*Teror SMS Setan Masuk ke HP Abu Paloh Gadeng

FERAWATI, 19, warga Desa Jangka Keutapang, Kecamatan Jangka, Bireuen kini tergeletak di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA). Sebelumnya, ia sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Fauziah Bireuen karena terserang penyakit aneh setelah menerima panggilan di handphone (Hp)-nya.. “Ia menjadi korban telepon santet,” kata pamannya, Helmi.

Malam itu, Kamis pukul 20.00 WIB. Ferawati sedang duduk berbincang-bincang bersama temannya di rumah tetangga yang baru usai pesta perkawinan. Karena handphone (Hp) miliknya yang lagi dicas berdering, menunjukkan ada nada panggil yang masuk. Ferawati pun masuk ke dalam rumah bermaksud menerima panggilan itu. Tanpa curiga, ia mengangkatnya. “Mungkin karena kelupaan, Ferawati sempat berkata halo, tetapi penelepon tidak berbicara, lalu ia kembali bergabung dengan teman-temannya sembari mengeluh demam, seusai menerima telepon misterius itu,” ujar Ramli.

Beberapa detik kemudian, gadis itu terjatuh dan tidak bisa bicara. Mukanya kelihatan memerah. Ia mengerang kesakitan.

Melihat kondisi demikian, gadis ini segera dilarikan ke RSU dr. Fauziah Bireuen guna mendapatkan perawatan. Dua jam berada di sana, ia dibawa keluarganya ke Banda Aceh untuk mendapat perawatan lanjutan di RSU Zainoel Abidin.

Menurut Helmi, keluarga korban yang ditanyai wartawan melalui telepon seluler Jumat (9/5) siang disebutkan, kondisi terakhir korban sudah semakin membaik, pendengaran sudah kembali pulih meski belum sepenuhnya.

Selain Ferawati, ada juga korban lain yakni Halwani, 21, mahasiswi Akbid Ubudiyah, Asal Kuta Cane. Keduanya, kini sama-sama dikrawat ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (UGD-RSUZA). Keduanya masih terlihat lemah akibat shock yang mendalam.

“Sejarah penyakit Fera belum pernah ada yang seperti itu. Kejadian ini, kita duga setelah dia menerima telpon merah tersebut,” ungkap Helmi lagi.

Halwani juga diduga terkena telepon santet. Menurut Yusnida, 19, teman kost Halwani di Desa Lingke Kota Banda Aceh, kejadian bermula pukul 14.00 WIB. Saat itu, katanya, Halwani istirahat di kamar, tiba-tiba Hp bergetar. “Pas dipegang, Halwani langsung kesentrum hebat. Dia kemudian membuang Hp-nya. Ternyata layarnya berwarna merah hingga kini,”ucap Yusnida sambil menunjuk Hp terletak di depan kamar dengan layar merah dan bertulisan CONTACT SERVICE kepada wartawan yang datang ke lokasi pukul 16.00 WIB.

Kata Yusnida, Halwani sendiri dibawa ke rumah sakit pukul 15.00 WIB. Setelah kesetrum. Halwani seperti orang gelisah dan shock hebat serta mengaku jantungnya sakit.

Sebelumnya, Halwani kepada Yusnida juga pernah mengaku mimpi kalau dia seperti melihat HP-nya kontak tiga kali berturut-turut di malam yang berbeda hingga kenjadian betulan sekarang.

Kabar adanya dua korban Hp santet ini cepat merebak pada malam kejadian. Ratusan warga Bireuen mendatangi Unit Gawat Darurat (UGD) RSU dr Fauziah Bireuen untuk mengetahui dan memastikan kabar yang beredar.

Kejadian yang dialami warga Jangka tersebut sontak membuat Bireuen geger, karena sebelumnya banyak warga Bireuen yang sudah menerima pesan singkat di telepon genggam terkait peringatan adanya panggilan dari nomor yang berwarna merah supaya jangan diangkat, sebab akan berakibat fatal bagi yang menerimanya.

Ekses dari kejadian tersebut, Jumat (9/5) umumnya warga Bireuen menonaktifkan telepon genggam, karena takut mendapat panggilan dari nomor misterius tersebut. Hal itu juga dipicu dengan adanya kabar kalau pemilik telepon genggam disarankan untuk mematikan Hp-nya sejak pukul 10:00-15:00 WIB.

Menurut Wakil Kepala RSUZA, dr. Andalas, kedua korban tersebut masih dalam keadaan batas-batas normal. Dokter ini mengatakan isu yang berkembang di masyarakat tersebut tidak benar, apalagi tentang santet melalui HP. “Isu itu tidak benar. Korban masih dalam keadaan norma-norma saja. Mereka, seperti Ferawati mungkin cuma shock karena baru selesai UN,” ucap dr. Andalas.

