Peukan Baro| Harian Aceh

Fahmi terus meronta dan menjerit-jetit menyayat hari. Ia meraung-raung. “Kasihan..!” ucap seorang perempuan berlinang air mata. Bayi lima bulan ini adalah Fahmi, sedangkan perempuan yang berlinang air mata itu adalah neneknya. Juariyah, nenek itu, membujuk agar Fahmi menghentikan tangisannya, tapi sia-sia. Tangis Fahmi bertambah-tambah.

Sementara warga mulai mengusung jasad Nurmiati menuju peristirahatan yang terakhir. “Ya Allah, kuatkanlah iman kami.. tabahkanlah kami..” suara Juariyah, lirih. Tak henti-hentinya ia mengusap air matanya, sementara cucunya, terus saja menangis.

Nurmiati,43, dua hari lalu ditembak orang tak dikenal dengan senapan AK-47. Ia tewas di depan anak dan suaminya di rumah kontrakan mereka di Gampong Sentosa, Sigli. Belum terungkap apa motif pembunuhan terhadap ibu tiga anak yang sehar-hari berdagang pakaian keliling ini. Kemarin, jenasah Nurmiati dikebumikan di Gampong Dayah Tungku, Bambi, Kecamatan Peukan Baro.

Warga yang melayat ke rumah duka, tidak mampu menahan tetesan air mata, menyaksikan nenek dan cucu yang dilanda kesedihan itu. Rasa geram ditimpakan pada dua lelaki yang tega memisahkan ibu dan anak-anaknya itu.

Dengan deraian air mata kesedihan, Juriah, minta kepada polisi untuk mencari pembunuh anaknya dan diberi hukuman setimpal dengan perlakuan mereka. “Kami menyerahkan ke pihak polisi untuk menghukum pelaku yang menembak anak kami,” pintanya, sambari menambahkan, keluarga tetap tabah menghadapi musibah yang menimpa anaknya.ari