“Awas air…awas air..air…air.” Begitu teriakan beberapa orang di tengah kerumunan warga yang tersentak bangun dari kelelapan tidurnya lalu berhamburan keluar rumah akibat guncangan gempa bumi dahsyat yang melanda Kabupaten Buol Sulawesi Tengah, Senin (17/11), sekitar pukul 01.02 Wita.

“Kami tidak tahu siapa yang betreriak itu, tapi yang jelas teriakan itu membuat warga panik dan berebutan meninggalkan kota dan berlarian ke arah pegunungan yang mencari tempat yang dianggap aman dari hantaman tsunami bila bencana menakutkan itu benar-benar muncul,” kata Syamsudin Mangge mengisahkan kepanikan di tengah malam itu.

Gedung kantor baru Bupati Buol dan Mapolres Buol serta kampus sebuah perguruan tinggi swasta yang sedang dibangun di lereng pegunungan menjadi sasaran ribuan warga Leok, ibukota Kabupaten Buol.

Tak terkecuali Bupati Buol Amran Batalipu meninggalkan rumah dinasnya bersama keluarga dan lari ke kantor barunya yang belum selesai itu dengan hanya menggunakan celana pendek.

“Luar biasa kepanikan warga, pak. Untung gelombang pengungsian besar-besaran itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.

Seorang ibu yang hamil tua namun belum diketahui identitasnya dilaporkan melahirkan sebelum waktunya pada Senin dinihari itu karena memaksakan diri berlari mencari perlindungan.

“Alhamdullillah, ibu dan bayinya tenryata dalam kondisi sehat dan kini masih dirawat di rumah sakit umum Buol,” kata Kabag Humas Pemkab Buol itu.

Kepanikan warga beralasan karena inilah kali pertama guncangan gempa yang sangat dahsyat melanda daerah Buol dan kejadiannya pada tengah malam saat seluruh warga tertidur lelap.

“Untung saja cuaca saat itu sangat baik dan sinar rembulan masih terang bederang meski lampu listrik padam total sehingga memudahkan warga mencari jalan ke tempat pengungsian,” ujar warga Leok lainya.

Menurut catatan Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa yang melanda Kabupaten Buol, Sulaweis tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Gorontalo pada Senin (17/11) pukul 01.02.32 Wita itu itu adalah gempa tektonik dengan kekuatan 7,7 pada Scala Richter (SK).

Pusat gempa berada pada posisi 1,41 derajat LU, 122,18 derajat BT dengan kedalaman sekitar 10 km atau 138 km barat laut Kota Gorontalo atau kurang dari 50 km sebelah utara Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol, Sulteng.

Bagi warga Buol, guncangan gempa bukan hal yang baru karena daerah Buol dan Gorontalo termasuk dalam daerah jalur gempa tektonik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Bandung, Surono menyebutkan, Provinsi Gorontalo termasuk jalur sesar aktif Sulawesi Utara.

Menurut catatan PVMBG, gempa bumi dengan kekuatan hebat di Gorontalo terjadi pada 1941, 1990 dan 1990. Gempa pada 18 April 1990 gempa mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan gempa pada 20 November 1991 mengakibatkan ribuan rumah rusak.

Ia juga mengingatkan pemerintah dan warga di sekitar perbukitan untuk mengantisipasi potensi gerakan tanah sebagai dampak gempa bumi itu.

“Gempa bumi itu dipastikan mengakibatkan retakan-retakan tanah. Bila retakan itu terisi air hujan jelas potensi longsor sangat besar. Hal itu pernah terjadi di Tibung pada peristiwa gempa bumi 1941 lampau,” katanya.

Kerugian puluhan miliar

Hingga Senin malam pukul 20.00 Wita, Posko Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Buol mencatat untuk sementara korban jiwa akibat musibah ini adalah empat orang yakni Rahman Ta`u (41 tahun) warga desa Lonu, Kecamatan Bunobogu yang tewas tertimpa tembok rumahnya yang rubuh.

Ny. Te`u (35 tahun) warga Kelurahan Buol, Kecamatan Lipunoto meninggal karena trauma berat, Arifin (45 tahun) warga dusun Mode Kecamatan Bukal yang tertimpa bangunan rumahnya. Sementara satu orang korban tewas lainnya akibat tertimpa reruntuhan bangunan dari desa Kali, Kecamatan Lipunoto masih belm diketahui persis identitasnya.

Selain itu, ribuan warga lainnya masih berada di pengungsian dengan alasan masih trauma dan sebagian lagi sudah tidak memiliki tempat berteduh lagi karena rumahnya sudah hancur total. Banyak pula warga tidak berani lagi menghuni rumahnya karena sudah retak-retak.

Sejumlah bangunan sekolah, masjid dan sarana publik lainnya serta jalan dan jembatan rusak berat akibat gempa ini.

“Kerugian material itu belum bisa disimpulkan karena pendataan masih terus berjalan sebab belum semua daerah yang tertimpa gempa bisa dijangkau petugas. Namun kami perkirakan mencapai puluhan miliar rupiah,” kata Kabag Humas Buol, Syamsuddin Mangge.

Ia memberi contoh, hingga Senin malam, sudah tercatat 764 bangunan rumah penduduk yang hancur total, belum termasuk ribuan rumah lainnya yang retak-retak dan berbahaya untuk dihuni kembali.

“Meski sebagian besar bangunan rumah yang hancur total itu terbuat dari rumah panggung, namun nilainya mencapai puluhan juta, belum termasuk barang-barang berharga di dalam rumah itu,” ujarnya.

Para korban memang masih membutuhkan uluran tangan dermawan dan pemerintah yang lebih tinggi seperti Pemprov Sulteng dan pemerintah pusat. Pemkab Buol sendiri telah membagikan bahan makanan dan obat-obatan kepada penduduk yang membutuhkan namun belum maksimal karena selain keterbatasan persediaan barang, juga keterbatasan tenaga dan sarana distribusi.

“Ada tiga tim yang dibentuk untuk mengunjungi penduduk yang teritpa musibah di sejumlah kecamatan masing-masing dipimpin bupati, wakil bupati dan Kadis Sosial setempat,” ujarnya dan menambahkan bahwa Pemkab masih membutuhkan uluran tangan masyarakat dan pemerintah provinsi serta pemerintah pusat untuk membantu meringankan beban para korban.

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Bandjela Paliudju telah memerintahkan jajarannya untuk segera memberi bantuan kepada korban gempa di Kabupaten Buol.

“Dinas sosial setempat dan aparat teknis lainnya harus segera memberikan makanan dan mendirikan tenda darurat bagi korban gempa,” kata Paliudju di Palu, Senin.

Gubernur Paliudju mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu laporan terbaru dari Kabupaten Buol sebagai bahan untuk merencana penyaluran bantuan kepada para korban.

“Pemprov Sulteng siap memberikan bantuan kepada korban gempa asal sesuai dengan kondisi yang riil,” katanya.

Sementara pihak Bulog Divre Sulsel menyatakan siap menyalukan beras ke lokasi bencana bila ada permintaan dari Pemprov Sulteng atau Pemkab Buol.

“Kita memiliki stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan para korban gempa di Buol,” kata Kepala Bulog Divre Sulsel Usep Karyana dengan menyebut bahwa setiap kabupaten/kota di Sulteng mendapat jatah beras untuk disalurkan kepada para korban bencana alam di daerah masing-masing maksimal 100 ton