Ambon– Kapolda Maluku Brigjen Pol.M.Guntur Ariyadi mengindikasikan kasus penyerangan 100 warga Desa Salemen ke Desa Horale, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat lalu (2/5) melibatkan jaringan teroris karena polanya terorganisir.

“Kami masih mengembangkan penyelidikan bagi 24 oknum warga Desa Salemen, termasuk Kadesnya, Ali Arsad Makatita yang telah ditetapkan sebagai tersangka guna mengungkap kemungkinan adanya keterlibatan jaringan teroris,” kata Kapolda di Ambon, Kamis.

Apalagi pola pengrusakan/pembakaran terhadap tiga unit fasilitas agama guna memicu terjadinya kerusuhan baru di Maluku, menyusul peristiwa sejak 19 Januari 1999 lalu, katanya.

Indikasi keterlibatan jaringan teroris ini terlihat dari terorganisirnya penyerangan yang diawali rapat pada 28 April yang dihadiri Kades Salemen dan stafnya, kepala pemuda Rahman Iahuhun, tokoh pemuda Anas Latutuaparaya.

Penyerangan dengan menggunakan bom rakitan, senjata api rakitan, panah dan tombak melalui jalan darat serta satu unit speedboat dan dua unit ketinting yang ditandai pembakaran mercon.

Karenanya, kata Kapolda, indikasi jaringan teroris “bermain” diperkuat dengan pembakaran “simbol-simbol agama”, sedangkan SD yang lokasinya berdekatan hanya mengalami kerusakan kaca jendelanya.

“Kami akan mengembangkan penyelidikan dengan memutuskan 24 orang tersangka yang sementara ditahan di Mapolres Maluku Tengah dan Polsek Amahai dipindahkan ke Mapolda Maluku agar tidak dipolitisir,” katanya.

Barang bukti yang ditemukan saat sweeping di Desa Salemen 5 Mei lalu yakni satu pucuk senjata api laras panjang dengan satu butir peluru jenis SS1 di dalamnya, satu pucuk senjata api laras pendek rakitan, 13 butir peluru kaliber 8,9 mm, satu buah bom rakitan aktif, sepuluh parang, satu pipa berukuran 15 Cm yang belum terisi bahan peledak dan satu buah katapel.

Kapolda juga menjelaskan tentang dugaan adanya keterlibatan oknum personil kepolisian, Bripda Pol.Erik Makatita yang telah dikonfirmasikan ternyata sudah disersi selama setahun.

“Kami memang menerima laporan keterlibatan Bripda Pol.Erik yang juga adalah anak Kades Salamen sebagaimana laporan warga Desa Horale dengan ketentuan sekiranya terbukti, maka pastinya diproses hukum dan bisa saja dipecat,”tegasnya.

Disinggung pengamanan dua Desa tetangga tersebut, Kapolda mengemukakan, masih ditempatkan dua regu polisi, satu regu TNI-AD serta sejumlah personil intel dan serse.

“Aparat keamanan di dua Desa tetangga itu juga telah diarahkan mengembangkan penyelidikan karena diindikasikan 24 tersangka adalah “tameng” di balik penyerangan dengan motif persoalan batas tanah sehubungan pencabutan 5.000 pohon jati mas,” ujarnya.

Penyerangan ke Desa Horale yang mengulangi pertikaian dengan warga Desa Salemen tahun 2006 itu mengakibatkan meninggalnya Edward Unwaru(85), Yosef Latumapina(35), Wehelmina Pattiasina(47) dan Yolanda Pattiasina(6).

Rumah di Desa Horale yang terbakar 54 buah dan rusak berat delapan unit serta enam unit ketinting, sedangkan di Dusun Saka dan Kampung Baru 16 rumah terbakar, enam rumah rusak berat dan 10 lainnya rusak ringan serta satu unit sepeda motor milik Kades Horale, Herman Latumapina terbakar.

Selain itu tiga unit fasilitas agama terbakar dan sebuah SD hanya rusak kaca jendelanya.