Archive for Agustus, 2010

Sulit Memuaskan Wanita

oleh Miftah H. Yusufpati

Berita gembira telah dilaunching toko  penjual suami. Jangan tanya dimana dan kapan, ya. Di toko mewah enam lantai ini para wanita dapat berbelanja suami. Pokoknya tinggal pilih saja. Uniknya, di setiap pintu masuk toko di tiap lantai terpampang tulisan; “Anda hanya dapat mengunjungi toko sekali.”  Selain itu, juga disebutkan deskripsi tentang pria yang dijual.

Memasuki toko ini dapat menggunakan lift. Ada enam lantai dan setiap lantai menyediakan pria yang berbeda. Setiap wanita boleh memilih pria mana pun yang ia suka di lantai manapun. Syaratnya, hanya satu dan sekali masuk saja. Artinya, jika konsumen sudah naik tak boleh turun ke lantai di bawahnya.

Seorang wanita pergi ke Toko Suami itu untuk mencari suami. Di lantai pertama tanda di pintu berbunyi: Lantai 1 – Menyediakan pria yang memiliki pekerjaan dan cinta Tuhan. Tapi perempuan ini ingin mencari yang lebih baik.

Ia memutuskan ke lantai 2. “Lantai 2 – Orang-orang ini memiliki pekerjaan, cinta Tuhan, dan juga mencintai anak-anak”.

Tak juga pas, maka naik ke lantai 3. Tanda lantai tiga berbunyi: Lantai 3 – Orang-orang ini memiliki pekerjaan, cinta Tuhan, mencintai anak-anak dan sangat tampan.”

“Wow,” pikir wanita ini, tapi ia merasa harus naik terus, siapa tahu di atas lebih baik.Dia pergi ke lantai empat dan tanda berbunyi: Lantai 4 – Orang-orang ini memiliki pekerjaan, cinta Tuhan, cinta anak-anak, sangat tampan dan rajin membantu pekerjaan rumah tangga.

“Oh kasihanilah aku” ia berseru. “Aku tidak tahan..!”

Namun, dia tetap pergi ke lantai lima dan tanda berbunyi: Lantai 5 – Orang-orang ini memiliki pekerjaan, cinta Tuhan, cinta anak-anak, adalah sangat tampan, rajin membantu pekerjaan rumah tangga, dan amat romantis.

Dia begitu tergoda untuk memilih di sini, tapi dia memutuskan ke lantai enam dan tanda berbunyi: Lantai 6 – Anda pengunjung ke 10.111.012 ke lantai ini. Tidak ada pria di lantai ini. Lantai ini ada hanya sebagai bukti bahwa perempuan tidak mungkin terpuaskan.

Terima kasih telah berbelanja di Toko Suami. Perhatikan langkah Anda saat Anda keluar dari gedung, dan have a nice day…!

Iklan

Serakah Tak Mengenal Usia

Oleh: Miftah H. Yusufpati

Serakah memang tak mengenal usia. Maka tak usah heran jika menyaksikan pengusaha yang sudah amat renta, masih saja melakukan ekspansi bisnisnya. Para politisi gaek masih saja ingin merebut kekuasaan. Para pejabat tua enggan turun dari jabatannya dan terus berlomba memupuk kekayaan. Akibatnya  di usia senja, mereka bukan hidup damai bersama cucu, melainkan  meringkuk di penjara karena terbukti korupsi.

Ya. Sikap serakah ini berbahaya karena membutakan hati. Korupsi di segala bidang pun terjadi. Dan korupsi tak aib lagi

Mengapa orang-orang tua masih saja cinta dunia dan membutakan diri tentang dekatnya kematian?

Begitulah tema pembicaraan malam tadi, saudaraku.

Saya menjadi teringat kisah tentang Khalifah Harun ar-Rasyid dan nenek tua. Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803.

Suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rashid bertitah agar setiap orang yang telah melihat Nabi Muhammad dalam hidupnya dibawa hadapannya.

Setelah beberapa waktu, seorang nenek amat tua dibawa menghadap Khalifah. Beliau bertanya kepada wanita tua itu, “Apakah kamu melihat dengan mata kepala sendiri Nabi Muhammad?”

“Oh, ya tuanku, saya melihat langsung” jawab wanita renta itu.

Khalifah kemudian menanyakan, apakah dia ingat apa yang dikatakan Rasulullah. Dia bilang masing ingat dan berkata; “Ketika usia tua datang, ada dua hal yang menjadi muda. Pertama, harapan (aspirasi yang tinggi) dan kedua keserakahan akan uang.”

Khalifah mengucapkan terima kasih kepada sang nenek renta, selanjutnya ia memberi sejumlah uang. Nenek itu berterimakasih, selanjutnya diantar pengawal untuk pulang.

