Haba Miftah H. Yusufpati

Mestinya harga BBM turun, karena harga minyak dunia sudah turun tajam. Logikanya begitu. Karena saat pemerintah dulu menaikkan harga BBM alasannya harga minyak dunia naik. Kini sudah turun, mestinya, kan, turun lagi.
Begitu tema diskusi kami di warung kopi, sebelah kantor. Tapi pemerintah toh tak menurunkan harga BBM, kecuali Premiun Rp500/liter, itupun pada Desember mendatang.
“Hitung-hitungannya belum pas,” kata Teguh.
Jawaban Teguh ini mendapat cemoohan teman-teman. “Waktu menaikkan harga hitungannya selalu pas. Giliran turun nggak pas-pas,” sambar Wisnu gregetan.
Begitulah saling sambar. Diskusi membuat gaduh suasana warung kopi. Bu Umi, pedagang kopi, nyeletuk: “Kalau pejabat sudah naik, nggak mau turun. Harga barang juga begitu…”
Kami semua terbahak.Saya menduga apa yang dibilang Bu Umi dan Teguh adalah persoalan kalkulasi politik. Ya, matematika politik.
Ada pendapat terkenal yang memandang matematika sebagai pelayan dan sekaligus raja dari ilmu-ilmu lain. Sebagai pelayan, matematika adalah ilmu dasar yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan lain. Sejak masa sebelum masehi, misalnya zaman Mesir kuno, cabang tertua dan termudah dari matematika (aritmetika) sudah digunakan untuk membuat piramida, digunakan untuk menentukan waktu turun hujan, dsb.
Sebagai raja, perkembangan matematika tak tergantung pada ilmu-ilmu lain. Banyak cabang matematika yang dulu biasa disebut matematika murni, dikembangkan oleh beberapa matematikawan yang mencintai dan belajar matematika hanya sebagai hoby tanpa memperdulikan fungsi dan manfaatnya untuk ilmu-ilmu lain. Dengan perkembangan teknologi, banyak cabang-cabang matematika murni yang ternyata di kemudian hari bisa diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, termasuk juga politik.
Sedangkan politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Nah, bila digabung ilmu untuk meraih kekuasaan itu butuh kalkulasi. Pengambilan keputusan pun butuh kalkulasi. Bedanya, matematika itu ilmu pasti, sedangkan politik adalah menjadikan yang tak mungkin jadi mungkin, yang tak pasti menjadi pasti dan begitu sebaliknya yang pasti menjadi tak pasti.
Singkat cerita, mana yang menguntungkan itu yang diambil. Dalam politik dua ditambah dua tak selalu empat. Bisa lima, bisa 25 bahkan bisa berapa saja, tergantung penguasa.
Jadi jangan berharap harga BBM bakal turun paralel dengan turunnya harga minyak dunia. Hitung-hitungannya menggunakan matematika politik. Selanjutnya, tunggu saja nanti dekat-dekat Pemilu.