Archive for Mei, 2009

Bergabung dengan Media On Line

SIANG itu, 5 Januari 2009, saya mendapatkan telefon dati sahabat lama saya Latihono Sutantyo. Ia minta saya membantu www.kontekaja.com. “Siapa punya,” tanya saya tak langsung mengiyakan.

“Adalah. Nanti saya kenalkan,” jawabnya.

Bagi saya berkerja di satu tempat saya harus mengenal pemiliknya. Ini prinsip. Kedua saya juga harus tahu siapa yang memimpin. Itulah pertimbangan mengapa saya menanyakan hal itu.

Keesokan harinya saya bersama Latihono mendatangi kantor kontekaja di Kedoya, Jakarta Barat. Di sini saya diperkenalkan dengan Djoko Juwono, sang pemred. “Cocok pikirku.”

Saya kenal Djoko karena lewat tulisan-tulisannya di media massa. Begitu juga Djoko. Ia mengenal saya juga karena tulisan-tulisan saya di media massa. Dia adalah wartawan senior dan usianya pun lebih tua dari saya. Menariknya, Djoko ternyata murid Pak Muh (Muhammad Zuhri), seorang sufi dari Sekarjalak, Pati. Saya bilang menarik, karena Pak Muh adalah paman saya. “Satu guru satu ilmu dilarang saling mengganggu,” katanya berseloroh.

Pada Hari itu juga saya diperkenalkan dengan Big Bos, Jerry Hermawan Lo. Begitu bertemu, ia langsung mengulurkan tangannya bersalaman dengan akrab. “Beliau orang yang mudah bergaul,” ujar Lati, usai pertemuan.

Ya. Begitu bertemu, kesan saya, Jerry adalah pria yang terbuka. Pria kelahiran 1957 ini tampak lebih muda dari usianya. Pembawaannya cair. Sangat well come. Saya tak terlalu lama bertemu dengannya karena ia tengah member motivasi para karyawan untuk membangun bisnis yang relatif baru bagi dirinya itu.

Pada saat itu saya belum memutuskan akan bergabung atau tidak. Soalnya saya juga sudah pegang job di Tabloid Kabinet sebagai Redaktur Pelaksana (Redpel) yang sesungguhnya berfungsi juga sebagai pemimpin redaksi.
Hanya saja, karena Tabloid Kabinet terbitnya bulanan, maka masih banyak waktu yang dapat saya manfaatkan untuk membantu kontekaja.

Pada 7 Januari 2009 saya memutuskan ikut selametan tayang perdana http://www.kontekaja.com. Di sini saya ditunjuk Djoko sebagai Redaktur Pelaksana. Lati sendiri tak bergabung karena harus ikut membidani sebuah majalah. Belakangan dia memutuskan bergabung dengan Harian Merdeka.

Kini saya pun aktif di media on line itu. Dan saya punya kesan mendalam tentang big boss, Jerry Hermawan Lo.
Seperti dugaan saya, Jerry adalah pria yang penuh optimisme, bahkan boleh saya bilang, ia adalah motivator sejati. Sebagai pemilik, ia turun langsung, mengkader para marketing demi kemajuan usahanya. Silih berganti orang datang dan tak ada bosannya Jerry menerima mereka dan member motivasi.

Belakangan saya tahu, Jerry cukup kondang di kalangan Tionghoa. Kiprahnya dalam membangun pembauran antara kaum Tionghoa dan pribumi bisa dibanggakan. Dia antara lain memimpin Forum Anak Bangsa (FAB). Jerry membina pemuda pengangguran menjadi seorang entrepreuner. Ia menyalurkan bakat para pengangguran. Sebagian di antara mereka ada yang berdagang. Sebagian lagi bergabung dengan Koperasi FAB membesarkan bisnis di sini. Bersambung…

BLT, Kok, Dilawan

Pembagian bantuan langsung tunai (BLT) menjadi masalah. Soalnya dibagi menjelang pemilu legislatif. Partai penguasa mendulang untung.