Saat dalam perjalanan pulang, nenek ini tiba-tiba meminta dibawa kembali ke hadapan Khalifah.

“Mengapa kau kembali?” Khalifah bertanya begitu melihat wanita tua itu di hadapannya lagi.

“Saya hanya datang untuk menanyakan, apakah uang pemberian tuan untuk saya ini hanya sekali ini saja, apa setiap tahun saya akan menerima?”

Khalifah berpikir sejenak, lalu bertanya, “Bagaimana yang benar, apa yang dikatakan Rasulullah? ”

“Dia memiliki harapan hidup bahkan juga keserakahan akan uang.”

Khalifah berkata, “Jangan khawatir, kamu akan dibayar setiap tahun.”

Nenek itu beranjak hendak dibawa pulang, namun tiba-tiba ia jatuh dan meninggal dunia.***

Mengejar Kebahagian Materi

Malam ini kalian tidak salat tarawih berjamaah. Kalian mengatakan akan salat tarawih di rumah masing-masing, tanpa jamaah. Okelah, kalau begitu. Tapi kalian berbicara bermacam-macam yang muaranya pada uang dan barang-barang berharga. Saudaraku, apakah sebenarnya yang kalian inginkan?

“Kebahagiaan..!” jawab kalian serentak.

“Seberapa banyak materi yang dapat membahagiakan kalian?”

“Ya, banyak?”

“Jika demikian, maka materi takkan mampu membahagiakan kalian..”

Saudaraku,

Saya pernah mendengarkan sebuah cerita tentang duit Rp10 miliar dan kalung berlian. Begini kisahnya; seorang raja memberi hadiah putri kesayangannya berupa kalung berlian yang sangat indah. Suatu ketika kalung itu hilang dicuri. Raja mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari berlian itu tapi upaya ini tak membuahkan hasil. Raja menyampaikan sayembara, siapa saja yang menemukan kalung berlian itu akan diberi hadiah Rp10 miliar. Pengumuman sayembara ini sampai ke pelosok negeri.

Suatu hari, seorang satpam berjalan di sepanjang sungai di samping kawasan industri. Sungai ini benar-benar tercemar, kotor dan berbau. Saat ia berjalan, pria ini melihat kilauan di tengah sungai kotor itu. Ia memandang takjub. “Oh, itu rupanya kalung berlian yang dicari-cari itu,” pikirnya.

Ia memutuskan untuk mencoba mengambil kalung itu. Di benaknya Rp10 miliar bakal ia dapat. Ia mencoba menjulurkan tangannya beberapa kali, tapi gagal. Ia berpikir berkali-kali untuk menjebur ke kali yang kotor dan bau limbah itu. “Sangat berisiko,” pikirnya.

Ia kembali mencoba mengukurkan tangannya dan sejengkal masuk ke sungai yang kotor. Anehnya, kalung itu tak juga dapat diambil. Ia memperhatikan baik-baik benda itu. Masih ada. Ia mencoba lagi mengambil. Gagal. Akhirnya ia frustasi. Celana dan tangannya telah belepotan kotoran tapi gagal mengambil barang berharga itu. Ia akhirnya kembali menyusuri sungai itu dengan langkah gontai. Anehnya, ia masih memikirkan kalung itu. Ia merasa tertekan.

Maka ia memutuskan kembali lagi ke lokasi kalung itu. Kali ini ia bertekad untuk mendapatkannya, apa pun akan dilakukan. Dia memutuskan untuk terjun ke dalam sungai lagi. Dia jatuh, dan mencari kalung itu, namun ia gagal. Kali ini ia benar-benar bingung dan keluar dari sungai dengan frustasi. Bayangan 10 miliar hilang sudah.

Pada saat itu, seorang lelaki tua bertongkat, melihat dirinya yang belepotan air kotor. Pak tua bertanya, apa yang terjadi. Satpam ini enggan mengakui karena ia khawatir harus membagi jika dapat hadiah nanti. Satpam ini diam saja. Tapi Pak Tua tahu bahwa pria ini tengah menghadapi masalah. Sekali lagi orang tua ini mendesak agar satpam  bercerita apa yang terjadi. Ia berjanji tidak akan memberitahu siapa pun. Akhirnya satpam ini  bercerita tentang kalung itu. “Saya mencoba mengambil tapi gagal,” katanya.

Pak Tua mengatakan, “cobalah kamu melihat ke atas, ke arah cabang-cabang pohon, bukan ke sungai yang kotor itu.”

Satpam itu mendongak dan terkejut ketika melihat kalung itu tergantung pada cabang pohon.  Ia menyadari bahwa yang dilakukan tadi hanyalah pantulan berlian yang menggantung di dahan pohon.

Saudaraku, kebahagiaan dunia materi bak sungai tercemar, sungai kotor; karena merupakan cerminan dari kebahagiaan kebenaran dunia spiritual .

