Haba Miftah H. Yusufpati
Para pendukung SBY memang benar-benar ‘menjual’ peristiwa dijadikannya Aulia Pohan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Peristiwa ini benar-benar menjadi bahan kampanye yang efektif dari gang ke gang bahkan di forum majelis taklim sampai masjid-masjid, setidaknya di Jakarta dan Bekasi.
Tak terkeculi seorang khatib di sebuah masjid dekat rumah saya. Dengan bahasa yang lentur dan mengalir sang khatib di mimbar Jumat mengutip sebuah hadist: “Rusaknya orang-orang terdahulu, itu karena ketika yang mencuri adalah orang terhormat, maka mereka melepaskannya dari jerat hukum. Tapi ketika yang mencuri orang lemah, maka mereka menjeratnya dengan hukuman. Saksikanlah! Andai Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”Khatib itu lalu menekankan: Itulah ketegasan Nabi dalam menegakkan hukum, kendati pada orang yang paling disayanginya sekalipun.
Muara kutbah sudah bisa ditebak yakni soal penegakan hukum di negeri ini. Pertama, penegakan hukum mesti tak pandang bulu, mau kaya atau miskin, mau saudara kandung atau orang lain mesti dikenai sanksi bila bersalah.
Politik memang sudah lama masuk ke relung-relung masjid. Agama sudah disatukan dengan politik. Ini bukan hal baru. Emosi beragamaan sudah sulit dipisahkan dengan emosi kepartaian. Kalau sudah begitu ‘ayat-ayat’ agama pun ikut menjadi dalil bahan kampanye.
Bicara soal kampanye, saya menjadi tergelitik dengan sikap Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin yang sangat sewot atas iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memasukkan nama KH Ahmad Dahlan sebagai ‘bahan kampanye’ hari Pahlawan versi PKS.
Din seakan-akan menuntut agar PKS meminta izin terlebih dahulu kepada warga Muhammadiyah untuk memasukkan Kong Dahlan sebagai pahlawan versi partai itu. Terus terang, saya yang bukan kader PKS ini, agak bingung kenapa harus begitu? Kalau yang protes itu anak cucu Kong Dahlan mungkin saya mengerti. Paling tidak PKS perlu member semacam honor untuk peran yang dimainkan leluhurnya itu. Tapi apa hak Din sewot? Jawaban PKS menurut saya masuk akal. “KH Ahmad Dahlan itu sudah milik bangsa ini..”
Rasa-rasanya, politik di negeri ini semakin liar. Mereka sudah sulit membedakan mana kawan mana lawan. Pikiran usil saya kadang muncul, apa tidak sebaiknya PKI itu dihidupkan saja, biar partai-partai Islam bersatu karena punya musuh bersama.