Ini terjadi di Gorontalo. Karena tidak memilih caleg dari salah satu parpol pada pemilu lalu, warga di tiga desa di Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara, dicoret dari daftar penerima bantuan langsung tunai (BLT).

Jelas saja tindakan sewenang-wenang ini mengundang protes warga. Mereka mendatangi Kantor Kecamatan Sumalata untuk melaporkan kasus tersebut. “Kami dicoret sebagai pemerima BLT karena kami enggan memilih caleg tersebut, ” ujar Risno, salah seorang warga Desa Bulontio.

Tak hanya dicoret. BLT yang diterima seluruh warga di Desa Wubudu, Bulontio dan Bulontio Barat juga “disunat” oleh kepala desa masing-masing. Warga juga tak diberi kupon dan hanya menerima BLT melalui pemberitahuan aparat desa. Baca lebih lanjut…

Mengerem Mesin Monopoli Carrefour

Ini adalah kali kedua, PT Carrefour Indonesia berurusan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Kasus pertama, Carrfour dinyatakan bersalah dan harus membayar denda Rp1,5 miliar. Kini ancamannya lebih serius, denda sampai Rp25 miliar.

carrefour-franceTanggal 13 Mei 2009 akan terasa kramat bagi PT Carrefour Indonesia. Pasalnya, perusahaan ini harus berbenah, mengubah pola-pola monopoli seperti yang dituduhkan KPPU. Bila tidak, KPPU akan melanjutkan kasus monopoli ini sampai ke pengadilan.
Sekadar mengingatkan bahwa pada akhir Maret lalu, KPPU telah meningkatkan status perkara Carrefour menjadi pemeriksaan pendahuluan. Perkaranya sudah teregistrasi dengan Nomor 09/KPPU-L/2009. KPPU menetapkan Carrefour sebagai terlapor sejak 24 Februari 2009.
Perkara yang membelit perusahaan ritel terbesar kedua dunia ini berawal dari akuisisi 75 persen saham PT Alfa Retailindo Tbk dari Prime Horizon Pte Ltd dan PT Sigmantara Alfindo oleh PT Carrefour Indonesia pada 21 Januari 2008.
Peritel asal Prancis itu membeli saham publik seharga Rp2.300 per saham. Berdasarkan laporan yang masuk ke KPPU, pangsa pasar Carrefour untuk sektor ritel dinilai telah melebihi batas yang dianggap wajar, sehingga berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.
Selain itu, para pemasok juga melaporkan tentang adanya dugaan Carrefour menjual dan menyewakan ruang (space) secara mahal serta biaya trading term (syarat perdagangan) yang memberatkan.
Berdasarkan laporan masyarakat dan inisiatif KPPU, kasus tersebut dipisahkan menjadi dua masalah yakni monopoli penjualan space dan tingginya biaya trading term, dan proses akuisisi perusahaan ritel asal Prancis tersebut terhadap Alfa.
Awal pekan ini, KPPU telah memulai proses pemeriksaan pendahuluan dengan melakukan pemanggilan terhadap Carrefour. Proses pemeriksaan pendahuluan ini dijadwalkan akan berakhir hingga 13 Mei.
Temuan awal, Carrefour diduga melanggar Pasal 17 jo Pasal 25 UU No. 5 Tahun 1999 tentang ‘Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat’.
Ketua Tim Pemeriksa kasus Carrefour, Dedie S. Martadisastra, membenarkan KPPU akan memberikan waktu kepada Carrefour sampai 13 Mei 2009 untuk melakukan perubahan prilaku usaha terkait tuduhan perkara monopoli, khususnya menyangkut syarat perdagangan (trading terms).
Nah, bila Carrefour bisa mengubah perilaku usahanya maka KPPU akan menghentikan penyelidikan. Namun bila Carrefour masih bersikukuh dan tidak mengubah prilaku, sesuai dengan amanat UU, pemeriksaan kasus akan dilanjutkan.
Perubahan prilaku terkait dengan trading term, bisa dilakukan dengan mengubah aspek yang bisa merugikan salah satu pihak terkait dengan bisnis ritel, misalnya ketentuan pasang iklan, sewa tempat dan lain-lain.
Jadi, selain meningkatnya pangsa pasar Carrefour dalam bisnis ritel nasional, akuisisi Carrefour terhadap Alfamart juga mengakibatkan meningkatkan biaya syarat perdagangan yang harus ditanggung pemasoknya.
Setelah akuisisi Alfamart, biaya syarat perdagangan di luar `listing fee` untuk produk kosmetik di Carrefour, misalnya, naik dari 13 persen menjadi 33 persen. Tren biaya promosi yang dibebankan kepada pemasok juga cenderung meningkat dari 8,5 persen menjadi 11 persen. Diskon promosi naik dari 3,5 persen menjadi enam persen. Rabate naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen.