Kita tidak pernah bisa mencapai kebahagiaan yang kita cari, tidak peduli seberapa keras kita berusaha dalam kehidupan material. Sebaliknya, kita harus melihat ke atas, ke arah Allah, sumber kebahagiaan sejati. Berhentilah mengejar kebahagiaan di dunia materi, karena kebahagiaan rohani adalah satu-satunya yang dapat memuaskan kita sepenuhnya.***

Menahan Rasa Sakit

Sebagian dari kita menghadapi persoalan hidup dalam penderitaan.  Hidup serba kekurangan dan sering mendapatkan penghinaan. Baru jatuh cinta langsung putus tus. Baru menjabat tiba-tiba tergusur. Kaya mendadak, miskin pun tiba-tiba. Rasa sakit demikian sungguh memilukan. Sebagian dari kita mampu menahan sakit, bahkan tak tampak sedang sakit. Sedangkan sebagian dari kita mengerang, merintih dan memaki.

Suatu hari, seorang guru dan muridnya duduk di tepi danau. Ia tiba-tiba mengambil air dari danau nan jernih dengan sebuah gelas. Selanjutnya ia memerintahkan  muridnya itu memasukkan segenggam garam dalam segelas air itu lalu memita muridnya untuk meminumnya. Belum lagi masuk dalam kerongkongan, sang murid mumuntahkan air itu. Bah……

“Bagaimana rasanya?” tanya sang guru belagak pilon.

“Asin…,” ujar murid sembari meludah berkali-kali.

Sang guru tertawa. Kemudian ia meminta murid itu mengambil segenggam garam lagi dan meminta muridnya menabur garam itu ke dalam danau. Setelah garam ditabur, guru itu mengambil air dari danau lagi dan memerintahkan muridnya untuk minum air itu.

Saat murid itu meneguk air, sang guru bertanya. “Bagaimana rasanya?”

“Segar!” jawab murid.

“Apakah kamu merasakan garam?” tanya guru.

“Tidak…!”

Guru itu lalu menggeser duduknya mendekati muridnya. Ia memegang tangan sang murid dengan kasih dia  berkata, “Rasa sakit dalam hidup adalah garam murni, tidak lebih, tidak kurang. Jumlah penderitaan hidup tetap sama, persis sama. Tetapi jumlah yang kamu rasakan tergantung pada wadah dan volume air yang akan kita masuki garam. Jadi, ketika kamu sakit, satu-satunya hal yang dapat kamu lakukan adalah memperbesar wadah yang akan menampung rasa. Berhentilah menjadi gelas tapi jadilah danau..!”

Lalu, apakah kita termasuk air dalam gelas atau sebuah danau?

Mengejar Wadah

Politik memang menggelitik. Sejumlah orang yang tadinya nenteng-nenteng proposal, mencari proyek tiba-tiba melejit menjadi wakil rakyat. Mereka yang tadinya berkoar-koar di jalan tiba-tiba memakai dasi dan biacara tentang nasib rakyat. Tapi sebagian di antara mereka banyak juga yang apes, tetap menenteng proposal dan meraung-raung di jalanan menyuarakan protes. Mereka bak bajaj tak dapat penumpang, akhirnya berbaris dalam barisan sakit hati. Mereka stres karena tak juga mendapatkan pekerjaan, apalagi jabatan.

Stres memang banyak sebab. Salah satu adalah karena impian, cita-cita dan keinginannya tak tergapai. Pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang juga penyebab lainnya. Para peneliti menyimpulkan  bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.

Begitulah bahasan kita malam tadi. Saya menjadi teringat akan kisah wadah dan isinya. Suatu ketika, beberapa mantan mahasiswa mendatangi dosen sebuah universitas yang pernah mengajarnya. Mereka berbincang-bincang berbagai hal sampai kemudian mengarah pada masalah stres dalam pekerjaan dan kehidupan mereka sehari-hari.

Dosen itu tersenyum. Ia bernjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Ia kembali dengan bermacam-macam cangkir. Ada cangkir terbuat dari porselin, plastik dan  terbuat dari kaca. Cangkir ini sebagian tampak mahal harganya karena sangat indah dan sebagian lagi murah.

Dosen itu mempersilakan masing-masing mantan mahasiswa itu mengambil cangkir untuk mendapatkan minuman bagi diri mereka sendiri.

Ketika semua sudah mengambil cangkir yang telah terisi air sang dosen berkata, “Jika kalian melihat, semua dari kalian mengambil cangkir yang mahal dan indah dan tak menyentuh yang murah.

Ini menunjukkan kalian memang menginginkan yang terbaik untuk dirimu. Masalah dan sumber stress kalian sebenarnya adalah cangkir, karena kalian selalu mengejar cangkir yang lebih baik padahal yang kalian butuhkan adalah air.

