CANG PANAH

Haba Miftah H. Yusufpati

Kebanyakan orang tetap saja tersinggung bila kenyataan pada fisiknya yang dianggap kurang, dieksploitasi dengan cara dilekatkan pada namanya, sebagai julukan. Dulu, lantaran banyak orang sulit menyebut nama saya, maka sering diplesetkan menjadi Michel. Nama itu dipopulerkan oleh Yusuf Hamka, tokoh muslim Tionghoa, yang menurut saya memang rada iseng. Sejak itu, teman-teman banyak memanggil saya Michel, terutama kalangan pengusaha nonpri yang sulit menyebut nama asli saya, yang kearab-araban itu.
Usut punya usut, penamaan Michel ternyata agak menghinakan. Michel, menurut arsiteknya – Yusuf Hamka– adalah kepanjangan dari Miftah Keling. Jadi jika ditulis seharusnya Mikel. Agak tersinggung, sih, tapi karena nama itu menjadi populer, saya enjoy aja. Yah, biar disangka agak kebarat-baratan.
Soal julukan atau nama panggilan (Inggris: nickname) adalah nama seseorang yang bukan nama asli sebagaimana pemberian orangtuanya. Nama julukan bersifat tidak resmi, namun bersifat sosial dalam suatu komunitas tertentu.
Nama julukan bisa jadi diambil dari bagian dari nama orang itu sendiri dan/atau bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan nama orang tersebut, misalnya berasal dari bagaimana seseorang melihat atau dari sesuatu yang biasa mereka kerjakan.
Dan memang, nama julukan bisa saja terdengar dan terasa kasar serta tak menyenangkan. Namun sebaliknya, dapat terdengar dan terasa manja bila dipakai oleh orang yang yang mencintai atau menyayangi orang tersebut.
Sebuah nama julukan dapat bercirikan karakter atau ciri khas yang gampang untuk diingat. Contohnya; saya tadi atau yang lain adakah “si botak”, misalnya karena orang tersebut berkepala botak. Nama julukan dapat juga diartikan sebagai alias atau nama samaran, julukan atau sebutan.
Gubernur Irwandi Yusuf membuat julukannya sendiri Teungku Agam, atau Tgk. Kamaruzzaman berjuluk Ampon Man dsb. Soal julukan ini orang Aceh sangat kaya dan rata-rata tokoh punya nama alias. Di zaman nabi, juga ada Abu Hurairah, sahabat nabi, disebut sebagai bapak kucing karena sayang dengan binatang itu. Dan masih banyak contoh lainnya.
Dan, soal panggilan ini, saya menjadi teringat dua sahabat saya ketika masih mahasiswa. Mereka adalah Sidik M. Nasir dan M. Yusuf. Keduanya adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada suatu ketika ia ikut pengkaderan sebuah ormas non-Islam (boleh jadi melakukan penyusupan?), maka ia merasa perlu mengubah namanya menjadi Dicky Simon dan Theo Josef. Sampai kini, saat rambutnya sudah mulai memutih, nama itu tetap melekat pada dirinya. Saya dan teman-teman lain tetap saja memanggil mereka Pak Dikcy bagi Sidik dan Pak Theo bagi Yusuf. Bagi mereka nama itu tak menjadi beban, kendati tanpa harus di peuseujuk dulu memaki bubur merah-bubur putih, macam orang Jawa. “Nama ini malah bikin hoki,” katanya.
Kedua sahabat saya, pantas tak perlu risih dengan nama itu karena tak berkait dengan pelekatan fisik pada namanya. Beberapa hari lalu, warga Tamil di Kota Medan memprotes Dinas Perhubungan setempat. Pasalnya, Jl. Madras Hulu, di permukiman mereka diganti menjadi Jalan Kampung Keling.
“Warga Tamil terhina. Penyebutan apalagi penulisan Kampung Keling pada plang nama jalan atau rambu lalulintas itu kami anggap pelecehan,” kata juru bicara masyarakat Tamil Kota Medan, Alegesen Moses pada pertemuan dengan Dinas Perhubungan Kota Medan.
Dia mengakui, protes nama Kampung Keling terlambat karena sebutan itu sudah puluhan tahun berlangsung. “Itu memang kesalahan orangtua kami, tapi kami tidak mau lagi itu terjadi. Jadi kami berharap pelestarian terminologi Kampung Madras dan suku atau orang Tamil disosialisasikan atau dilestarikan,” katanya.
Warga Tamil memang keling, toh tidak mau kehitaman kulitnya yang manis itu dieksploitasi dan menganggap sebagai pelecehan. Membaca berita protes warga Tamil ini saya tersenyum, teringat akan diriku sendiri.
Tapi bila saya pikir-pikir, kenapa mereka marah, ya? Bukankah hitam itu juga warna yang indah. Orang bilang, manis. Kopi Aceh hitam, sangat disuka. Apa hitam itu identik dengan warna buruk? Saya pikir nggak juga.
Tapi jujur saja, urusan wanita, saya termasuk berselera dengan wanita putih, mulus. Lha, kalau soal ini, naluri tak bisa dibohongi. Tapi tak jarang pria justru mencari yang hitam manis, kan? Jadi, ”hitam… siapa takut?”