Hanya saja target bidikan pertama tetap pada aspek monopoli pasar ritel. Soalnya, KPPU telah melakukan dua kajian pangsa pasar Carrefour di sektor hulu (dengan pemasoknya) dan sektor hilir (dengan pesaingnya). KPPU menemukan bukti awal, pasca akuisisi Alfa, pangsa pasar Carrefour di sisi hulu naik dari 44,75 persen menjadi 66,73 persen. Sedangkan di sisi hilirnya naik dari 37,98 persen menjadi 48,38 persen.
Pangsa pasar inilah yang jadi dalih bahwa Carrefour telah diduga melanggar Pasal 17 ayat 1 dan Pasal 25 ayat 1 huruf a.
Pasal 17 tentang larangan melakukan monopoli yaitu menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu, sedangkan pasal 25 tentang penyalahgunaan posisi dominan yang bisa merugikan konsumen dan menghalangi pelaku usaha lain masuk ke pasar serupa.
Nah, inilah yang akan dibuktikan KPPU dalam melakukan pemeriksaan pendahuluan sejak 31 Maret 2009 lalu. Jika terbukti monopoli, Carrefour terancam hukuman denda minimal Rp1 miliar dan maksimal Rp25 miliar.
Sampai sejauh ini Carrefour membantah tudingan monopoli dan menyebut hanya menguasai kurang dari tujuh persen pangsa pasar dari total industri ritel Indonesia. Angka itu disebutnya merupakan hasil studi independen yang dilakukan The Nielsen Company.
Sedangkan terkait masalah syarat perdagangan, Carrefour mengaku telah mengacu pada semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya.
Menurut Carrefour, perjanjian dengan pemasok termasuk syarat perdagangan telah disepakati oleh kedua pihak.
Dalam perkara ini, memang terdapat beda pendapat antara KPPU dan Carrefour. Setidaknya, peritel ini mempermasalahkan beberapa poin ‘kesalahan’ yang dituduhkan kepadanya.
Terkait dengan relavan market, menurutnya, KPPU mau menelusuri praktik monopoli Carrefour dari supermarket dan hipermarket.
Padahal, berdasarkan Perpres No.112/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, pasar modern dikategorikan menjadi lima, antara lain supermarket, hypermarket, department store, minimarket dan pusat perkulakan.
Sedangkan KPPU menyoroti monopoli Carrefour dari pertarungan sembilan ritel modern, yakni Carrefour, Matahari dan Hypermart, Hero dan Giant, Alfa, Lion Superindo, Yaohan, Sogo, Metro, Grand Lucky dan Lucky.
Menurut Carrefour, terdapat inkonsistensi lembaga persaingan usaha itu. Pasalnya, Sogo dan Metro bukanlah tergolong pada supermarket dan hypermarket, melainkan department store.
Peritel yang beromzet Rp10 triliun sepanjang tahun lalu itu memang membenarkan adanya pendapatan lain yang diperolehnya. Pendapatan itu bukanlah berasal dari penjualan, melainkan berasal dari sixth area, misalnya, dari kartu kredit dan kerja sama dengan perusahaan asuransi dan perbankan.
Satu yang menjadi permasalahan paling fundamental antara kedua pihak adalah perbedaan pandangan mengenai pangsa pasar.
“Sekarang kita buktikan datanya, pangsa pasar tujuh persen itu jangan dihitung dengan pasar tradisional lah. Mereka kan main di ritel moderen, sekarang kita cocokkan angka kita lah…”ujar Ketua KPPU Benny Pasaribu di Jakarta, 12 April.
Meski dugaan monopoli terjadi akibat akuisisi Carrefour terhadap Alfamart, namun Benny mengatakan masih akan mempelajari tindakan yang bisa diambil nantinya. “Soal akuisisi masih sedang dipelajari, dampaknya masih kita cari keterangannya,” tuturnya.
Lepas dari itu, gerakan KPPU ini memang terkesan ingin menghambat laju Carrefour yang kian ugal-ugalan. Padahal pada 2005, KPPU telah menjatuhkan denda Rp1,5 miliar, yang ternyata tidak mempan. Pada waktu itu, Carrefour dihukum karena mengenakan persyaratan minus margin kepada pemasok.
Tapi semua harus menunggu 13 Mei nanti. Soalnya, menurut Dedie S. Martadisastra, KPPU tidak menutup kemungkinan menghentikan pemeriksaan perkara terhadap Carrefour, jika dalam kurun waktu pemeriksaan pendahuluan ditemukan perubahan perilaku oleh peritel itu. Miftah H. Yusufpati

