Carrefour memang berada di persimpangan jalan. Setelah terjerat kasus monopoli, akankan perusahaan ritel terbesar kedua dunia ini bakal mengerem ekspansinya?

CHINA-FRANCE-TIBET-EU-DIPLOMACYSejak Januari lalu, papan nama Alfamart di Harapan Indah, Bekasi, sudah diturunkan dan berganti nama Carrefour. Hanya saja, warga di sekitar sana, bila akan berbelanja ke supermarket ini masih menyebut Alfamart. “Ke, Alfa yuk..!” begitu mereka menyebut bila hendak ke supermarket yang terletak di perbatasan Jakarta-Bekasi ini.

Sejak Januari lalu, Carrefour memang telah menyulap 29 gerai Alfa Retailindo menjadi Carrefour atau Carrefour Express.

Dengan tambahan gerai Alfa ini, Carrefour memiliki 60 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang dan Makasar dan didukung lebih dari 11,000 karyawan.

Bukan hanya mengganti logo Alfamart. Pada Januari itu pula, Carrefour menyodok pasar Jakarta Utara. Logo Carrefour terpampang di Emporium Pluit Mall. Di sini raksasa bisnis retail ini membuka gerai seluas 7.097 sqm. Sedangkan di Jakarta Selatan, bulan yang sama Carrefour juga membuka gerai raksasa di Blok M Square.

Carrefour yang baru masuk ke Indonesia pada Oktober 1998 itu kini telah menyita perhatian publik Jabodetabek. Nyaris hampir di tiap jalan protokol, papan iklan Carrefour menyodok mata.
Tanda-tanda bahwa perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki asing ini menggurita sudah tampak saat membuka gerai pertama di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Jalan utama di sekitar sana sudah terpampang iklan besar tentang kehadiran Carrefour.

Pada penghujung 1999, Carrefour tampak kian menyodok setelah menggabungkan usahanya dengan Promodes (Induk perusahaan Continent).

Penggabungan ini membentuk suatu grup usaha ritel terbesar kedua di dunia dengan memakai nama Carrefour.

Dengan terbentuknya Carrefour baru ini, maka segala sumber daya yang dimiliki kedua group tadi terus menggurita. Kini dengan tiga pilar — harga yang bersaing, pilihan yang lengkap dan pelayanan yang memuaskan—Carrefour kian menjadi. Apalagi setelah, pada Januari 2008, berhasil menyelesaikan proses akuisisi terhadap PT Alfa Retailindo Tbk.

Di persimpangan jalan
Carrefour adalah bahasa Prancis berarti “persimpangan jalan” atau crossroad jika dilihat di kamus French-English. Nama itu dibaca kaRfuR. Huruf “r” dilafalkan dengan serak-serak basah khasnya Bahasa Prancis.
Pelafalan carredfour bisa kita lafalkan kargh-furgh bukan kerfur atau kerfor. Banyak orang memang salah duga, ini dikira bahasa Inggris dan frasa four di situ seakan bermakna “empat”. Padahal bukan.

Nama ini sendiri disebut begitu, lantaran cikal bakal Carrefour adalah toko kecil di sebuah persimpangan jalan di Annecy, Prancis. Otlet perdana ini didirikan Marcel Fournier dan Louis Deforey pada 3 Juni 1957. Dan kini, gerai pertama ini adalah gerai Carrefour terkecil di dunia.

Kelompok Carrefour adalah pelopor konsep hypermarket, sebuah supermarket besar yang mengombinasikan department store (toko serba ada). Dan Hypermarket pertama kelompok ini didirikan pada 1962 di Sainte-Geneviève-des-Bois, dekat Paris, Perancis. Dari sinilah Carrefour mulai menggurita sehingga mampu mempekerjakan 490 ribu orang dan memiliki lebih dari 15 ribu gerai di 30 negara, termasuk Indonesia.

Kehadiran Carrefour di Indonesia cepat menggurita salah satunya karena menawarkan gengsi bagi pelanggannya. Carrefour dengan cepat menyedot konsumen Indonesia yang terkenal rakus berbelanja. Dan ini disadari betul oleh perusahaan Prancis ini.

Hasilnya, dalam waktu tak terlalu lama, AC Nielsen mengungkap hypermarket telah menggerogoti pangsa pasar supermarket di Indonesia.

Sebelum hadirnya format hypermarket di Indonesia (pada 1998), supermarket dipilih sebagai tempat belanja keperluan satu bulan oleh konsumen. Tapi sejak hypermarket beroperasi di Indonesia, tempat belanja bulanan beralih ke raksasa ritel tersebut.

Karena adanya pengalihan belanja bulanan konsumen dari supermarket ke hypermarket, menyebabkan format supermarket kehilangan peluang omzet yang cukup besar.

Data yang disodorkan AC Nielsen mengungkap hypermarket dari 2005 hingga 2006 mengalami pertumbuhan 42,6% dan 2006-2007 mengalami pertumbuhan 22,6%.

Sedangkan minimarket tumbuh 34,2% untuk tahun 2005-2006 dan tahun 2006-2007 mencapai 36%.
Lalu, bagaimana dengan supermarket? “Hanya tumbuh 6,4 persen pada 2006,” ujar Direktur Riteler dan Pengembangan Bisnis Nielsen Indonesia, Yongky Surya Susilo.

