Pada hari ketiga Ramadan tahun ini, kalian telah bercerita tentang kisah sedih dalam menghadapi hidup ini yang serba sulit. Kalian menyajikan persoalan semakin peliknya cara mencari rezki. Biaya hidup kian mahal. Utang bertumpuk dan sebagian dari kalian kena tipu antarteman sendiri. Bertambah usia, persoalan hidup kian rumit. Biaya sekolah anak-anak yang mencekik dan keinginan terus saja membumbung melampaui kemampuan kita untuk memenuhinya.

Saudaraku,

Betapa kita telah mengalami kesulitan hanya untuk kepentingan perut. Kita terus-menerus dituntut untuk memberi makan si kantong kecil ini. Anehnya, meskipun sangat kecil, kita menghabiskan seluruh hidup untuk memberinya makan. Kita berjuang membanting tulang dengan berbagai cara untuk mencari makanan.

Terkadang pikiran kita saban hari tertuju hanya itu itu saja; mencari makan. Bahkan sebagian dari kita harus mencuri atau berbohong atau menggunakan tipuan untuk si perut.

Saudaraku,

Mmengalami lapar perut bagi kita sudah biasa. Dan kini kita juga menyadari bahwa ada juga jenis lain kelaparan yakni rasa lapar jiwa, yang haus akan harta karun. Juga haus akan hidup, haus akan kebijaksanaan, cinta, dan kasih sayang, haus akan melakukan keadilan dan kebaikan, haus akan Kerajaan Allah. Ini adalah kelaparan besar.

Kita telah berpengalaman bahwa jika kita berusaha menenangkan jiwa yang lapar, maka rasa lapar dari perut akan pergi. Jika kita dapat memenuhi rasa lapar jiwa, itu akan menebus kita dari perbudakan dan memberikan pembebasan absolut dari jiwa kita. Masalah kita, kesulitan kita, dan kesedihan kita akan meninggalkan kita dan kita akan mencapai perdamaian. Jika kelaparan jiwa merasa puas, semua lapar lainnya akan berakhir. Tapi kita tidak bekerja terhadap tujuan itu.

Saudaraku,

Jika kita menebang pohon sudah barang tentu kita tidak bisa mencabut pohon itu berikut akar-akarnya sekaligus. Kita harus memotong pohon itu dari pangkal. Selanjutnya kita menggali tanah untuk memotong akar-akarnya. Dengan cara yang sama, untuk mengakhiri jiwa yang kelaparan, kita harus memutuskan akar karma kita dengan hikmah.

Jika waktu terlalu lama untuk mencabut karma kita, maka setidaknya kita harus mencoba untuk memotong keinginan. Setidaknya memisahkan pohon pikiran dan keinginan dari hubungan mereka dengan bumi. Ini akan memakan waktu lama bagi mereka untuk tumbuh lagi, dan sementara itu kita dapat melakukan apapun yang perlu dilakukan. Tapi kita tentu tidak pernah berhenti berusaha mencabut koneksi yang lebih dalam. Jika kita menghapus hanya cabang dan membiarkan akar tetap bertahan dalam bumi, kita tidak akan pernah mampu menyelesaikan tugas kita. Akhirnya, agar karma benar-benar tumbang maka hanya dapat dilakukan dengan hikmah.

Saudaraku,

Kita harus mempertimbangkan alasan rasa lapar dan kemudian mengendalikannya dengan kebijaksanaan. Kita harus memahami rasa lapar dengan cara mengontrol perasaan itu, sebelum kita dibebani rasa lapar lagi. Itulah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian dalam hidup kita.

Saudaraku,

Saya bicara soal ini bukan berarti saya sudah mampu mengendalikan rasa lapar. Saya mungkin lebih lebih buruk dari kalian. Saya sampai detik ini masih merasakan hidup ini hanya sekadar memenuhi perut dan sejengkal di bawah perut. Dan saya masih berjuang untuk menundukkan itu semua…