Carrefour di Persimpangan Jalan

Carrefour memang berada di persimpangan jalan. Setelah terjerat kasus monopoli, akankan perusahaan ritel terbesar kedua dunia ini bakal mengerem ekspansinya?

CHINA-FRANCE-TIBET-EU-DIPLOMACYSejak Januari lalu, papan nama Alfamart di Harapan Indah, Bekasi, sudah diturunkan dan berganti nama Carrefour. Hanya saja, warga di sekitar sana, bila akan berbelanja ke supermarket ini masih menyebut Alfamart. “Ke, Alfa yuk..!” begitu mereka menyebut bila hendak ke supermarket yang terletak di perbatasan Jakarta-Bekasi ini.

Sejak Januari lalu, Carrefour memang telah menyulap 29 gerai Alfa Retailindo menjadi Carrefour atau Carrefour Express.

Dengan tambahan gerai Alfa ini, Carrefour memiliki 60 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang dan Makasar dan didukung lebih dari 11,000 karyawan.

Bukan hanya mengganti logo Alfamart. Pada Januari itu pula, Carrefour menyodok pasar Jakarta Utara. Logo Carrefour terpampang di Emporium Pluit Mall. Di sini raksasa bisnis retail ini membuka gerai seluas 7.097 sqm. Sedangkan di Jakarta Selatan, bulan yang sama Carrefour juga membuka gerai raksasa di Blok M Square.

Carrefour yang baru masuk ke Indonesia pada Oktober 1998 itu kini telah menyita perhatian publik Jabodetabek. Nyaris hampir di tiap jalan protokol, papan iklan Carrefour menyodok mata.
Tanda-tanda bahwa perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki asing ini menggurita sudah tampak saat membuka gerai pertama di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Jalan utama di sekitar sana sudah terpampang iklan besar tentang kehadiran Carrefour.

Pada penghujung 1999, Carrefour tampak kian menyodok setelah menggabungkan usahanya dengan Promodes (Induk perusahaan Continent).

Penggabungan ini membentuk suatu grup usaha ritel terbesar kedua di dunia dengan memakai nama Carrefour.

Dengan terbentuknya Carrefour baru ini, maka segala sumber daya yang dimiliki kedua group tadi terus menggurita. Kini dengan tiga pilar — harga yang bersaing, pilihan yang lengkap dan pelayanan yang memuaskan—Carrefour kian menjadi. Apalagi setelah, pada Januari 2008, berhasil menyelesaikan proses akuisisi terhadap PT Alfa Retailindo Tbk.