Terot di Hp Ketua MPU

Peristiwa sakitnya dua orang yang kini dirawat di RSUZA kemungkinan adalah faktor kebetulan saja. Hanya saja, sampai kemarin, teror layanan pesan singkat (SMS) sudah dianggap sangat meresahkan. Para ulama juga mengaku kebanjiran pesan yang sama.

“Saya juga menerima SMS yang memperingatkan supaya tidak membuka HP, karena akan dikirim virus mematikan oleh sekelompok peramal ilmu hitam,” kata Tgk Haji Mustafa Achmad yang disapa Abu Paloh Gadeng tertawa.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara ini, kepada Harian Aceh, Jumat (9/5) meminta rakyat Aceh tidak mempercayai isu setan atau infra merah mematikan masuk via handphone. SMS itu juga menyebutkan ada ulama yang telah membuat pernyataan bahwa ada yang telah mati akibat menerima SMS yang dikirim melalui HP oleh nomor 0866 dan 0666. “Ulama apaan dia, menyesatkan orang lain,” katanya.

“Laporan yang kami terima, SMS sudah meneror banyak orang, terutama kaum ibu yang mudah terpengaruh sampai menuruti isi SMS; tidak mengaktifkan HP-nya,” kata pimpinan Dayah Darul Huda, Paloh Gadeng, Dewantara, Aceh Utara itu.

Menurut Abu, isi SMS setan tersebut antara lain mengingatkan pengguna ponsel agar tidak mengaktifkan HP pada Jumat Sabtu (hari ini). “Ditulis di SMS itu jangan buka HP sejak pukul 12.00 – 15.00 WIB. Ini pengumuman menyesatkan,” katanya, dan menambahkan, “Sebelum ajal pantang mati. Kalau sudah ajal, dalam peti terkunci pun kita sembunyi tetap akan mati.

Kalangan awam justru menilai teror SMS, ini sebagai peringatan sehingga sebagian masyarakat memilih mematikan Hp, kemarin. Sejumlah warga Abdya mengaku tak mau mengambil risiko sedikitpun untuk menghidupkan Hp.

Sulastri,22, Staf medis Puskesmas Kecamatan Lembah Sabil-Abdya kepada Harian Aceh mengaku tidak berani mengaktifkan Hp-nya setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya, “Saya rasa Abang juga tidak berani mengaktifkan Hp. Siapa tahu isu itu benar adanya. Lebih aman, kita matikan saja,” ungkap Sulastri yang mengaku gelisah setelah menerima pesan tentang santet Hp.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin, sejumlah staf Kabag Humas dan Protokoler Kantor DPRK Abdya juga sempat dihebohkan dengan sebuah SMS berita tentang korban santet melalui Hp. Seorang warga Manggeng, Abdya, bernama Muhammad Lidan,50, tubuhnya hangus terbakar sesaat setelah menerima telpon dari seseorang yang nomornya bewarna merah.

Karuan saja, sejumlah Anggota DPRK dan seluruh staf segera mematikan Hp mereka. Hal yang sama juga dilakukan sejumlah PNS instansi lainnya di Abdya yang pada umumnya sibuk membahas isu santet tersebut daripada menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka.

Tidak terbukti

Salah seorang staf di DPRK Abdya langsung menuju ke ke rumah Muhammad Lidan yang dikhabarkan hangus terbakar gara-gara menerima telpon dari seseorang yang nomornya berwarna merah. Akan tetapi, ketika sampai ke sana malah ditertawakan warga Desa Lhueng Baro Kecamatan Manggeng, Kebupaten Aceh Barat Daya tersebut.

Selain Muhammad Lidan, salah satu mahasiswi dari Kecamatan Babahrot dikabarkan pingsan gara-gara menerima panggilan telepon yang nomornya berwarna merah. Tapi kabar yang dihembuskan atas nasib mahasisiwa Perguruan Tinggi Al-Muslim Blangpidie, itu juga bohong.

“Mungkin warga kita sedang dikelabui oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang hanya hanya ingin memprovokasi agar terjadi kekacauan di daerah kita,” komentar salah seorang mahasiswi, saat Harian Aceh, mencek ke lokasi. “Namun demikian kita juga harus waspada.”

Sampai kemarin teror sms tentang kabar adanya korban Hp santet terus menyebar bak virus di wilayah Aceh. “Takutlah kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri pada-Nya” demikian nasihat Tgk. Muhammad Said, ulama dari Desa Ujung Tanah Kecamatan Lembah Sabil-Aceh Barat Daya. Fri/mrd/irs/del