 tahun untuk diselaraskan dengan CBD dari FAO International Undertaking on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture. Diasuh oleh FAO, Perjanjian ini akhirnya disahkan pada tanggl 3 November 2001. Perjanjian ini merupakan perangkat hukum internasional pertama yang berkaitan dengan pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian.
The Millennium Development Goals. Sasaran milenium ketiga yang diselenggarakan oleh PBB berkisar dari kemiskinan yang ekstrem sampai menghentikan penularan HIV/AIDS, dan menyediakan pendidikan dasar universal, semuanya itu dengan harapan dapat dicapai pada tahun 2015. Sasaran ini telah disepakati oleh negara-negara dunia dan semua kelembagaan pembangunan terkemuka.
The 2010 Biodiversity Targets. Sasaran ini disetujui dalam World Summit on Sustainable Development pada tahun 2002, di Johannesburg, Afrika Selatan. Kerangka target ini meliputi 7 bidang utama. Tujuannya adalah untuk keberhasilan dalam mengurangi laju kehilangan keanekaragaman hayati pada tingkatan global, regional dan nasioal, sebagai sumbangan untuk mengentaskan masayrakat dari kemiskinan dan bagi keuntungan semua bentuk kehidupan di muka bumi. COP CBD juga mengidentifikasi indikator untuk mengkaji kemajuan, dan mengkomunikasikan target 2010 ini pada tingkatan global, serta sasaran serta sub-sub sasaran untuk setiap bidang utama. Selanjutnya dikembangkan pendekatan umum untuk memadukan sasaran dan sub-sasaran kedalam program kerja Konvensi.
World Summit on Sustainable Development. Pertemuan Puncak ini juga disebut Pertemuan Puncak Johannesburg. Tujuannya adalah untuk meninjau kembali kemajuan dan/atau kemunduran yang telah terjadi sejak dikembangkannya Agenda 21 pada Pertemuan Puncak Pertama di Rio de Janeiro, Brazil, 1992. Dalam Pertemuan Puncak Johannesburg dibahas status pembangunan berkelanjutan, hambatan, dan mulai menentukan penyelesaian baru untuk masa depan.

(Makalah disajikan pada forum Konggres I Komisi Daerah (Komda) Plasma Nutfah tanggal 31 Juli -2 Agustus 2006 di Balikpapan, Kalimantan Timur).