*Bupati Aceh Utara Siap Terima Mereka

Nisam Antara | Harian Aceh
Gerakan tandingan terhadap tuntutan pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) mulai menggeliat. Sekitar seratusan warga, mengaku wakil suku Gayo dari sejumlah desa, menyatakan memisahkan daerahnya dari Aceh Leuser Antara (ALA) dan memilih masuk Aceh Utara.
Ratusan orang perwakilan masyarakat di Desa Senie Antara dan Rikie Musara, Kecamatan Permata, tersebut menyampaikan sikapnya di depan Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, dalam dialog yang berlangsung di bekas kantor Camat di Desa Alue Dua, Kecamatan Nisam Antara, Kamis (12/6).
Juru bicara mereka, Eri Kirana MA, 48, menyatakan mengeluarkan kecamatan Permata dari Kabupaten Bener Meriah dan menghendaki bergabung dengan Aceh Utara karena pemerintah kabupaten kurang memperhatikan daerah ini. “Sejak tahun 1989 kami tak diperhatikan sama sekali, baik sarana jalan, pendidikan, kesehatan, hingga rumah Allah (Masjid). Kami atas nama suku Gayo, juga tak mau bercerai dari Aceh, sehingga memilih bergabung dengan Aceh Utara, “ ucapnya.
Masyarakat dari dua desa tersebut sudah mengerumuni bekas kantor Camat Nisam, sejak pukul 08.00 Wib, Pagi kemarin. Sedangkan pertemuan dengan
Bupati Aceh Utara, dimulai sekira pukul 14.00 Wib siang.
Pertemuan Bupati Aceh Utara dengan masyarakat dua desa ini hanya beberapa hari berselang pasca terjadinya insiden Nisam Antara yang konon ada penyerangan aparat dari Bener Meriah ke wilayah tersebut, kendati akhirnya dibantah aparat setempat. Peristiwa ini juga di tengah masih adanya sengketa perbatasan antara Bener Meriah dan Aceh Utara.
Warga dari Suku Gayo ini mengungkapkan tidak pernah sekalipun memperoleh bantuan, kecuali hanya jatah beras raskin 25 karung per desa. Parahnya lagi, tempat pendidikan masih berstatus swadaya satu atap antara bangunan SMP dan SMA. “Kalau orang di Bener Meriah berebut meminta Aceh Lauser Antara (ALA), sedangkan kami tidak ingin pindah sejengkal pun dari Bumi Serambi Mekkah, karena Pemda Bener Meriah sangat kejam menelantarkan rakyat kecil yang tinggal di daerah terpencil seperti kami ini, “ tutur Eri.
Kata petani kebun ini, persoalan belum adanya bantuan korban konflik, untuk dana perbaikan rumah terbakar akibat konflik berjumlah 120 Unit dan bantuan perbaikan rumah bagi bagi korban banjir bandang berjumlah 22 Kepala Keluarga (KK) pada tahun lalu.
Bahkan yang paling mengherankan lagi, pada saat dua desa tersebut menanyakan perihal status keberadaannya ke Pihak Pemda Bener Meriah, menyebutkan enggak tahu menahu soal peta, apa masuk Bener Meriah atau Aceh Utara. Sehingga kehidupan masyarakat pedalaman ini terlunta-lunta tak tahu kemana pemimpin daerahnya,“ katanya.
Hal yang sama dikatakan Bantasyam, 52, tokoh masyarakat Desa Rikie Musara. Menurut dia, kondisi masyarakat di daerahnya kini sangat memprihatinkan, tanpa ada bantuan sama sekali untuk mereka. Bahkan Anak-anak putus sekolah mencapai seratusan orang.
Dimana jarak ke tempat sekolah harus melalui rute sepanjang 30 km ke Ibukota Kecamatan Permata atau ke Desa Senie. Ironisnya lagi, tak ada lintasan yang dapat dilalui oleh rakyat kecil, terkecuali hanya melalui jalan tikus. “Kami akan memberikan surat pernyataan bersama, bahwa bersedia pindah keluar dari Bener Meriah dan memilih Aceh Utara, dengan melengkapi foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Semua bukti itu akan kami nyatakan secara bersama-sama,“ ujarnya.
Apalagi Krueng Pasee, sebut Abu Mukmin, 35, salah seorang perwakilannya, terletak di pedalaman desa itu. Ini menandakan, kalau kedua Desa ini merupakan bagian dari Aceh Utara, “silahkan lihat peta Aceh”.
Bantasyam juga meminta Bupati Aceh Utara bersedia menerima mereka sebagai bagian dari penduduknya, sehingga, akhirnya dapat bergabung dengan Kecamatan Nisam Antara yang berada persisnya diperbatasan.
Menanggapi keluhan itu, Bupati Ilyas A Hamid, menyatakan keprihatinannya mendalam terhadap nasib masyarakat Desa Senie dan Rikie. Kata Bupati, permasalahan itu akan dilaporkan ke Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.
Selanjutnya juga, akan dilakukan koordinasi dengan pihak Pemerintahan di sana, termasuk membicarakan perihal tapal batas antara kedua kabupaten yang hingga saat ini belum jelas.
“Saya akan menerima siapapun yang ingin bergabung dengan Aceh Utara. Rakyat Gayo, kan keturunan Aceh asli tertua. Dan kita kan mengupayakan semaksimal mungkin terkait penyelesaiaan persoalan tersebut,“ tegas Ilyas.
Secara keseluruhan jumlah penduduk Desa Sinie dan Rikie sekitar 1500 jiwa. Untuk Desa Sinie berjumlah 300 KK atau 1100 jiwa dan Desa Rikie berjumlah 131 KK atau 350 jiwa lebih. win