Haba Miftah H. Yusufpati

Saya tiba-tiba teringat Tengku Mansur. Sejak beliau menikahi ustadzah Hj. Irine Handono, dua tahu lalu, saya mulai jarang berjumpa beliau. Mungkin sibuk. Beliau tinggal di pusat kota Bekasi, hanya enam kilometer dari rumah saya. Hanya saja, saya sungkan bermain ke sana. Banyaklah alasannya.
Suatu ketika, beliau meyampaikan kegundahan pada saya tentang penerapan syariat Islam yang belum kaffah di Aceh. “Aceh akan terbebas dari azab Allah bila menerapkan syariat secara kaffah,” katanya, pasca tsunami menerjang daerah ini.
Waktu itu saya hanya tersenyum saja, sehingga diskusi tak berlanjut. Harap maklum, bicara soal syariat Islam sungguh menguras energi, laiknya bicara Piagam Jakarta itu. Jadi saya waktu itu agak kurang bersemangat.
Kembali ke soal Aceh, yang kini menerapkan syariat Islam. Konon, kata Tengku Mansur nggak kaffah. Saya tak begitu memperhatikan, awalnya. Tapi belakangan benar-benar terusik, setelah berita soal PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) mati akibat kekurangan gas diungkit kembali. Sungguh satu ironi, pabrik ini mati di lumbung gas.Saya menjadi teringat sebuah hadist, suatu ketika Siti Aisyah bercerita, Nabi Muhammad tidak makan selama tiga hari berturut-turut dalam keadaan kenyang. Aisyah pun bertanya penyebabnya. Nabi menjawab, “Selama masih ada ahli shufah —orang-orang miskin yang kelaparan di sekitar mesjid— saya tidak akan makan kenyang.”
Selanjutnya, Nabi berpesan: “Tidak beriman kamu, jika kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara tetanggamu kelaparan”.
Mungkin ini adalah bagian dari ajaran tentang ekonomi Islam itu.
Persoalannya, gas Aceh dikeduk bule dari Amerika Serikat, Exxon Mobil, sehingga prinsip-prinsip ajaran Islam tak mengenai kepala mereka. Akibatnya, ya itu tadi, AAF mati kelaparan, sementara Exxon Mobil bermandikan kekayaan.
Saya kadang berharap Gubernur Irwandi Yusuf menjelaskan ini kepada pemerintah pusat bahwa ekonomi kapitalis yang diterapkan Exxon Mobil bertentangan dengan Islam sehingga perlu diralat atau disesuaikan dengan Syariat Islam yang penerapannya sudah diridhoi pusat itu.
Andai WH juga berwenang menangkap pelanggar ekonomi Islam, pastilah bos Exxon Mobil dan para toke yang melanggar Islam berurusan dengan penegak syariat ini. Jadi bukan hanya menguber-uber pemuda-pemudi yang pacaran saja.
Singkatnya, kalau mau menerapkan syariat Islam mestilah yang kaffah. Kata Tengku Mansur, “ agar Aceh tak lagi menerima azab”. Naudzubillahimindzalik…!