Banda Aceh | Harian Aceh
Inflasi yang tinggi April 2008 bakal disusul kenaikan tingkat suku bunga perbankan. Bank Indonesia (BI) dalam waktu dekat diperkirakan akan menaikkan suku bunga sampai 1 persen.
Sejumlah analis memperkirakan, BI akan meningkatkan suku bunga berkisar 0.25% sampai dengan 1%. Ini berlawanan dengan prediksi langkah The Fed yang justru menurunkan suku bunga menjadi 2%. Kondisi bisa berbeda sebab inflasi yang semakin menggila terjadi di Indonesia.
Inflasi 0,57 selama April dan laju inflasi year on year (April 2008 terhadap April 2007) sebesar 8,96 persen, akan mendorong bankir menaikkan suku bunga kredit. Saat ini, bunga kredit di BCA berkisar 9%-12% per tahun. Sementara, bunga pinjaman di Bank Niaga berkisar 11%-14% per tahun.
Berdasarkan catatan Harian Aceh, enam bank di Indonesia telah memiliki asset senilai Rp877,97 triliun atau sekitar 45% dari total aset industri. Keenam bank besar tersebut juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 28,77%, dengan saldo per akhir triwulan pertama sebesar Rp441,59 triliun.
Tingkat BI rate kemarin sebesar 8% dengan SBI rate selama sebulan sebesar 7,99% dan SBI rate selama tiga bulan sebesar 8,04%.
Berdasarkan laporan dari BPS, pada bulan April 2008 terjadi inflasi 0,57 persen. Dari 45 kota tercatat 37 kota mengalami inflasi dan 8 kota deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palembang 2,38 persen dan inflasi terendah di Makassar 0,05 persen. Deflasi tertinggi di Lhokseumawe 0,91 persen dan deflasi terendah di Palangkaraya 0,09 persen.
Laju inflasi tahun kalender (Januari-April) 2008 sebesar 4,01 persen, sedangkan laju inflasi year on year (April 2008 terhadap April 2007) sebesar 8,96 persen. Inflasi komponen inti pada bulan April 2008 sebesar 0,34 persen, laju inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-April) 2008 sebesar 3,53 persen, sedangkan laju inflasi komponen inti year on year (April 2008 terhadap April 2007) sebesar 8,22 persen.
Sementara pertumbuhan perekonomian pada triwulan I mencapai 6.1% yang turun dari triwulan sebelumnya sebesar 6,3%.

Berisiko
Hanya saja, Penngamat ekonomi asal UGM, Aviliani di Jakarta, Senin (5/4), menyarankan BI sebaiknya mempertahankan tingkat bunga acuannya, BI Rate, sebesar 8,0 persen. “Menurut saya BI Rate jangan sampai naik, kalau naik dampak buruknya lebih banyak, terutama terhadap pasar modal,” katanya, seperti dikutip detikcom, Senin (5/5).
Menurut dia, kenaikan BI Rate akan mendorong terjadinya pelepasan kepemilikan surat utang negara (SUN) di pasar modal karena tingkat bunga yang naik.
Di sisi perbankan, kenaikan BI Rate juga akan mendorong peningkatan biaya dana yang potensial akan meningkatkan kredit bermasalah (NPL) perbankan. “Jadi dampaknya sangat buruk baik bagi pasar modal maupun bagi perbankan,” tegas Aviliani.
Ia mengatakan, selisih BI Rate dengan bunga dana The Fed saat ini sebesar 6 persen, sudah cukup tinggi memberikan keuntungan kepada investor, sehingga BI tidak perlu menambah selisih itu. “Dengan suku bunga The Fed saat ini sebesar 2 persen, BI Rate 8,0 persen sudah memberi return yang cukup besar. Kalau dengan 8,0 persen saja sudah memberi keuntungan besar, ngapain dinaikkan lagi,” katanya.
Menurut dia, justru yang harus diupayakan saat ini adalah penurunan BI Rate, sehingga selisih antara BI Rate dengan bunga Fed tidak terlalu besar. Peluang penurunan sebenarnya ada, namun risikonya terlalu besar.
Besarnya selisih antara bunga Fed Fund dengan BI Rate dikhawatirkan akan menarik dana dalam jumlah besar dari luar negeri ke Indonesia. Dana besar itu jika keluar secara tiba-tiba karena adanya sentimen negatif dapat mengakibatkan terjadinya gejolak finansial. “Aliran dana masuk yang tinggi ini yang dikhawatirkan memunculkan adanya bubble (balon),” katanya.
Dalam kondisi saat ini, kata dia, penentuan BI Rate tidak perlu hanya terpaku pada besaran inflasi, tetapi juga harus melihat faktor-faktor lainnya. “Jadi tidak perlu berdasar inflasi, tetapi juga harus dilihat apakah ada negara lain yang memberi yield (imbal hasil) setinggi Indonesia. Ternyata Indonesia tetap yang paling tinggi,” kata Aviliani.
Pada bulan lalu, BI tidak menaikkan suku bunga karena tertolong naiknya harga komoditas ekspor, kendati inflasi juga lumayan tinggi dan pertumbuhan ekonomi menurun. Kalangan pengusaha hendaknya mulai mencermati tingkat suku bunga mulai sekarang, agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan investasi. Miftah H. Yusufpati

BI RATE DARI
APRIL 2007

Periode BI Rate
3 April 2008 8.00%
6 Maret 2008 8.00%
6 Feb 2008 8.00%
8 Jan 2008 8.00%
6 Des 2007 8.00%
6 Nov 2007 8.25%
8 Okt 2007 8.25%
6 Sept 2007 8.25%
7 Agust 2007 8.25%
5 Juli 2007 8.25%
7 Juni 2007 8.50%
8 Mei 2007 8.75%
5 April 2007 9.00%

Sumber Bank Indonesia