Jika tidak terjadi persaingan dengan hypermarket, seharusnya supermarket di Indonesia mampu tumbuh minimal 14,3%, sama seperti pertumbuhan industri ritel pada 2006. Angka kenaikan penjualan ini pun lantaran ada inflasi 6,6%. “Artinya pertumbuhan supermarket sebesar 6,4% hanya karena dipicu kenaikan harga jual barang, bukan pada volume barang,” kata Yongky lagi.

Berdasarkan data AC Nielsen 2006 hingga 2007, untuk supermarket memang mengalami pertumbuhan yang terendah karena tren kebutuhan konsumen lebih memilih hypermarket atau mini market. Pertumbuhan supermarket 2005-2006 hanya mencapai 6,4% dan 2006-2007 hanya 5,5%.

Sejatinya, fenomena tertekannya pertumbuhan omzet supermarket tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di semua negara yang dimasuki format ritel hypermarket.

Pasar empuk
Indonesia adalah salah satu pasar empuk bagi peritel. Tatkala, perusahaan ritel Prancis ini mengalami penurunan omzet di belahan Eropa dan Amerika Serikat, penjualan di Asia, termasuk Indonesia justru menanjak. Tengok saja, pada kuartal pertama 2009 penjualan Carrefour seluruh dunia turun 2,8 persen menjadi 22,71 miliar euro (US$30 miliar) dibandingkan periode sama tahun lalu.

Melemahnya kinerja di pasar Eropa akibat krisis global ini menjadikan pendapatan Carrefour menurun. Penjualan di Eropa, tidak termasuk Prancis, turun 5,9 persen dari kuartal pertama 2009, sementara di Prancis sendiri turun 5,1 persen. Sampai kini 60 persen kegiatan Carrefour berada di Eropa.

Penjualan yang menurun, otomatis menggerus keuntungan bersihnya. Pada 2008, keuntungan bersih Carrefour turun 44,7 persen menjadi 1,27 miliar euro (1,60 miliar dolar), sementara pendapatan sebelum bunga dan pajak turun 16,8 persen pada posisi 2,77 miliar euro.

Perusahaan itu juga mengatakan bahwa dua bulan pertama 2009 mencatat peningkatan tetapi secara menyeluruh, kondisi tidak membaik dan 2009 dijanjikan menjadi lebih sulit. “Kami perkirakan kondisi sulit pada 2009,” kata direktur keuangan perusahaan itu Eric Reiss, belum lama ini. “Konsumsi cenderung belum membaik di banding 2008,” katanya.

Sementara penjualannya di Asia, termasuk toko-toko yang baru dibuka, naik 14,7 persen. Angka inilah yang menolongnya.

Wajar saja, jika hypermarket di Indonesia, termasuk Carrefour, terus melakukan ekspansi. Tentang betapa ekspansifnya hypermarket dapat dilihat dari penjualan properti di Indonesia.

Di tengah krisis global ini, tingkat penyerapan ruang ritel di Jakarta pada kuartal I-2009 mencapai rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pada periode ini tingkat penyerapannya seluas 83.700 m² atau naik 82% dibanding periode sama 2008, dan naik 45 persen dibanding kuartal IV-2008 yang seluas 63.200 m².

Kajian lembaga riset dan konsultan properti Cushman & Wakefield yang dipublikasikan pekan ini menyebutkan, aktivitas transaksi ruang ritel naik pesat. Peningkatan serapan ruang ritel di Jakarta berasal dari penyewa pusat perbelanjaan yang baru dibuka, seperti Pejaten Village, Blok M Square, dan perluasan Plaza Indonesia.

Research and Advisory Departement Retail Sector Cushman & Wakefield Soany Gunawan mengatakan, penyewa-penyewa besar yang membuka toko baru kebanyakan adalah bergerak dalam bidang makanan dan minuman (F&B), hypermart, department store, bioskop, toko buku dan hiburan anak.

Penyewa besar yang menambah jaringannya pada kuartal I-2009 di antaranya adalah Carrefour yang membuka dua toko baru di Blok M Square, dan Emporium Pluit Mall, sedangkan Cinema XXI membuka empat bioskop baru di Emporium Pluit Mall, Plaza Indonesia, Pejaten Village, dan Blok M Square.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menunjukan dari 35% total penjualan ritel di Indonesia yang terdiri dari 90 anggota Aprindo mencakup 7000 outlet, terus mengalami peningkatan. Misalnya pada tahun 2005 mencapai Rp42 triliun, tahun 2006 mencapai Rp50 triliun tahun 2007 mencapai Rp58,5 triliun.

Sampai sejauh ini, Carrefour mengkalim penjualannya hanya mencapai Rp10 triliun. Inilah antara lain yang harus dibuktikan raksasa ritel ini, bahwa tak ada monopoli di sini.

Lepas dari itu, apakah gangguan KPPU ini bakal meredam Carrefour untuk terus ekspansi? Di sinilah, maka Carrefour tampaknya berada di persimpangan jalan, antara memilih terus ekspansi atau mengurangi monopolinya. Miftah H. Yusufpati