Miftah H. Yusufpati

Agak tergelitik juga pikiran saya, ketika berdiskusi dengan aktor laga, Ray Sahetapy. Bagaimana tidak, budayawan ini tiba-tiba menyodorkan tema berat; menggungat nama Indonesia. “Negeri ini lebih tepat bernama Republik Nusantara ketimbang Republik Indonesia,” katanya dengan mimik serius.
Mengapa mantan suami Dewi Yul ini tiba-tiba agak gendeng seperti itu? Rupanya, seniman yang pingin nyebrang menjadi politisi ini tengah bicara tentang nilai-nilai nasionalisme yang kian luntur, identitas bangsa yang sudah ditanggalkan, budaya leluhur yang terkubur, dan banyak lagi.
Dia juga menyebut banyak masalah yang bikin pening misalnya krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, serta ancaman kelaparan dan sebagainya. Satu problem serius yang saling terkait satu sama lain.
Saya menjadi teringat dengan ucapan seorang teman asal Aceh, Tgk. Mansur Amin. Kata dia, Indonesia sebenarnya memiliki Aceh, punya Minang, juga Sunda, Bugis, Dayak, Jawa, dan masih banyak lagi. Namun rumah budaya itu dibiarkan lapuk dan hancur, sementara pada tingkat atas hukum politik berantakan.
Itu sebabnya saya menjadi terbius dengan ucapan Ray. Seingat saya, nama Nusantara dikenal di zaman Gajah Mada, ketika mahapatih Majapahit ini bersumpah untuk tak bersenang-senang sebelum menguasai Nusantara. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna; nusa (pulau) dan antara (lain).
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang juga dikenal sebagai Dr. Setiabudi, memperkenalkan nusantara untuk menyebut wilayah (Indonesia) yang tidak memiliki unsur bahasa asing (india).
Definisi Nusantara yang diperkenalkan Setiabudi berbeda dengan definisi pada abad ke-14. Pada masa Majapahit, Nusantara didefinisikan sebagai wilayah yang akan ditaklukkan. Setiabudi tidak ingin mengadopsi definisi zaman jahiliah ini, tetapi dia mendefinisikan Nusantara sebagai seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Sedangkan kata Indonesia berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti India dan nesos yang berarti pulau. Jadi kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India.
Tentang Nusantara, boleh jadi yang dimaksud Ray seperti yang dinyatakan Dr. Setiabudi itu, tak menggunakan unsur bahasa asing. “Masa’ kita disebut kepulauan India, kan nggak benar,” celutuk Ray.
Menurut Wikipedia, Nusantara pada zaman Majapahit dan Kepulauan Melayu yang merupakan dasar dari konsep (Alam Melayu) adalah dua konsep yang memiliki kesamaan cakupan geografis namun terdapat perbedaan sejarah sehingga dua konsep ini tidak dapat digunakan untuk merujuk hal yang sama.
Konsep “Nusantara” murni berasal dari kebudayaan asli Indonesia (Majapahit). Hal ini terlihat dari kata Nusantara sendiri yang tidak diambil dari bahasa asing (India).
Bangsa Indonesia sebagai keturunan asli (bukan pendatang) dari Majapahit memiliki hak mutlak atas terminologi Nusantara. Sebagai pewaris terminologi Nusantara, maka hakikat dari definisi terminologi ini yaitu wilayah negara adalah tetap. Jikalau dahulu Nusantara merujuk ke wilayah Majapahit, maka sekarang Nusantara merujuk pada wilayah Indonesia.
Lalu mengapa soal nama dimasalahkan? Ray Sahetapy menyampaikan keprihatinan; “Kita ini selalu mendahulukan barang asing, dan tak pernah menggunakan barang sendiri. Potensi bangsa tak digunakan dengan baik karena tergiur dengan apa-apa yang berbau luar negeri. Kita tidak lagi bangga dengan budaya dan potensi bangsa kita sendiri.”
Yah, kalau soal itu, memang menjadi keprihatinan banyak orang. Contoh kecil, artis lokal saja sekarang lagi rame-rame kawin sama bule.
Kini arus budaya global memang mempengaruhi gaya hidup, selera berkesenian dan pola pikir masyarakat. Kita kurang memiliki kemandirian dalam berbudaya. Sehingga daya tahan kita rapuh terhadap perubahan yang ada di sekitar kita. Padahal jika kita memiliki ketahanan dan komitmen budaya yang kuat, maka masyarakat akan mampu menyaring perubahan yang masuk dan tidak tenggelam di dalamnya.
Nah, kembali ke urusan nama. Apa kalau ganti nama warga bangsa ini akan berubah lebih baik? Memang ada kepercayaan di Jawa; bila Bambang sakit-sakitan maka patut ganti agar nggak keberatan nama. Nama Paijan lebih pas, enteng dan nggak perlu gagah-gagahan..!