Di persimpangan jalan
Carrefour adalah bahasa Prancis berarti “persimpangan jalan” atau crossroad jika dilihat di kamus French-English. Nama itu dibaca kaRfuR. Huruf “r” dilafalkan dengan serak-serak basah khasnya Bahasa Prancis.
Pelafalan carredfour bisa kita lafalkan kargh-furgh bukan kerfur atau kerfor. Banyak orang memang salah duga, ini dikira bahasa Inggris dan frasa four di situ seakan bermakna “empat”. Padahal bukan.

Nama ini sendiri disebut begitu, lantaran cikal bakal Carrefour adalah toko kecil di sebuah persimpangan jalan di Annecy, Prancis. Otlet perdana ini didirikan Marcel Fournier dan Louis Deforey pada 3 Juni 1957. Dan kini, gerai pertama ini adalah gerai Carrefour terkecil di dunia.

Kelompok Carrefour adalah pelopor konsep hypermarket, sebuah supermarket besar yang mengombinasikan department store (toko serba ada). Dan Hypermarket pertama kelompok ini didirikan pada 1962 di Sainte-Geneviève-des-Bois, dekat Paris, Perancis. Dari sinilah Carrefour mulai menggurita sehingga mampu mempekerjakan 490 ribu orang dan memiliki lebih dari 15 ribu gerai di 30 negara, termasuk Indonesia.

Kehadiran Carrefour di Indonesia cepat menggurita salah satunya karena menawarkan gengsi bagi pelanggannya. Carrefour dengan cepat menyedot konsumen Indonesia yang terkenal rakus berbelanja. Dan ini disadari betul oleh perusahaan Prancis ini.

Hasilnya, dalam waktu tak terlalu lama, AC Nielsen mengungkap hypermarket telah menggerogoti pangsa pasar supermarket di Indonesia.

Sebelum hadirnya format hypermarket di Indonesia (pada 1998), supermarket dipilih sebagai tempat belanja keperluan satu bulan oleh konsumen. Tapi sejak hypermarket beroperasi di Indonesia, tempat belanja bulanan beralih ke raksasa ritel tersebut.

Karena adanya pengalihan belanja bulanan konsumen dari supermarket ke hypermarket, menyebabkan format supermarket kehilangan peluang omzet yang cukup besar.

Data yang disodorkan AC Nielsen mengungkap hypermarket dari 2005 hingga 2006 mengalami pertumbuhan 42,6% dan 2006-2007 mengalami pertumbuhan 22,6%.

Sedangkan minimarket tumbuh 34,2% untuk tahun 2005-2006 dan tahun 2006-2007 mencapai 36%.
Lalu, bagaimana dengan supermarket? “Hanya tumbuh 6,4 persen pada 2006,” ujar Direktur Riteler dan Pengembangan Bisnis Nielsen Indonesia, Yongky Surya Susilo.

Jika tidak terjadi persaingan dengan hypermarket, seharusnya supermarket di Indonesia mampu tumbuh minimal 14,3%, sama seperti pertumbuhan industri ritel pada 2006. Angka kenaikan penjualan ini pun lantaran ada inflasi 6,6%. “Artinya pertumbuhan supermarket sebesar 6,4% hanya karena dipicu kenaikan harga jual barang, bukan pada volume barang,” kata Yongky lagi.

Berdasarkan data AC Nielsen 2006 hingga 2007, untuk supermarket memang mengalami pertumbuhan yang terendah karena tren kebutuhan konsumen lebih memilih hypermarket atau mini market. Pertumbuhan supermarket 2005-2006 hanya mencapai 6,4% dan 2006-2007 hanya 5,5%.

Sejatinya, fenomena tertekannya pertumbuhan omzet supermarket tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di semua negara yang dimasuki format ritel hypermarket.

