CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

SBY dan Obama memenangkan pemilu dengan menawarkan perubahan. Gus Aris bilang, Obama yang pernah tinggal di Indonesia itu meniru isu kampanye yang diusul SBY “bersama kita bisa’ menjadi ‘yes, we can’. Selanjutnya, Obama juga mengusung perubahan, sama persis dengan SBY.
Nah, itu bisa-bisanya Gus Aris, untuk mencari-cari persamaan isu kampanye SBY dan Obama. Harap maklum ia memang ngefans berat ke SBY.
“Amerika bisa berubah,” pekik Obama saat menyampaikan pidato kemenangannya.
Ya. Sejatinya, kalau dilihat dari fenomena yang terjadi, rakyat AS memang menginginkan perubahan. Terpilihnya Obama adalah konsekuensi dari seorang kandidat (presiden) kulit hitam dan seorang kandidat kulit putih yang tidak berbeda dengan rejim yang sebelumnya berkuasa.Perubahan juga diinginkan rakyat Aceh tatkala menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar. Beliau dipilih bukan hanya sekadar karena beliau calon yang didukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Rakyat Aceh ingin perubahan.
Tentang perubahan ini saya menjadi teringat akan kehidupan burung elang. Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia karena mampu mencapai usia 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan tatkala ia harus terbang.
Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan – suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.
Dalam melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.
Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!
Begitulah elang. Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan.***