Para pejabat senior AS menunda paket senjata seharga 11 miliar dolar dan pengiriman lusinan jet tempur F-16 untuk Taiwan, kemungkinan sampai Presiden George W. Bush melepaskan jabatannya, kata media AS, Kamis.
Pemerintah Bush harus mengirim sebuah pemberitahuan resmi kepada Kongres sebagai bagian dari proses untuk menyetujui penjualan senjata ke pemerintah-pemerintah asing, tetapi suratkabar The Washington Post yang mengutip sumber-sumber yang tidak disebut namanya mengatakan Menlu Condoleezza Rice dan Penasehat Keamanan Nasional Stephen Hadley telah membekukan transaksi itu.
Surat kabar itu mengatakan tidak ada perobahan dalam kebijakan yang agaknya telah dibuat itu, tetapi usaha-usaha untuk mengirim pemberitahuan itu dihambat oleh para pejabat senior termasuk Rice.
Suratkabar itu mengatakan pemerintah Taiwan secara tidak resmi mendesak agar pemberitahuan itu tidak dikirim dalam beberapa pekan ke depan karena mereka merampungkan perundingan dengan China mengenai pemulaian penerbangan carteran dan perluasan kunjungan wisatawan, sementara Rice dan para pejabat tinggi lainnya tampaknya segan menggangu Beijing pada saat perundingan-perundingan menyangkut program nuklir Korea Utara.
“Menurut penilaian kami saat ini pemerintah Bush menahan paket ini untuk masa depan,” kata Rupert Hammand Chmbers, ketua Dewan Bisnis AS-Taiwan kepada suratkabar tersebut.
“Kami perlu membuat satu keputusan sekarang, atau ini akan diserahkan kepada pemerintah baru mendatang.”
Pemberitahuan kepada Kongres perlu dibuat paling tidak sebulan sebelum para anggota Kongres reses Oktober jika penjualan itu akan dilakukan tahun ini, kata suratkabar itu. Bush akan melepaskan jabatannya Januari 2009.
Washington adalah pemasok senjata terbesar pulau itu, kendatipun mengalihkan pengakuan diplomatiknya dari Taipei ke Beijing tahun 1979.
Pada April utusan defakto Washington untuk Taipei menjamin kepada Presiden Taiwan Ma Ying jeou bahwa AS akan tetap mendukung secara militer pulau itu.
AS akan menjual kepada Taipei 30 helikopter serang Apache, 60 helikopter Black Hawk, delapan kapal selam dan empat baterai rudal pertahanan udara Patriot, tulis suratkabar itu.
Selain itu , katanya, pemerintah menolak menerima satu “surat atau permintaan” dari Taiwan bagi 66 jet tempur F-16 C/D, yang diperkirakan berharga lima miliar dolar.
AS wajib berdasarkan undang-undang untuk memberikan Taiwan alat-alat pertahanan diri jika keamanannya terancam, dan Deplu mengatakan itu akan tetap dilakukan. “Tidak ada perubahan dalam kebijakan AS. Pemerintah akan menepati janjinya melaksanakan Undang-Undang Hubungan Taiwan,” kata jurubicara Deplu Rob McInturff kepada wartawan dan menambahkan proses internal akan mempertimbangkan semua ekspor militer.
Di Taiwan , seorang pejabat kementerian pertahanan mengemukakan kepada suratkabar Taipei Times bahwa “komunikasi-komunikasi reguler dan kerjasama kami dengan AS tetap utuh.”
Dari Beijing dilaporkan, China dan Taiwan memulai perundingan pertama dalam sepuluh tahun, Kamis, yang dipusatkan hanya pada beberapa isu praktis dan menghindari masalah-masalah politik.
Hanya dua topik dalam agenda yaitu memulai penerbangan langsung, yang dilarang sejak pasukan Nasionalis kalah dan lari ke pulau itu menjelang akhir perang saudara tahun 1948, dan membuka pintu-pintu Taiwan bagi wisatawan-wisatawan China.
Perunding penting Taiwan P.K Chiang, yang memimpin badan setengah resmi yang dibentuk untuk berunding dengan China karena tidak ada hubungan resmi akan berembuk dengan sejawat Chinanya, Chen Yunlin di Wisma Tamu Negara Diaoyutai, satu tempat populer bagi perundingan dan pertemuan tingkat tinggi.
Tim Chiang yang beranggotakan 10 orang termasuk para pejabat senior pemerintah menurut rencana akan menandatangani satu perjanjian Jumat mengenai penerbangan dan wisatawan. Mereka akan pulang ke Taiwan, Sabtu.
China dan Taiwan terakhir melakukan perundingan secara resmi tahun 1999, sebelum mantan Presiden Taiwan Lee Teng hui yang membuat Beijing marah karena menyebut hubungan kedua pihak sebagai “satu hubungan antar negara”.
China mengklaim kedaulatan atas Taiwan sejak tahun 1949, ketika Partai Komunis yang dipimpin Mao Zedong menang dalam perang saudara dan Partai Nasionalis (KMT) yang dipimpin Chiang Kai shek lari ke pulau itu. Beijing bersumpah akan menguasai Taiwan , jika perlu dengan kekuatan militer.
China, ingin menghindari pertikaian diplomatik menjelang Olimpiade Beijing Agustus, diperkirakan akan menjalankan sikap bersahabat pekan ini.
Hubungan kedua pihak menghangat setelah Ma Ying jeou dari KMT meraih kemenangan dalam pemilihan presiden Maret lalu.
Sekarang tidak ada penerbangan langsung antara kedua pihak itu kecuali pada hari-hari libur penting , yang berarti ratusan warga Taiwan yang tinggal dan bekerja di China harus menggunakan pesawat melalui Hong Kong , Macau atau wilayah-wilayah ketiga.ant/mhy