Pasar empuk
Indonesia adalah salah satu pasar empuk bagi peritel. Tatkala, perusahaan ritel Prancis ini mengalami penurunan omzet di belahan Eropa dan Amerika Serikat, penjualan di Asia, termasuk Indonesia justru menanjak. Tengok saja, pada kuartal pertama 2009 penjualan Carrefour seluruh dunia turun 2,8 persen menjadi 22,71 miliar euro (US$30 miliar) dibandingkan periode sama tahun lalu.

Melemahnya kinerja di pasar Eropa akibat krisis global ini menjadikan pendapatan Carrefour menurun. Penjualan di Eropa, tidak termasuk Prancis, turun 5,9 persen dari kuartal pertama 2009, sementara di Prancis sendiri turun 5,1 persen. Sampai kini 60 persen kegiatan Carrefour berada di Eropa.

Penjualan yang menurun, otomatis menggerus keuntungan bersihnya. Pada 2008, keuntungan bersih Carrefour turun 44,7 persen menjadi 1,27 miliar euro (1,60 miliar dolar), sementara pendapatan sebelum bunga dan pajak turun 16,8 persen pada posisi 2,77 miliar euro.

Perusahaan itu juga mengatakan bahwa dua bulan pertama 2009 mencatat peningkatan tetapi secara menyeluruh, kondisi tidak membaik dan 2009 dijanjikan menjadi lebih sulit. “Kami perkirakan kondisi sulit pada 2009,” kata direktur keuangan perusahaan itu Eric Reiss, belum lama ini. “Konsumsi cenderung belum membaik di banding 2008,” katanya.

Sementara penjualannya di Asia, termasuk toko-toko yang baru dibuka, naik 14,7 persen. Angka inilah yang menolongnya.

Wajar saja, jika hypermarket di Indonesia, termasuk Carrefour, terus melakukan ekspansi. Tentang betapa ekspansifnya hypermarket dapat dilihat dari penjualan properti di Indonesia.

Di tengah krisis global ini, tingkat penyerapan ruang ritel di Jakarta pada kuartal I-2009 mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada periode ini tingkat penyerapannya seluas 83.700 m² atau naik 82% dibanding periode sama 2008, dan naik 45 persen dibanding kuartal IV-2008 yang seluas 63.200 m².

Kajian lembaga riset dan konsultan properti Cushman & Wakefield yang dipublikasikan pekan ini menyebutkan, aktivitas transaksi ruang ritel naik pesat. Peningkatan serapan ruang ritel di Jakarta berasal dari penyewa pusat perbelanjaan yang baru dibuka, seperti Pejaten Village, Blok M Square, dan perluasan Plaza Indonesia.

Research and Advisory Departement Retail Sector Cushman & Wakefield Soany Gunawan mengatakan, penyewa-penyewa besar yang membuka toko baru kebanyakan adalah bergerak dalam bidang makanan dan minuman (F&B), hypermart, department store, bioskop, toko buku dan hiburan anak.

Penyewa besar yang menambah jaringannya pada kuartal I-2009 di antaranya adalah Carrefour yang membuka dua toko baru di Blok M Square, dan Emporium Pluit Mall, sedangkan Cinema XXI membuka empat bioskop baru di Emporium Pluit Mall, Plaza Indonesia, Pejaten Village, dan Blok M Square.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menunjukan dari 35% total penjualan ritel di Indonesia yang terdiri dari 90 anggota Aprindo mencakup 7000 outlet, terus mengalami peningkatan. Misalnya pada tahun 2005 mencapai Rp42 triliun, tahun 2006 mencapai Rp50 triliun tahun 2007 mencapai Rp58,5 triliun.

Sampai sejauh ini, Carrefour mengkalim penjualannya hanya mencapai Rp10 triliun. Inilah antara lain yang harus dibuktikan raksasa ritel ini, bahwa tak ada monopoli di sini.

Lepas dari itu, apakah gangguan KPPU ini bakal meredam Carrefour untuk terus ekspansi? Di sinilah, maka Carrefour tampaknya berada di persimpangan jalan, antara memilih terus ekspansi atau mengurangi monopolinya. Miftah H. Yusufpati