CANG PANAH

Haba Miftah H. Yusufpati

Kita ini memang gampang ditipu. Soal ini tak mengenal strata kelas. Dari kelas teri sampai kelas kakap, dari rakyat jelata sampai presiden. Tapi, yang pasti, selalu saja rakyat paling sering kena tipu.
Saat saya meninggalkan Tanah Rencong, isu paling berkecamuk adalah isu handphone merah, yang konon sinyal pengiriman santet. Orang ramai-rame melahap pulsa mengirim pesan ancaman itu kepada sanak keluarga. Secara akal sehat, ini jelas tipuan.
Nah, begitu menginjakkan kaki ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, saya dibuat terbengong-bengong mendengar kabar penipuan terhadap presiden soal blue energy dari air laut temuan Joko Suprapto.
Konon, bahan bakar berbahan dasar dasar air itu dipamerkan dengan bangga oleh Presiden SBY dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Maka tersiarlahke seantero dunia temuan warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur itu.
Singkat cerita, ternyata blue energy dari air laut itu, hanyalah isapan jempol belaka. Sang penemu ide tipu ini mempermalukan presiden dan kini berurusan dengan pihak berwajib.
Soal tipu blue energy, mengingatkan publik pada peristiwa tipu-tipu mirip itu, tempo dulu. Cerita tipu yang saya maksud adalah tentang kisah bayi yang bisa mengaji yang terjadi tahun 1970-an.
Konon di Aceh ada perempuan yang hamil selama dua tahun dan bayinya bisa mengaji, sampai-sampai seorang menteri menempelkan kuping di perut yang ternyata berisi tape recorder.
Pada 1980-an juga ada seorang yang mengaku ahli komputer dari Jerman bernama Jusuf Randi, mengelabuhi menteri Polkam. Ia akhirnya didepak dari Indonesia karena dituduh melakukan pelanggaran keimigrasian. Trus ada juga peristiwa penggalian situs Batutulis yang diprakarsai seorang menteri di Bogor karena diduga ada harta karun.
Akhirnya kita tahu bahwa semua yang mengagetkan dan hebat-hebat itu mengandung kesalahan, kebohongan, dan juga seringkali diakhiri dengan penipuan. Nah, terbaru adalah soal soal santet Hp dan blue energy itu.
Ada yang bilang, penipu ulung selalu menggunakan beberapa gelintir kebenaran serta dibumbui dengan sebuah kisah atau dongeng yang menawan dan sukur-sukur menggandeng emosional.
Kisah bayi dalam kandungan yang mengaji itu, tentu jelas sekali ada emosional yang dibawanya, dalam hal ini soal agama. Boleh jadi ada sedikit ketakutan bagi yang menyangkal suara orang mengaji, karena takut dinilai atau dianggap tidak percaya dengan agamanya. Ini sebuah fenomena keagamaan.
Pejabat kena tipu, kata Bang Ozan –teman chatting saya– boleh jadi karena karma (bagi yang percaya). Tapi biasanya rakyat yang selalu kena tipu, apalagi kalau menjelang pemilu atawa pilkada. Calon pejabat jual kecap, tapi begitu menjabat yang keluar cuma warna hitamnya (biasanya, kan, warna kecap hitam). “Manisnya sudah hilang,” kata Bang Ozan nyeletuk.
Itu pula yang membuat orang kecil, macam saya ini, bengong; mengapa seorang presiden kena tipu. Saya ber-khusnodzon saja; SBY kena tipu karena presiden juga manusia; makhluk yang lemah dan tempat lupa.
Seperti orang lain, biasanya, kena tipu memang karena lemah. Tertipu isu santet karena lemah iman, tertipu teman bisnis karena lemah pikiran, tertipu pejabat karena posisi lemah, tertipu undian gratis karena lemah harta dan tertipu berkali-kali; ya, melongo saja: ’Ketpu lagi, ketipu lagi..!”