“Sama seperti dalam hidup, jika hidup adalah air, maka pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Mereka hanya alat untuk memegang dan menjaga hidup, tapi semua itu tak mengubah kualitas hidup kita..”

“Jika kalian hanya berkonsentrasi pada cangkir, kita tidak akan punya waktu untuk menikmati, rasa dan menghargai air di dalamnya.”

Masalah pertama kita adalah mata yang selalu dilanda kerinduan untuk hal-hal yang orang lain miliki, dan melupakan karunia kita sendiri yang diberikan oleh Allah dan lupa untuk menikmatinya.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. 20:131).

Kedua, kita seringkali mengeluh tentang sakit sepele dan masalah yang kita hadapi di dunia ini, sementara melupakan penderitaan yang sebenarnya yang boleh jadi akan kita hadapi di akhirat kelak lantaran kesalahan dan kelalaian. Kita juga lupa untuk menyadari bahwa kesenangan yang sebenarnya adalah bila kita mampu memenuhi tugas kita untuk meringankan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

“Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS. 20:127)

Ketiga, kita seringkali setelah kemudahan lupa inti tujuan hidup kita, yang merupakan ujian dengan penuh penderitaan untuk mendapatkan pahala dari Tuhan kita di syurga di akhirat. Allah berfirman: “Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS28 : 60).Keempat, kita mengambil kehidupan di dunia seakan langgeng dan menghabiskan semua, seolah-olah kematian adalah untuk ‘orang lain dan bukan aku’, sementara kita melupakan fakta bahwa kehidupan kekal hanya du akhirat. “Tetapi akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (87:17)

Jadi berhentilah mengeluh. Mari kita nikmati dan menghargai hidup kita yang merupakan investasi untuk kebahagiaan di akhirat.

Ali Ibn Thalib bertanya: “Jika diberikan pilihan, apa yang akan Anda lebih suka: kehidupan di dunia ini atau kematian?”

Ali terkejut tatkala seorang pria  membalas: “Saya akan memilih kehidupan di dunia ini karena melalui itu saya akan dapat memperoleh kenikmatan” Tuhanku. Begitulah.

Mengejar Keinginan

Keinginan bagai sumur tanpa dasar. Begitulah, saya pernah bilang pada kalian. Kalian mengangguk setuju. Di antara kalian, dulu, mengiba minta pekerjaan. Teman kita yang lain memberi kalian pekerjaan dengan embel-embel mengingatkan bahwa gajinya kecil. “Nggak apa yang penting saya bisa bekerja,” katamu. Beberapa bulan kamu bekerja. Kehidupan kamu berubah dari seorang penganggur menjadi orang kantoran. Tapi pagi itu kau datang padaku, “Kerja ini banyak tuntutan tapi gaji kecil,” Kamu mulai protes. Kalian tentu masih ingat, saya hanya tersenyum. Dengan sabar saya mendengar kata per kata, kalimat per kalimat yang kau diucapkan.

Saudaraku,

Percayalah, saya mengerti apa yang kalian maksud. Dalam membangun perusahaan memang tak mudah. Kita harus membangun perusahaan menjadi sehat agar karyawan juga sehat. Perusahaan yang sakit tak mungkin membuat karyawan sehat. Perusahaan akan mati bila itu dilakukan. Protes kalian akan sangat lazim dan masuk akal, jika kondisi perusahaan sehat, tetapi tak memperhatikan karyawannya yang sakit. Ini hanyalah perusahaan dengan lima orang karyawan saja. Bersyukurlah, karena perusahaan mini ini dapat menampung kalian yang menganggur. Dapat membuka lapangan kerja. Menghargai kalian untuk bersama-sama membangun masa depan bersama. Baca lebih lanjut…

Luka Amarah

Marah. Langsung saja terbayang tentang mata melotot, wajah merah, otot-otot leher metongol, mulut casciscus nggak karuan. Suara menghardik, membentak, lalu brak, meja digebrak diikuti suara kasar; “bodoh kamu…!”

Jelas, itu bayangan tentang bos kalian di kantor yang sedang marah-marah. Bila sudah demikian, kecerdasannya ditaruh di laci, otak warasnya tertutup emosi, kebijaksanaannya hilang entah kemana pergi. Setan masuk melalui pori-porinya yang terbuka, lalu mengipasi agar ia menarik seluruh darahnya ke umbun-umbun.

Muhammad Al-Baqir berkata: “Sesungguhnya, kemarahan adalah api yang dinyalakan setan dalam hati manusia. Ketika salah seseorang dari kamu marah, matanya menjadi merah, urat lehernya menjadi bengkak dan setan masuk dengan leluasa. Barang siapa di antara kamu khawatir tentang dirinya sendiri karena itu, ia harus berbaring sebentar sehingga kotoran setan dapat dihapus dari dia pada waktu itu.. ” Baca lebih lanjut…