Paya Bakong | Harian Aceh
Empat bom rakitan raksasa peninggalan masa konflik seberat tiga ton dimusnahkan oleh Tim Jibom di tiga lokasi terpisah, Desa Matang Panyang, Desa Asan Seulemak-Alue Bai, Desa Blang Dalam, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.
Kapolres Persiapan Aceh Utara, AKBP Yosi Muhamartha melalui Kapolsek Paya Bakong, Iptu Sugiarto, kepada wartawan, Kamis (12/6) mengatakan, empat bom rakitan telah dimusnahkan dengan dua cara yang berbeda. “Dua bom rakitan kami disporsal ditempat dengan cara membuat lubang menggunakan alat berat, sedangkan dua bom lagi diberi bahan kimia supaya bom tersebut tidak aktif lagi dan hancur,” katanya.
Seperti Bom yang terletak di Desa Matang Panyang, posisi bom berada didalam sumur rawa-rawa sawah yang terletak di dekat lokasi selokan sawah, sehingga bom tersebut harus dimusnahkan dengan cara diberi bahan kimia yang isinya berupa bahan-bahan pemusnah bom yang berfungsi untuk meleburkan komponen-komponen besi dan bahan peledak yang masih aktif didalam bom tersebut”, ujarnya.
Danki Brimob KI-4 Jeulikat, Lhokseumawe, AKP Ian Rizkian mengatakan, sejak Januari 2008 sampai dengan sekarang sudah 150 unit bom ditemukan. Jenis bom yang ditemukan antara lain bom pabrik, seperti Mortil, Granat, Plontar, Glm, dan bom rakitan yang berdaya ledak rendah, namun dapat berbahaya bagi jiwa manusia.
Selama ini, lokasi temuan bom yang paling banyak adalah di Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara. Sedangkan tim yang turun ke lokasi penemuan bom tersebut adalah Tim Jibom, Jajaran Polsek dan Koramil Paya Bakong. Tim ini bertugas mengamankan lokasi bom yang di Disporsal.
Sementara ini pemusnahan empat bom rakitan tersebut berjalan lancar dan tidak ada korban jiwa karena masyarakat yang berada dilokasi sangat patuh serta lebih mengerti bagaimana bahaya terhadap tekanan ledakan bom tersebut. “Bom tersebut disporsal apabila tidak ditanam radius ledakannya bisa mencapai 150 meter,” kata Ian.
Ketua KPA Wilayah Pase, Tgk Zulkarneini, menyarankan kepada anggotanya untuk memberitahukan keberadaan bom-bom peninggalan masa konflik. “Masalah bom peninggalan konflik tidak disebutkan dalam MOU, sehingga bom-bom ini terlupakan bahkan sebagian yang memasang atau merakit bom tersebut telah meninggal dunia,” kata Tgk Zulkarneini.
Kepada KPA atau Kombatan GAM, ia meminta, untuk memberitahu keberadaan bom tersebut agar tidak ada lagi korban jiwa seperti insiden di Paya Bakong yang lalu.
Menurut perkiraan, masih ada bom peninggalan konflik yang belum ditemukan masyarakat. “Kami berharap agar masyarakat mau memberitahukan kepada kami karena kebanyakan bom yang ditemukan,” katanya. Zfl