KAPAL SUPER TANGKER SAUDI YANG DIBAJAK
SOMALIA-TANKER/

Tujuh negara dari Timur Tengah dan Afrika, Kamis, mengadakan pertemuan di Kairo untuk membahas cara-cara menghentikan perompakan di kawasan Laut Merah setelah pembajakan kapal minyak berukuran besar milik Saudi, Sirius Star, yang membawa minyak mentah senilai 100 juta dolar.

Negara-negara itu membahas cara mengenai berbagi informasi seputar kasus-kasus perompakan melalui sebuah pusat data yang kemudian akan melacak dan mengawasi rute-rute perkapalan.
“Pertemuan itu juga membicarakan pelatihan gabungan bagi pasukan penjaga pantai negara-negara tersebut,” kata beberapa sumber diplomatik.
Ketujuh negara yang mengadakan pertemuan itu adalah Mesir, Arab Saudi, Yaman, Djibouti, Sudan, Yordania dan Somalia. Liga Arab dan Eritrea akan menjadi pengamat.

Perompak Somalia ketika menyampaikan tuntutan uang tebusan

Perompak Somalia ketika menyampaikan tuntutan uang tebusan

Sebelumnya, Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mengatakan, perompak Somalia telah menerima uang tebusan 30 juta dolar untuk tahun ini saja.
Perompakan juga merupakan ancaman bagi Terusan Suez, sebuah sumber penghasilan utama dalam perekonomian Mesir, karena sejumlah kapal mungkin mengalihan rutenya dengan melewati kawasan Afrika bagian selatan untuk menghindari terusan tersebut.
Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun ini.
Menurut Biro Maritim Internasional, sedikitnya 83 kapal diserang perompak di kawasan itu sejak Januari, 33 diantaranya dibajak. Dari jumlah itu, 12 kapal dan lebih dari 200 orang awak masih ditahan oleh perompak.
Pekan lalu, Uni Eropa (EU) memulai operasi keamanan di lepas pantai Somalia, sebelah utara Kenya, untuk memerangi aksi perompakan yang meningkat dan melindungi kapal-kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan. Itu merupakan misi laut pertama EU.
NATO juga telah mengirim sejumlah kapal untuk mengawal kapal-kapal Badan Pangan Dunia PBB yang mengangkut bantuan makanan ke pelabuhan-pelabuhan Somalia.
Kapal barang Ukraina yang mengangkut senjata, MV Faina, yang dibajak pada 25 September, dengan muatan yang mencakup 33 tank tempur dan persenjataan berat, menarik perhatian internasional mengenai ancaman pembajakan di kawasan perairan Tanduk Afrika itu. Kapal-kapal Armada V AS telah mengepungnya selama sebulan untuk memastikan bahwa muatan itu tidak jatuh ke tangan kelompok gerilya yang terkait dengan Al-Qaeda.
Pembajak menyatakan, operator kapal itu hanya ingin merundingkan pembebasan kapal tersebut dan 20 orang awaknya — tidak senjata yang dimuat.
Jurubicara kelompok pembajak, Sugule Ali, mengatakan, pihaknya menerima faks dari Viktor Murenko, kepala operator kapal Tomex Team, yang mengatakan bahwa Kenya menolak membayar tebusan bagi muatan yang dibawa kapal itu.
Perompak, yang dikepung oleh kapal-kapal perang internasional, mengancam akan meledakkan kapal Ukraina itu jika mereka tidak menerima uang tebusan tersebut, yang semula ditetapkan 20 juta dolar.
Namun, batas waktu yang mereka tetapkan telah berlalu tanpa insiden.
“Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak,” menurut Menteri Perikananan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.
Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi perompak yang membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.
Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka.
Somalia dilanda kekerasan sejak penggulingan diktator Mohamed Siad Barre pada 1991.PBB juga akan mengadakan sebuah pertemuan yang membahas anti-perompakan pada bulan depan, yang akan mencakup negara-negara lain Arab dan Afrika.

Tujuh negara dari Timur Tengah dan Afrika, Kamis, mengadakan pertemuan di Kairo untuk membahas cara-cara menghentikan perompakan di kawasan Laut Merah setelah pembajakan kapal minyak berukuran besar milik Saudi, Sirius Star, yang membawa minyak mentah senilai 100 juta dolar.