CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Aulia Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu akhirnya ditetapkan juga sebagai tersangka korupsi dalam kasus penjarahan duit Bank Indonesia (BI). Bejo, pria asal Pacitan berkomentar dengan matap: “SBY membaca hadist Nabi!”
Kami yang tengah ngopi sebuah restoran di Jl. Cik Ditiro, Jakarta, terperanjat. “Dia muslim…” kata saya.
“Ya. Besannya saja jadi tersangka. Ini, kan, sesuai hadist nabi: Andaikan Fatimah mencuri, maka saya sendiri yang akan memotong tangannya. SBY menjalankan hadist itu,” katanya
Kami semua menganggung-angguk.Rizal, yang sarjana ilmu politik, menggerutu: “Nasib Aulia Pohan memang buruk..” “Salahnya, dia korupsi,” sambar Bejo.
Sejenak kami melupakan kopi dan menyimak lanjutan ucapan Rizal. Omongan Rizal biasanya layak simak, lantaran sering analisanya agak mendekati. “Kalau soal korupsi, banyak yang begitu. Penjara itu akan penuh kalau semua koruptor ditangkap. Jujur saja, kita-kita ini, bahkan mungkin Bapak kita juga pernah alpa, korupsi walau kecil-kecilan,” ujar Rizal. “Nah, lalu kenapa Aulia Pohan saja dan orang-orang itu saja yang ditangkap?”
“Dia, kan, terbukti terlibat dalam banyak persidangan terdakwa sebelumnya?” kilah Bejo tak mau kalah.
“Lalu, siapa yang paling diuntungkan jika Aulia Pohan masuk penjara?”
“Rakyat Indonesia, lah…” kata Bejo tanpa pikir panjang.
“Maksudmu, SBY…” ujar Ramlan, mulai nimbrung.
“Tepat!”
Pembicaraan Rizal dan Bejo ini mengusik pikiran saya. Setiap peristiwa politik pada saat ini seakan menjadi momentum bagi para pemburu RI-1 untuk memanfaatkannya. Tapi mungkinkan SBY begitu tega mengorbankan Aulia Pohan untuk popularitasnya?
Saya mencoba membuang jauh pikiran negatif seperti itu. Sungguh naib. Saya menjadi teringat kata-kata anak perempuan tertua saya, ketika saya ajak berdiskusi soal tawaran sebuah parpol untuk menjadi caleg partai itu. Dia tidak setuju dan berkata: “Politik itu kotor. Politik itu jahat. Kekuasan menjadikan kita lupa akan Allah…”